Selasa, 29 Juli 2008
Mendadak Model
“Kalian mau jadi model, gak?” tanyanya tiba-tiba.
Jujur, saya sempat terkejut mendengar kata ‘model’ karena dalam bayangan saya, model adalah sosok yang sering difoto-foto di majalah dan cantik luar biasa walau wajah penuh dempulan. Lalu, Ririn melihat ke arah saya dengan ragu-ragu, saya juga melihat ke arah dia dengan ragu-ragu. Kalau difoto, saya sih tidak masalah karena foto biasanya cuma buat lucu-lucuan. Kalo cakep syukur, kalo nggak ya foto itu disimpan jauh-jauh dari pandangan saya...hehehehe banci foto. Nah, ketika diminta menjadi ‘model’, saya berada pada keadaan yang tidak cantik. Sangat berantakan dan terlalu santai (walo itu ciri khas saya). Tapi kan kalo ada pemberitahuan sebelumnya, saya bisa bercantik-cantik ria. Makanya, saya agak ragu-ragu dengan permintaan itu. Eh, Mr Boski malah mendorong kami untuk ikut pemotretan. Ya sudah...selain bisa beranjak bentar (abis capek, duduk mulu di depan si nyonya tua—sebutan untuk komputer di kantor saya).
Mulailah saya diajak ke ruang entah apa—tempat berkumpul reporter dan fotografer sepertinya. Mencari si juru foto ke sana ke sini (sebenarnya yang nyari adalah my agent—redaktur yang menawarkan kami untuk menjadi model), tapi tak ketemu dengan yang bersangkutan sehingga kami diminta menunggu dulu di perpustakaan. Lumayan, melihat buku-buku di perpustakaan yang belum sempat saya jelajahi.
Lalu, kami pun dipanggil oleh my agent untuk langsung ke lokasi pemotretan. Sebenarnya, bukan studio pemotretan, hanya sebuah ruang rapat yang mengingatkan saya ketika pertama kali diwawancara. Huuh...wawancara yang bikin desperate karena mirip sidang skripsi.
Pemotretan pun segera dimulai. Kata si juru foto, saya dan Ririn harus mengucilkan si Fajar yang menjadi fokus utama foto. Istilahnya jadi Miss Gosip-lah. Sebenarnya, pose seperti itu gampang, apalagi ada beberapa foto saya dengan berbagai ekspresi yang sinis dan konyol. Masalahnya, pintu rapat itu terbuka dan saya harus pose di antara para redaktur yang bolak-balik. Jadilah, saya dan Ririn menjadi objek tontonan. Karena begitu, saya tak berhenti tertawa saking nervousnya dan konyolnya akting saya itu. Setelah selesai, saya sempat melihat hasilnya di kamera yang canggih itu. Hahahahaha...Kacau.
Karena pemotretan ini bukan untuk cover majalah fashion, tentunya foto yang tampil di surat kabar itu tak melewati proses pengeditan. Saya sih berharap, wajah, rambut, dan bentuk badan saya bisa diubah dulu menjadi lebih ramping dan cantik. Tak tahunya....jeng....jeng...saya malah mendapati foto diri saya yang rambutnya berantakan dengan badan yang terlihat besar. Lalu, di bagian akhir caption tertulis, “diperagakan oleh model”. Huahahahahaha...’model’? Tak terbayang kalau saya yang berantakan dan besar ini menjadi model.
Mungkin bisa juga yaa..seperti yang dibilang oleh my agent, “Nggak papa yaa...untuk meniti karier.” Saya langsung terbayang CV saya yang akan tertulis, “Pengalaman Kerja: Model di salah satu koran harian.”
Senin, 28 Juli 2008
Sekilas The Dark (K)Night
Saya, enchit, puti, dan sopan akhirnya jalan ke Setiabudi yang lebih dekat dari kampus dan tempatnya yang oke-lah(tempat orang-orang kantoran makan siang soalnya). Sebenarnya, 21-nya tetep aja sama, gak ada beda. Karyawannya seragamnya sama, suasananya juga sama, apalagi kursinya yang juga sama. Nggak tau kenapa, 21 itu selalu jadi pilihan temen-temen di pasca. Saat itu, kami memutuskan nonton Batman. Uuuh...padahal saya berharap nonton Meet Dave karena satu-satunya film yang posternya si tokoh cerita tertawa lebaaaaaaaaaaar. Selebihnya, ada si Batman yang dengan logo trademarknya, si Angelina Jolie yang tangannya kurus banget sembari megang pistol, lalu ada tangan yang keluar dari mata yang judulnya The Eye (ngeliat poster film-nya aja sudah membuat saya merinding). Kalau nggak salah, film The Eye ini sebelumnya pernah dibuat oleh orang Asia dengan judul yang sama, tapi film Asia-nya agak kurang gereget. Gimana dengan film versi Hollywood? Ih, dibayarin sekalipun, saya nggak akan mau nonton film horor, bahkan beli DVD-nya.
Tibalah pintu teater dibuka. Seperti biasa, kami masuk ke dalam ruang itu dan duduk di bangku yang telah ditentukan. Iklan banyak berseliweran di awal permulaan film. Bahkan, si Sopan menyangka kalo iklan salah satu produk motor akan menjadi kendaraan yang digunakan oleh si Batman. Untungnya, nggak. Kalau iya, waah Batman bisa seperti jagoan saya, si Satria Baja Hitam dengan motor kerennya. Hehehehe...
Saya sempat ngomong ke enchit, “Kenapa sih judulnya The Dark Night? Kalimatnya nggak efektif ya? Udah malam, gelap lagi...Kalo malem kan pasti gelap.” Saya menggerutu kepada enchit yang mengiyakan saja. Dia cuma menanggapi ocehan saya dengan bilang, “Biar ada kata-kata kiasannya kali...Biar keren.” Sebenarnya, ocehan saya itu bodoh sekali. Entah karena saya nggak bisa baca atau layarnya yang gelap. Judulnya tentu bukan The Dark Night, tapi The Dark Knight. Ironisnya, kebodohan ocehan saya itu baru saya sadari dua minggu sesudahnya setelah melihat review dari internet. Dodol!!!
Sepertinya memang saya tidak pantas menonton film action, apalagi horor. Baru permulaan film, saya sudah menutup mata saya dengan tas. Padahal, adegannya tembak-menembak. Apalagi ketika si Joker (menurut saya, film ini hidup karena si Jokernya keren abis) melakukan manuver-manuvernya yang membuat saya sering kali tutup mata. Aah...tak sanggup melihat kesadisan itu. Sebenarnya, nggak sadis-sadis amat, buktinya si Puti dan Sopan masih tetep melek melihat adegan per adegan. Lebih-lebih Puti yang tidak akan berbicara selama film diputar. Tapi, lebih baik saya yang tutup mata daripada si enchit yang nendang-nendang saya (dipikirnya saya bantal kali yee?) saking gemesnya sama si Joker. Hingga film berakhir, saya pun bernapas lega karena film berakhir dengan cukup baik dan bagus, terutama si Joker yang membuat saya menutup mata.
Setelah hitung-menghitung jam masuk dan keluar, akhirnya saya dan enchit berkesimpulan, “lumayan bayar 15 ribu dengan film yang berdurasi cukup panjang.”
Rabu, 23 Juli 2008
mendongak
Selasa, 22 Juli 2008
Menuju Kampus
Aaaahhh....saya sempat teriak tertahan, menggugat pagi yang mencuri waktu tidur saya. Sial!!!
Saya bangkit dari tempat tidur yang nyaman menuju kamar mandi. Guyuran pertama membuat saya melek, betapa dinginnya air pagi itu dan menyegarkan. Tak heran jika si Anggun selalu bilang, “Kalau punya impian, jangan tidur lagi. Tapi, mandi atau ngapain kek buat wujudkan mimpi itu.” Saya punya mimpi banyak, tapi apa bisa terwujud dengan mandi pagi seperti ini? Hehehehehe. Pertanya konyol. Kalau gak berusaha, ya mana bisa terwujud.
Saya berangkat dari rumah 30 menit sebelum bel masuk alias pukul 8 kurang 30 menit alias 7.30. Saya tahu, saya pasti telat lagi. Hehehehehe, telat itu sudah menjadi kebiasaan saya sejak kuliah semester pendek. Bahkan, temen-temen menjuluki saya, “Miss Telat.” Saya, yang dijuluki, Cuma nyengir-nyengir gak jelas. Hahahahahaha.
Karena saya memang niat telat, jalan yang saya tempuh menuju kampus juga memperpendek jarak. Saya malah memilih jalan memutar. Buncit, Blok M, Sudirman, Menteng, Salemba. Seharusnya, saya bisa langsung ke Menteng dan menunggu bus selanjutnya di sana. Namun, akhir-akhir ini saya senang memerhatikan gedung-gedung pencakar langit yang terbentar dari Sudirman—Thamrin. Di sekitarnya pasti banyak eksekutif muda yang berlalu-lalang. Dan, melewati lajur itu seolah-olah mengusik-usik mimpi kecil saya.
Dulu, ketika saya kecil, saya sempat berpikir, “Pasti ketika besar nanti, saya akan bekerja di salah satu gedung-gedung pencakar langit.”
Nyatanya, sekarang saya bukan bekerja di gedung pencakar langit. Bahkan, saya bekerja bukan di salah satu daerah perkantoran walau tetap daerah segitiga emas. Tapi, saya merasa bukan karena mimpi saya tak tercapai. Saya malah asyik-asyik aja dan bersyukur kalau saya bekerja bukan di kawasan perkantoran seperti itu. Bayangkan, tiap pagi dari Senin sampai Jumat, jalan menuju daerah itu selalu macet. Bahkan, pulang pun juga harus mengantre dengan kendaraan lain di daerah itu. Weleh-weleh, pasti banyak yang tertekan dengan kemacetan tiap hari. Heran juga yaa...kenapa bisa macet seperti itu? Apa karena penduduknya banyak? Apa karena mobilnya bertambah banyak?
Belum lagi transjakarta, yang semakin lama semakin pengen meledak aja. Memang seeh, pendapatan perusahaannya bertambah seiring banyaknya penumpang yang beralih ke busway karena jalannya disterilisasi. Tapi, sepertinya, busnya tidak semakin bertambah. Tetep aja ada penumpang yang gak keangkut di setiap terminal, mesti nunggu 5 kali bus lewat. Kalau beruntung, 3 kali juga bisa, tapi sangat terhimpit di dekat pintu. Dan, semakin lama, penumpangnya semakin bertumpuk di terminal. Lama-lama, busway mirip kereta. Mungkin, kalo kereta, penumpangnya masih bisa gelantungan atau naik di atas hingga gak terlambat tiba di tujuan. Kalo busway mesti nunggu bermenit-menit. Kalo mau maksa masuk mesti nerima gerutuan dari penumpang lain dan petugasnya. Hehehehehehe....
Jadi, saya mencoba alternatif lain untuk jalan di Jakarta yang macet ini. Tapi, kalo pulang dari kampus, saya tetep menggunakan busway karena melihat kondisinya yang cukup nyaman dan tidak takut terlambat.
Minggu, 20 Juli 2008
Nonton Kabaret
Kemudian, saya ditelepon lagi untuk mengatur tanggal syuting. Okeh. Tanggal kembali ditetapkan dan saya kembali umumkan di milis. Responsnya hanya beberapa orang saja. Saya telepon ke beberapa temen yang mungkin bisa diajak, tapi gak bisa. Si Iwied dan Gita berpetualang di Gunung Gede lagi. Si Andri sedang sibuk membantu Ibunya. Si Endah yang tertarik dengan acara ini sedang mengantar Ibunya operasi gigi. Akhirnya, dengan janji 3 orang, jalanlah saya dengan dua teman saya, Ingke dan Fani, menuju Kedoya.
Waaakkss...Kedoya jauh juga apalagi dengan jalan yang kanan kirinya truk gede-gede. Sempet nyasar dan mesti muter balik. Dulu seeh, pernah ke Media Indonesia, tapi udah lama dan lupa. Akhirnya, nyampe juga ke Metro dari Salemba. Wuiih...jauh juga dan telat dari waktu yang ditetapkan, jam 3. Dan, ternyata....acaranya blm dimulai booo....dan masih harus nunggu-nunggu. Si Ingke kesian, dia yang nyetir, dia yang paling lapar karena belum makan nasi. Untung, dikasih snack ama yang koordinasi acara itu. Kalau nggak, dia bisa pingsan. Hehehehehe....

Pas Ingke nelepon, saya dan Fani ke toilet. Bukannya segera keluar, saya dan Fani malah foto-foto. Hehehehe...banci foto. Katanya, pencahayaannya bagus booo....
Setelah keluar dari toilet, kok sepi? Gak ada yang nunggu-nunggu? Kata petugasnya, “Langsung aja ke lantai 3, mbak.” Dan, di lantai 3, mulailah kami syuting. Saya menyesal tidak membawa jaket, padahal dingin banget di dalam studio. Menunggu-nunggu dimulai syuting. Dan, keluarlah para anggota teater koma. Waah...udah lama nggak ngeliat teater koma secara langsung. Terakhir, saya ngeliat teater koma main pas semester 3 S1, mungkin sekitar tahun 2002, ketika mereka membawakan lakon yang berjudul Roman Yulia. Kala itu, anggota teaternya banyak, tapi yang di Kabaret hanya sedikit anggota.
Melihat Kabaret seperti melihat pertunjukan teater. Ciri khas Teater Koma-nya ada. Lucu dan kritis. Para pemainnya memang pemain teater yang bisa akting. Bukan pemain-pemain sinetron yang kejar tayang. Saya selalu ketawa setiap kali Butet beraksi. Lucu banget dengan mimik wajahnya itu dan si Jajang yang mirip dengan Cincha Loura. Syuting selesai sekitar pukul sembilan. Dapet snack, makan malem, dan suvenir bukunya Nano Riantiarno (sayangnya, gak sempet minta tanda tangan sama Pak Nano).
Dan, Fani sempet foto dengan kamera studio karena sudah menjadi obsesinya yang terpendam.

Pas keluar, ngobrol sebentar ama Mbak Dessy. Trus, berlanjut foto sama Pak Butet. Hehehehehe...(foto koleksi artisnya Ingke bertambah, hahahahaha).
Pulangnya, jalanan tetep macet (padahal, udah pukul setengah sepuluh) dan truk-truk besar di kanan kiri. Untungnya, si Ingke, calon pengemudi antarkota antarprovinsi, sangat lancar menyalip kanan kiri. Hehehehe....
Kamis, 17 Juli 2008
Start in July

Mulai dari kehilangan dua orang yang saya miliki dalam jangka waktu seminggu. Saya stres (tentu saja), apalagi dibarengi dengan tugas kuliah yang menumpuk karena saat UAS dan pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan. Dan, begitu lama saya merenung tentang kehilangan mereka. Ironisnya, the next day dari hari kehilangan itu adalah hari ulang tahun saya. Bagaimana bisa saya menikmatinya di saat saya sedang sangat berduka? Pada hari lahir saya itu, ucapan banyak mengalir, entah lewat SMS, friendster, atau facebook. Saya tersenyum dan sangat-sangat terima kasih. Walau saya hanya membalas beberapa, bukan berarti saya tidak peduli lhooo..... Saya senang banget. Bahkan, jauh-jauh yang di Leiden sana sampai-sampai ngucapin selamat ulang tahun. Hehehehehe....Belum lagi yang SMS-nya terpending karena untuk sementara waktu nomer saya berganti hehehehehehe...(Bukan sombong atau melarikan diri, hanya saja mubazir kalo nomor yang saya beli lumayan mahal gak digunakan).
Mei. Bulan yang selalu saya tulis sebagai the amazing month menjadi bulan yang aneh, penuh ancaman, dan mencekam, seperti film horor. Mungkin, tiap hari saya bisa teriak-teriak karena urat syaraf saya tegang. Akhirnya, saya pun dipijat dan dibekam, mengeluarkan unsur-unsur negatif dalam diri saya dan menarik unsur positif yang ada di alam semesta. Hingga lewat Juni dengan berbagai tumpukan tugas magister yang membuat saya menjadi orang yang terisolasi. Ditambah lagi dengan pekerjaan kantor yang selalu bertumpuk itu. Membaca satu per satu naskah yang siap masuk dan dicetak. Sepertinya, saya butuh liburan. Tapi, kuliah semester pendek yang saya ambil dan jam kerja yang begitu panjang tidak mengijinkan saya untuk menikmati liburan.
Saya mungkin merasa terjebak dengan situasi yang saya alami. Tapi, yaa...seperti kata Leann Rimes, "Life goes on." Trus, Ace of Base yang bilang, "take a walk in the park when you feel down, theres so many things there thats gonna lift you up, see the nature in bloom a laughing child, such a dream, It’s a beautiful life." Bahkan, kelompok Five yang udah bubar pun berkata, "get on up when you’re down, baby take a good look around, i know it’s not much, but it’s okay, keep on moving anyway." Lalu, saya pun bisa tersenyum kembali dan merasakan cinta di mana-mana.
12 Juli 2008, 14:09






































