Jumat, 21 Desember 2007

pesan


ini adalah pesan yang saya dapet waktu liburan 6 bulan lalu...sebelum benar2 yakin diterima di kampus almamater saya...

Rabu, 19 Desember 2007

di sela-sela u-a-s semester pertama

Capek rasanya...tugas belum selesai dan hari ini musti di kumpulin. Padahal, baru nomer 2.... Dooh, sepertinya kuliah lagi adalah penyiksaan tanpa batas. Bukannya malah ngerjain, saya sibuk nge-cek email yang masuk dan malah chatting dengan teman sepenanggungan yang juga merasa capek karena ngerjain tugas. Isinya juga hanya ngomong ngalor ngidul, sesekali ada yang bertanya, "eh, nomer 1d buku acuannya apa aja ya?" Namun, rata-rata hampir semua sadar kalo tugas yang berat ini malah membuat keteteran dan segera mesti dikerjakan. Seperti kata Chitra, "temans, saya mau hening sejenak" atau kata si Tina, "eh, bo, gue off dulu ya, mo ngerjain tugas" atau si ludi yang jarang ngomong hingga si Ariendra (kata si Fikar) ngomong, "Kok sepi?"

Berat-berat...tapi malah sibuk ngeliatin email yang masuk dan sekalian forward kepada cewek-cewek perkasa Kopma. Tangan yang sudah 4 jam nulis jawaban u-a-s yang sepertinya kurang mengeksplorasi seperti selasa siang kemaren malah semakin bertambah capek pas ngetik buat teori-teori yang banyak itu... Susah ya, boo, jadi pelajar; banyak capeknya...

Iseng pun berlanjut karena kepala penat dan pusing mau ngomong apa lagi di jawaban ujian. Saya pun ngecek goodreads untuk melihat perkembangan buku saya yang tidak bertamba-tambah. Duuh, sulitnya menambah bacaan buku di kala stres mikirin ujian yang sepertinya tak kunjung selesai. Iseng-iseng membuka review novel yang saya tidak suka (novel yang tokoh utama pengen saya toyor), saya melihat banyak banget review dari pengguna goodreads yang lain. Lalu, rasanya pengen tertawa sambil guling-gulingan, seperti ikon-nya YM. Ternyata, gak cuma saya yang pengen noyor kepalanya. Tapi banyak banget orang. Hahahahaha. Senang karena banyak orang yang juga gak suka dengan novel itu--dan mungkin pengen sama-sama noyor si tokoh utama.

Nah, sekarang sudah pukul 5 kurang 10--pagi. Jawaban u-a-s belum juga kelar. Milis yang biasanya rame dengan keluh kesah temen2 di waktu uts lalu, malah sepi. Mungkin, udah pada ngerjain atau trauma dengan soal ujian. Entah openbook, entah take home...tetep aja soalnya banyak. Katanya monik, "Gue trauma ama open book. Besok gak mau lagi deh ujian open book." Trus, berarti gak trauma dong ama soal take home? Jawabnya, "Sama dua-duanya...Tapi, gue gak trauma ama soal PG." Seluruh kelas pada saat itu tertawa...Hahahaha...

Semalem, saya tidur karena selasa kemaren adalah hari yang melelahkan. Capek ngerjain ujian yang soalnya beranak pinak dan capek di jalan karena macet, polusi, dan betapa panasnya di dalam kopaja. Sesekali sempet tersadar untuk bangun, tetapi rasa lelah mengalahkan semangat untuk ngerjain tugas. Akhirnya, saya tidur lagi...

Sekarang sudah pukul lima...jawaban nomer 1d dan 2 abcd pun belum saya tulis. Ayam di luar sana sudah berkokok. Saya malah sibuk ngetik posting baru.... Jadi inget omongannya si Andhi waktu di milis pas ngerjain UTS kemaren...

"Bo... ga kerasa ya udah tanggal 7.. udah malem lagi sekarang.. TeKoMas belum
selese.. cucian belum di angkat, rumput belum dipotong, ayam belum di masukin
kandang, rumah belum di pel... huwh.. riwweh sukriweh deh....."

Senin, 10 Desember 2007

menuju u-a-s


Malam menjelang u-a-s, rasanya terlalu lengang. Ada beberapa lembar kertas yang masih perlu dibaca, tetapi malam malah membuat saya ingin tidur.

Minggu, 09 Desember 2007

hujan deras


gerombolan air turun ketika hujan deras.

Sabtu, 08 Desember 2007

doa untuk pak fuad hassan

Setahun yang lalu, saya sempat ditelepon oleh dosen saya. Katanya, apa saya mau membantu Ibu Fuad untuk membalas surat-surat yang masuk? Pada saat itu, saya bilang, mau; berhubung baru lulus dan belum ada kerja tetap yang dapat saya banggakan. Jadilah saya membantu tugas-tugas Ibu Fuad. Ya, selama dua bulan itu saya mondar-mandir ke tempatnya.

Selama membantu Ibu Fuad, saya belajar banyak hal, terutama yang berhubungan dengan filologi. Pada saat itu, saya berpikir, betapa cintanya Ibu Fuad dengan filologi hingga naskah yang sudah digigit rayap dan jamuran tetap disimpan dengan baik.

Dan selama membantu Ibu Fuad juga, sesekali saya berpapasan dengan Pak Fuad. Sesekali ketika beliau meminta dipotongkan apel oleh pembantunya dan sekali pernah ia bertanya kepada saya, "Dek, sudah makan siang?" Kala itu, saya hanya mengangguk, "Oh, sudah, Pak."

Lalu, kabar pun tiba; Pak Fuad meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi ra'jiun. Mungkin, hanya sedikit kesan yang ada, tetapi simpati dapat tercipta. Selamat jalan, Pak...

Melihat Tradisi

Malam menuju Buncit. Sekitar pukul 4 sore, saya meninggalkan rumah untuk mengunjungi sahabat baik yang sering saya kunjungi. Uang dikantong hanya seberapa, tak mungkin cukup. Namun, sang sahabat berjanji akan menghandle masalah keuangan saya untuk sementara waktu. Saya pun merasa beruntung karena ada yang rela memberikan saya kesenangan walau uang benar-benar tak ada dalam kantong. Di tengah jalan, ada sebuah spanduk besar terpasang di tengah perempatan. Spanduk ucapan selamat datang kepada seorang habib besar.

Ketika acara dengan sahabat selesai, saya pun pulang ke Buncit. Hampir pukul sembilan malam. Jalanan antara Depok dan Buncit hampir sepi di beberapa ruas. Hanya ada satu ruas yang cukup ramai di sebuah masjid yang tidak besar di daerah Lenteng Agung. Saya hanya melihat sepintas beberapa kelompok pria muda dan tua sedang berdiri membaca salawat badar. Ada beberapa orang yang terlihat khusyuk. Ada beberapa orang sibuk dengan dirinya sendiri. Lalu, saya melihat sebuah layar besar terpampang di depan masjid, memperlihatkan wajah seorang pria yang suaranya begitu mendayu-dayu menyanyikan doa pujian.

Angkot pun kembali berlalu. Meninggalkan peristiwa itu begitu saja. Seperti malam yang juga akan bertambah malam. Setelah berganti mobil, saya kembali melintas. Kali ini dengan bus S 75 yang lewat di daerah Pasar Minggu. Agak miris melihat keadaan pasar yang tidak pernah terlelap ini. Hiruk pikuk tetap saja terasa walau malam kembali menjepit rongga-rongga dada para manusia. Tidak ada salawat di sana. Sepertinya, salawat tak pernah menyentuh tempat ini. Bus kembali mengajak saya melewati jalan-jalan yang biasa ia lewati. Setelah melewati pasar, jalan pun kembali sepi. Sama seperti saya melintasi daerah Lenteng Agung.

Lalu, mata saya kembali ditarik oleh beberapa rombongan orang. Mereka kebanyakan pria, berpakaian koko putih dengan peci putih di kepalanya. Mereka mengendarai motor dan melintasi jalan-jalan. Ada beberapa yang berhenti sambil melihat ke satu arah, seperti seorang yang tengah menanti. Bahkan, ada rombongan anak-anak kecil berkendaraan sepeda yang juga ikut menanti. Saya teringat spanduk yang dipasang di perempatan jalan tadi. Sepertinya akan ada penyambutan besar datangnya seorang habib besar.

Saya bertanya-tanya, seperti apakah habib ini hingga banyak sekali orang yang menanti seolah-olah ingin menonton konser Evanescence di Perancis. Mungkin, seorang yang sangat mulia hingga banyak pengikutnya. Menurut pengamatan saya, seorang pandai agama itu pasti memiliki banyak pengikut yang menginginkan kemulian dan karamah dari si habib. Saya jadi teringat Syamsuddin Al-Sumatrani yang begitu akrab dengan saya selama satu tahun saya menyusun skripsi. Syamsuddin pasti memiliki karamah yang lebih besar dibanding habib ini karena Syamsuddin adalah penasihat kerajaan yang seorang ulama. Ia juga seorang sufi yang pastinya kemuliaan dan karamahnya lebih banyak dibanding habib ini. Karamah Syamsuddin terlalu besar hingga ajarannya dianggap menyesatkan. Menurut saya, bukan Syamsuddin dan ajarannya yang sesat, hanya orang-orang yang mengartikan ajarannya itu yang sesat. Baik muridnya yang sok tahu dan si ulama yang membakar seluruh karyanya.

Saat ini, begitu banyak orang yang sok tahu yang mengartikan berbagai pemikiran, baik dari kitab suci maupun dari pemikiran-pemikiran ulama. Ironisnya, orang-orang yang sok tahu ini mengajarkannya kepada banyak orang yang ditelannya mentah-mentah. Di satu sisi, ada sebuah bentuk kekuasaan yang selalu menghakimi tanpa dasar adanya rasa kekeluargaan. Jadi, slogan Bush pun mungkin ikut disuarakan di sini, “Anda ikut kami adalah kawan, Anda tak ikut kami adalah lawan. Ketika keduanya disatukan, muncullah bentuk kekonyolan dalam kehidupan. Hingga banyak yang bingung, mana yang harus dipegang? (Ah, kenapa saya menjadi kehilangan sosok Syamsuddin?)

Saya tidak tahu bagaimana sosok habib besar ini. Apakah ia mirip seorang Syamsuddin? Apakah mirip seorang yang menghakimi? Apakah mirip seorang yang sok tahu?

Sayangnya, bus yang saya tumpangi begitu cepat mengantar saya pulang hingga saya belum sempat melihat sang habib lewat. Namun, saya sempat menoleh sesaat, menoleh ke arah jalan yang saya lalui. Di pinggir jalan itu masih banyak orang-orang yang berdiri dan menanti sang habib. Dengan pakaian putih-putih, mereka berdiri di antara hembusan angin malam. Muda, tua, kaya, miskin, besar, kecil; semua menoleh ke satu arah dan menanti, seperti sebuah dentang pintu Padang Masyhar. Dan inilah tradisi di antara lampu-lampu kota yang terus menyerap waktu.

Kastilku, 3 Juni 2007, 3:21 PM

Rabu, 05 Desember 2007

melihat dari balik tirai


ketika pak dosen datang


Ketika pak dosen datang, kami seperti biasa. Penuh senyum yang selalu mengembang tiap kali pengajar datang. Kami hanya ingin bersikap ramah agar sang pengajar tahu bahwa kami ini murid-murid yang baik. Sayangnya, sesuatu terjadi hingga kami tak lagi dapat tersenyum.
Ada berita mengenai ujian yang lalu ketika ujian baru akan tiba. Hanya sekadar pemberitahuan yang membuat kami tercengang bersama-sama. Tak ada tawa kali itu. Senyum pun hampir tak menghiasi wajah kami. Di pikiran kami hanya satu, "Apakah kami salah satunya?" Jawaban tetap tak terjawab hingga bel pulang berbunyi. Tak ada konsentrasi di antara pengarahan yang diberikan, semuanya terpaku pada pikiran yang sama.
---
Lalu, seorang sahabat saya menangis. Katanya, "Mungkin, saya adalah salah satunya." Saya hanya diam. Tak bisa berbuat apa-apa walau hati dan pikiran saya juga tak tentu arah.
---
Pengajar pun berlalu ketika bel berbunyi. Ia pergi bersama kecemasan di antara pikiran kami...dan saya.

Senin, 03 Desember 2007

Kematian

-Buat Nyak-

Malam ini, kematian pun tiba
Tidak datang dengan drum yang ditabuh
Atau pesta pora
Tak ada suara ribut burung kematian
tak ada angin yang mengikuti jubah sang pencabut nyawa
tak ada apa-apa
tenang. Di langit malam yang berbintang

kali ini, seorang perempuan terbujur kaku di penghujung usia
sudah lewat waktumu, begitulah seharusnya
kata pencabut nyawa ketika menarik ruh yang nyangkut di tenggorokan. Sudah lelah berkeliling lebaran. Sudah cukup maaf. Sudah cukup hidup.

Tangis tak terdengar ketika sang pencabut nyawa singgah
Perempuan itu diam, pasrah
dan bau kesturi pun ikut mampir
Membuat suasana menjadi tenang, khusyuk
Sebuah ritual terjadi
Alam pun menjadi saksi
Nyawa yang bisu melayang pergi

Telepon berdering.
“Nenek telah pergi.”
Lalu, tangis pun merebak.

Buncit, 281006

menjelang maghrib


ketika menjelang maghrib, langit begitu mendung dan gelap
jadi ingat diary Doraemon...
kala langit mendung, ada nenek sihir yang sedang murka

Minggu, 02 Desember 2007

si tokoh utama

Waduh, rasanya badan pegal-pegal seharian menatap monitor komputer. Pekerjaan rumah alias PR belum selesai dan besok sudah mulai kuliah lagi. Huh...banyak buku yang belum sempet dibaca karena setiap pulang kuliah ingin rasanya cepat-cepat tidur. Lusanya saya mau presentasi yang membuat saya selalu gemetaran. Minggu depannya saya sudah mulai ujian akhir semester. Wuiih...waktu rasanya cepet banget berlalu. Padahal, akhir Agustus kemaren, saya selalu gak bisa tenang dan dada selalu deg-degan, apalagi pas masuk kuliah. Untungnya, teman-teman sekelas tidak "seseram" yang saya bayangkan. Akhirnya, saya bisa juga bernapas lega di sela lari maraton karena tugas yang menumpuk. Berat memang, tapi tak apa, demi cita-cita.

Hari ini, ketika sebagian PR sudah saya kerjakan, saya iseng mencari-cari hiburan. Biasanya nonton tipi atau main internet. Namun, berhubung malas nonton tipi yang acaranya selalu monoton dan internet yang sedang offline, saya mengambil buku yang saya pinjam dari teman saya beberapa bulan yang lalu. Sebagai anak sastra, saya merasa terpanggil untuk membacanya karena buku itu banyak dipuji orang dan banyak dibaca orang. Jadi, tak heran kalau ada tulisan Best Seller di depannya.

Di suatu waktu, sahabat saya berkata, "Buku itu tidak terlalu bagus, kesan mengguruinya terasa banget di setiap lembar-lembar tulisan itu." Jadi, ia pun enggan membaca cerita itu. Di sisi lain, saya penasaran dengan buku itu, seperti apakah kesan menggurui yang ada di sana? Lalu, saya tanya ke sepupu saya tentang novel itu. Katanya, "Aduuhhh, kak, ceritanya baguusss banget." Kala itu, saya hanya tersenyum karena saya lebih percaya kepada sahabat saya yang memang ahli sastra dan tidak pro siapa-siapa. Nah, ketika saya masuk kuliah di ilmu sosial, saya bertanya kepada teman yang pernah membacanya. Katanya, "Ceritanya bagus!" Pada saat itu, saya hanya mengangguk. Jawaban teman yang ahli sastra itu terngiang-ngiang di kepala saya.

Karena penasaran, saya mulai membaca buku itu. Hmm, deskripsi awal yang sangat bagus untuk sebuah cerita. Lalu, mulailah muncul kata-kata yang dilontarkan sahabat saya yang ahli sastra dan tidak pro kepada siapa-siapa. Menurut saya, buku akan dianggap bagus jika si pembacanya adalah pembaca yang pro terhadap satu hal tertentu. Jika kita tertarik terhadap seuatu, kita pasti akan membacanya dengan hati yang menggebu-gebu. Namun, saya sependapat dengan sahabat saya yang ahli sastra dan tidak pro kepada siapa-siapa. Cerita itu banyak menggurui. Ajaran-ajarannya terlalu gamblang ditampilkan. Akan tetapi, saya tidak seperti sahabat saya yang ahli sastra dan tidak pro kepada siapa-siapa itu, saya tetap melanjutkan cerita walau dengan beberapa halaman yang perlu saya lompati karena cerita terlalu membosankan. Begitu banyak gambaran keseharian tokoh utama yang digambarkan dengan sangat-sangat detail sehingga saya perlu melompat ke halaman-halaman berikutnya, seperti hari ini si tokoh utama membuka pintu, kemudian menutup pintu, lalu masuk kamar, lalu tidur sebentar, lalu mandi, lalu..., lalu..., lalu...

Saya agak penasaran juga dengan sang tokoh utama. Apakah ada? Mungkin ada, mungkin juga tidak. Atau, mungkin semua mahasiswa Indonesia di Kairo juga seperti dia? Bisa saja. Si tokoh utama itu digambarkan sebagai sosok yang baik, tampan, cerdas, terpandang (karena sedang S2 dan akan lanjut S3), mempunyai perencanaan hidup yang matang, sayang kepada keluarga, sangat meneladani ajaran-ajaran Nabi, memperlakukan perempuan dengan terhormat, membela kebenaran, dan masih banyak lagi kesan positif yang ada dalam diri si tokoh. Seperti membaca hikayat-hikayat lama yang menampilkan tokoh utama sebagai tokoh yang "putih" yang tak ternoda sama sekali. Empat perempuan yang berbeda-beda latar belakang begitu jatuh cinta kepadanya dan ingin menjadikan dirinya suami yang tercinta. Mulai dari perempuan Indonesia yang ditinggal kawin oleh tokoh utama. Cinta gadis ABG yang dipaksa ditolak oleh tokoh utama. Hingga si tokoh utama yang memilih seorang perempuan Jerman yang berdarah Turki dan Palestina. Lalu, dicintai seorang perempuan Mesir yang berlainan agama dan akhirnya menikahinya (setelah seagama dengan tokoh utama). Wah, pasti si tokoh utama sangat mempesona karena dikejar-kejar empat perempuan dalam satu waktu dan memiliki dua istri dalam jeda waktu yang tidak terlalu jauh. Hebat sekali!

Jika saya jadi temannya si tokoh utama, saya akan berkata, "Ah, bisa aja lu!" sambil menoyor kepalanya dan tertawa.