Jumat, 11 April 2008

Mr. Angry


Selalu saja ada kekesalan itu. Hari ini pun dia datang dan mengetuk pintu depan rumah. Saya tidak mau menyambutnya. Untuk apa? Karena ia akan membawa kutukan ke dalam jantung saya lagi. Saya pernah merasakan itu. Dan saya tidak mau merasakannya lagi. Takut. Saya takut kebahagiaan saya terserap oleh rasa kesal itu. Padahal, orang-orang selalu mengatakan bahwa saya begitu bahagia. Hampir setiap saat dan setiap waktu.

Namun, dengan angkuhnya, ia datang. Cukup terhormat dengan mengetuk pintu. Biasanya, ia akan masuk dengan menyelinap ke dalam lorong-lorong tersembunyi saya. Aduh, apa yang mesti saya lakukan? Padahal, saya sudah melakukan ritual menolak bala. Setiap hari, setiap saat, jika saya ingat, selalu ada kata-kata itu yang terlontar, “Ya Allah, berilah hamba-Mu kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan dalam hidup di dunia dan akhirat.” Apa ritual itu tidak cukup hingga saya harus melakukan banyak ritual?

Suara ketukan itu kembali terdengar. Cukup terhormat cara ia mengetuk pintu. Saya pun tak tahan mendengar. Saya pun melangkah ke pintu depan. Memutar kenop pintu dengan pelan. Sangat pelan hingga tak bersuara. Lalu, pintu terbuka, mula-mula terbuka sedang saja, lama-lama terbuka lebar.

Mr. Angry berdiri di hadapan saya. Ia tersenyum dengan tatapan dingin. Tak ada keramahan di balik senyuman itu. Lalu, ia berkata dengan tenang, “Ini sudah nasibmu, Nduk. Sudah nasib.”

Lalu, saya menangis sejadi-jadinya.

Kastil de Great, 28 Nov 2006