Senin, 29 September 2008

Doa untuk Pak Bakir

Minggu malam, saya menyapa Ingke yang lagi online via YM. Karena iseng di tengah kesuntukan yang ada di sekeliling saya. Tiba-tiba, Ingke langsung bilang seperti ini kepada saya, “Lur, dah tahu belum kalau Pak Bakir meninggal?” Pada saat itu, saya cuma tercengang dan hanya balik bertanya dengan nada keterkejutan, “Ha?” Dan, mulailah pertanyaan-pertanyaan keluar, seperti meninggalnya kapan? Kenapa? Rumah dukanya di mana? Dan sebagainya. Ingke pun nggak tahu banyak mengenai detail informasi yang diterima. Ia hanya mendapatkan kabarnya dari phone3.

Saya ingat kuliah dengan Pak Bakir. Nggak lama, baru-baru ini saja, sekitar bulan Mei atau Juni, beliau masih mengajar saya. Beliau adalah dosen FEUI yang ngajar di FISIP untuk mata kuliah Ekonomi Media. Ada beberapa teman yang ngambil mata kuliah itu. Dan, biasanya, saya telat masuk kelas beliau ini. Makanya, si Tina menjuluki saya Miss Telat.

Menurut saya, Pak Bakir punya caranya sendiri untuk mengajar. Saya paling senang mendengar kisah beliau, terutama ketika beliau membeli mobil pertamanya di Amerika sana. Suatu kali, Pak Taram masuk ke dalam kelas dan menawarkan beliau minum. Lalu, beliau bilang, “Puasa, dong....bukan apa-apa, sudah dekat kubur.” Lalu, beliau tertawa yang diikuti tawa juga oleh kami.


Yang paling saya ingat dari Pak Bakir ketika beliau memberikan donat kepada kami di kelas Ekonomi Media. Katanya, beliau ulang tahun, makanya dia membawa donat ke kelas. Kuliah selesai, kami pun foto-foto bersama dengan kamera Pak Ibnu. Ketika kami sedang foto bareng itu, teman saya Enchit mendengar Pak Bakir berkata setelah selasai kami foto bersama, “Alhamdulillah, mungkin ini hari terakhir saya.” Saya yang mendengar cerita itu hanya berujar dalam hati, “Semoga beliau diberi umur panjang,” karena saya baru saja kehilangan kakek dan bude saya pada bulan Mei yang membuat merana sekali.

Tak tahunya, Ramadhan ini beliau pergi. Padahal, beberapa hari sudah Lebaran. Hmm, semoga amal ibadahnya di terima Allah SWT. Amien.

Rabu, 24 September 2008

my beautiful niece


Jumat, 19 September 2008

Banjir McDonald


Pagi tadi, sebenarnya saya agak bete. Apalagi, abis bayar provider internet. Uhh, bikin emosi semakin naik. Tapi, yang namanya emosi negatif itu tidak akan baik jika ditularkan ke yang lainnya. So, ketika sampai rumah barbie, saya malah tertawa-tawa, apalagi si Nona Kompi sudah mulai dioperasikan dengan baik. Mengenai si Nona ini, saya tukeran sama Miss Leci karena dia mau yang kena AC, sedangkan saya bete deket-deket AC karena AC selalu mengelilingi saya. Si Nona Kompi sudah bisa langsung dijalankan ke server terminalnya. Jadinya, saya nggak perlu save, ngeluarin, ngasih ke komputer lain, baru dikirim. Iih, bikin bete dan banyak naskah yang keteter karena ngantre ngirim. Di sini, saya seneng banget karena si Nona sudah bisa beroperasi seperti komputer yang lain.

Biasanya, kalau Maghrib menjelang, rumah barbie pasti ramai dengan para penghuninya yang akan berbuka puasa. Menu kali ini adalah McDonald. Ini kali keduanya rumah barbie memberikan jatah McDonald. Biasanya, selalu ada nasi box yang menunya oks banget. Wah, saya seneng doong, kan jarang-jarang makan McD gratisan. Pernah sekali McD gratisan dan kali ini McD lagi. Widiih..berkah Ramadhan selalu berada di sekeliling kita. Jadilah saya makan dengan menu McD itu.



Menjelang pukul 9—10 malam, speaker pun berbunyi. Awalnya, saya nggak ngeh dengan bunyi speaker karena banyak banget suara yang ribut. Ternyata, ada pengumuman kalau ada McD di lantai bawah sana yang perlu diambil. Tanpa berpikir panjang, saya pun turun dengan teman dan bos saya untuk mengambil McD itu. Tenyata, si Ibu yang memberika menu itu tak tanggung-tanggung langsung memberikan kami tiga bungkus McD per orang dan bebas mengambil berapa pun. Bahkan, ada yang mengambil lima bungkus McD. Hahahahahaha...



Sempat ada kehebohan sedikit mengenai McD ini karena setiap orang memiliki berbungkus-bungkus McD. Hingga kulkas di atas pun penuh dengan soft drink milik orang-orang yang mengambil makanan itu. Bahkan, ada yang sampai ditaruh di galon soft drink-nya karena saking banyaknya.

Waah, kalau seperti ini, saya seneng sekalee. Pagi tadi yang bete banget karena merasa nggak maksimal dan mesti bayar provider internet, jadinya tersenyum melihat keberkahan makanan di bulan Ramadhan. Dooh senangnya....

Kamis, 18 September 2008

Award dari Dee

Wah, gak nyangka dapat Award dari Dee. "Thanks ya, Dee." Sebenarnya, saya nggak tahu kategorinya apa, tapi seneng aja bisa dapet award. Jarang-jarang lho bisa dapet award. Hahahahahaha....Makasih yaaa...
Pokoknya, Award ini akan saya simpan di tempat tertutup dan tak berdebu. Saya juga tidak akan membagi-bagikan kepada siapa pun. Hahahahahaha...Kesannya pelit amat ya? Padahal, saya nggak pelit kok. Saya baik hati, tidak sombong, dan rajin membantu ibu dan ayah. ^_^
Thenkyuuu Dee...

Rabu, 17 September 2008

Menunggu Patas 67

Ya ampuun...nunggu patas 67 membuat saya sakit perut alias mules-mules. Pengen rasanya ke toilet karena bus ini lama banget datengnya. Mirip orang yang sakit perut karena mau dipanggil sidang. Kalau bus ini nggak datang-datang, saya jadi berpikir kalau trayeknya sudah dihapuskan. Huuuh...

Seperti biasa, 67 adalah bus favorit saya selain transJakarta. Dan seperti biasa pula, saya menunggu bus ini kalau nggak di Blok M, yaa di Menteng. Kalau mau lama dan ngeliat keadaan Thamrin dan Sudirman, saya ke Blok M. Lewat sana, saya bisa 2 jam perjalanan menuju Salemba. Nah, kalau mau lumayan cepet, ya lewat Kuningan-Menteng. Dengan risiko, busnya lama banget datengnya dan bikin sakit perut. Kalo mau nyobain yang rame penumpang bus-nya, yaaa naik transJakarta yang kayaknya semakin mirip KRL kelas Ekonomi Bogor-Jakarta Kota. Banyak banget penumpangnya, tapi armadanya sedikit sekalee.




Tapi, di antara jenis-jenis bus yang saya naiki, ternyata yang paling nyaman tetep bus transJakarta. Kalau tahu jam-jam kosong, transJakarta adalah angkutan umum ternyaman di samping patas AC dan dia ini lebih aman dibanding angkutan umum yang lain. Sayangnya, kocek yang kudu keluar juga lebih besar, secara saya mencari shelter yang kosong untuk bisa dapat duduk.

Kembali ke patas 67 ini, akhirnya Selasa kemaren, terpaksalah saya naik 213 yang memaksa saya turun di Kedokteran dan jalan melintasi FK dan parkiran. Lumayan sih jalan kakinya, tapi daripada si 67 gak dateng-dateng mending jalan karena saya juga telat masuk.

67...67...Dulu, waktu saya mau ke Pernas, dirimu selalu lewat dan ada terus. Padahal, saya mau naik 213, bukannya dirimu. Dulu, yang jarang datang malah 213. Sekarang, saya nunggu kamu, malah 213 yang datang. Huh!!! Saya mau dikerjain ya?? Menjengkelkan!

Senin, 15 September 2008

selamat berbuka puasa

hmm....nikmatnya makanan untuk berbuka puasa....
ada ikan mas, capcay udang, telor balado, semur daging
plus es buah dan jeruk....alamak nikmatnya

Minggu, 14 September 2008

browsing...browsing

Di antara pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk itu, saya senang browsing-browsing. Sebenarnya bukan browsing yang hobi banget. Hanya sekadar iseng untuk membunuh kejemuan di pekerjaan yang banyak itu. Mulai dari mencari lagu sampai mencari video. Biasanya sih ketemu lagu-lagu yang saya cari, mulai dari lagu-lagunya B*Witched yang entah ke mana saat ini sampe lagu daerah sahabat saya, si Iwied. Saking senangnya, saya sering lupa waktu, antara jam istirahat saya dan kerja saya. Akhirnya begadang lagi semalaman. Hehehehehe...


Bagi saya, Youtube yang tetep okeh dibanding penyedia video gratisan. Karena, semua video kayaknya bisa ditemuin di website itu. Saya pernah mencari lagu Iklim, eh ketemu. Belum tentu kan di website lain ketemu. Bahkan, theme song lagu kartun juga ketemu. Tentunya, lagu kartun zaman saya kecil dulu, seperti Saint Seiya, Sailormoon, CandyCandy, Yonkuro, Lady Oscar, bahkan saya dapat film kartun si Teko Ajaib yang ada tokoh Pangeran Dandan dan Putri Shalala. Saya juga sempat ketemu dengan film seri a.k.a telenovela Meksiko jaman dulu banget, Carusel. Tapi sayang, karena terlalu lama kayaknya, jadi filmnya pecah-pecah. Yang paling saya seneng adalah ketemu sama theme song-nya Satria Baja Hitam. Ya ampuuun...saya pencinta Satria Baja versi Tetsuo Kurata. Hahahaha. Keren banget waktu itu. Dan, penyanyi lagunya itu ternyata bapak-bapak yang suaranya keren—menurut saya.


Sekarang, saya senang nge-browse video klip yang menurut saya bagus. Tapi, yang ada diingatan saya masih beberapa video aja, so nge-browse-nya juga cuma beberapa aja. Untuk saat ini, saya masih suka dengan video-nya Tenacious D yang judulnya Kickapoo dan Shania Twain yang Kaching. Dua video itu menurut saya bagus. Si Shania Twain kayak Audrey Hepburn dan Tenacious D sangatlah lucu.

Tapi, kalo lagi nge-browse video itu, penyakit lamanya si youtube suka kambuh alias mati-mati mulu. Kadang malah nggak jalan sama sekali. Sampe capek nunggu dia memutar kembali. Kadang saya bingung, yang salah si youtube apa providernya sih? Apa karena malem-malem gratisan, jadi banyak yang mutar juga? Beuh, ampe segitunya yaaa...Kalo begitu, bikin capek tenaga dan pikiran, saya langsung close aja deh.

Sabtu, 13 September 2008

Mata Kanan Membengkak

Pas bangun tidur untuk sahur, saya merasa ada yang aneh dengan kelopak mata saya. Agak-agak gatal dan perih. Ada apa gerangan? Saya langsung saja menghadap kaca yang ada di atas wastafel—karena di kamar saya nggak ada kaca—Dan, terlihatlah bentol kecil dengan titik kecil di tengah bentol itu. Dooh, kayaknya saya abis digigit serangga deh. Buktinya, ada bekas gigitan di tengah bentolnya. Agak perih memang. Makanya, saya buru-buru pakai minyak zaitun untuk menghilangkan rasa perih dan mengurangi efek bentolan yang tampaknya semakin membesar.

Ketika saya makan sahur, kakak saya menegur saya, “Matanya kenapa?” Waah, saya panik karena ketahuan kalo mata saya bengkak. Sampai menjelang Subuh, rasa perihnya masih ada dan saya mulai panik lagi karena hari itu saya harus kerja. Menjelang siang, bentol di mata sudah menghilang. Yang ada malah mata yang membengkak. Saya jadi kebayang bisul yang ada di mata. Mudah-mudahan gak sampai bisulan. Soalnya, saya suka konyol dengan luka-luka seperti itu. Saya pernah luka di lubang hidung, jadinya luka itu mirip upil yang gede banget. Bahkan, bibir saya juga pernah melenting dan luka juga, sampai temen saya bilang kalo saya kena KDRT. Hahahaha...saya yang menjadi korban ledekan teman-teman malah tersipu-sipu memalukan karena bingung mau ngomong apa. Nah, sekarang, kelopak mata saya yang sebelah kanan bengkak dan mirip orang bintitan. Kan malu kalau dibilang ngintipin orang mandi. Tadi, saya sempat menyiapkan jawaban kalau ada orang yang nanya tentang mata saya membengkak ini. Saya akan menjawab, “Iya nih, abis ngintipin orang mandi.” Hahahahahaha...tapi nggak ada yang nanya, kecuali si Miss Leci yang udah menyadari sebelum saya sempat duduk di kursi saya. Ah, sial! Bukannya jawaban yang sudah saya siapkan, saya malah berkata, “Iya nih, gatel. Kayaknya digigit serangga.”


Sepanjang saya berada di depan si Nyonya Tua, saya sibuk melihat kelopak mata saya yang bengkak. Khawatir bertambah bengkak dan menghindari tatapan muka orang-orang karena saya takut mereka akan menyadari kelopak mata saya bengkak. Kalau mereka tahu kan menurunkan kualitas di hadapan gebetan saya. Hahahahahaha. Jadinya, saya hanya memandang komputer depan dan sesekali melihat kelopak saya yang bengkak itu dengan kamera ponsel atau kaca mini. Ironisnya, bos saya mengajak saya ngobrol hingga saya khawatir, apakah belahan rambut saya itu menutupi kelopak mata saya yang bengkak. Sepertinya sih tidak karena saya merasa tatapan orang-orang itu menuju ke kelopak mata saya yang bengkak.

Malamnya, saya dan Miss Leci diajak makan sate bareng teman-teman reporter di warung sate depan. Waah, lumayan dapat sate gratisan. Tapi, berhubung kondisi mata saya yang tidak okeh, saya pun tidak banyak omong dan hanya menikmati obrolan teman-teman tentang kisah-kisah peliputan mereka. Saat itu, betapa khawatirnya saya dengan kelopak mata yang membengkak. Takut semua orang terkaget-kaget melihat anak sebesar saya masih saja bengkak matanya. Iih...memalukan!

Sabtu, 06 September 2008

Puasa Kedua, Hari Pertama Kuliah

Nggak terasa, ternyata udah masuk kuliah lagi. Kuliah semester ini, menurut saya, lebih istimewa dibanding dua semester sebelumnya. Mengapa? Karena awal kuliah itu bertepatan dengan awal Ramadhan. Jarang-jarang lho kuliah pertama pas banget dengan hari pertama puasa. Tadinya, saya sempat kebayang kalau kuliah pertama, pas hari Senin pula, capek dan lemesnya minta ampun. Apalagi, untuk daerah rumah saya yang menjadi biang dari biangnya kemacetan.


Untungnya, kuliah perdana dimulai hari Selasa. Jadi, kondisi fisik sudah bisa beradaptasi dengan kondisi puasa. Seperti biasa, saya telat datang karena kesiangan bangun dan harus melewati kemacetan demi kemacetan. Untungnya, udara nggak begitu panas dan menyusahkan. Masih agak mendung-mendung. Perjalanan tetap sama seperti biasa. Tidak terlalu istimewa.
Sampai kelas, 30 menit lebih dari jadwal masuk yang ada di SAP. Saya harus masuk karena kuliah ini adalah kuliah perdana. Ternyata, kuliahnya cukup enak, dosennya menjelaskan semua rincian dengan tertata sehingga saya ngerti kalau urutan-urutan sejarah teori kritis seperti itu. Yang paling nggak enak ya nama kuliahnya itu, teori kritis. Kesannya semua yang menyusahkan hidup ada di situ semua. Kalau ngambil mata kuliah itu kesannya mencari-cari masalah dalam hidup.

Siangnya, kuliah perdana berlanjut lagi. Kuliahnya sepertinya sama, agak enak dengan berbagai buku yang bikin pusing kepala. Selesai dari sana, langsung ke belakang kampus, biasa menyapa Pak Pri yang punya banyak koleksi buku-buku kuliah. Tadinya, saya nggak niat mengambil mata kuliah ini karena merasa gak sesuai dengan tugas akhir. Eh, pas perkenalan itu, saya malah merasa mata kuliah ini cuocok dengan tugas saya. Malah, ada mata kuliah yang saya kepengen banget buat ngambil eeh nggak cocok dengan tugas akhir saya. Berhubung saya mau lolos—bukan lulus—kalo belanja mata kuliah kayaknya nggak deeh. Mending fokus dengan yang ada di depan mata.


Sorenya, saya langsung cabut ke rumah barbie. Mencoba datang di awal dengan perut yang mules. Tak tahunya, makanan untuk berbuka sedang disiapkan. Weleh-weleh nggak nyangka akan dapat subsidi seperti ini selama Ramadhan. Bener-bener berkah puasa ini. Menunya okeh juga: ada ayam, rolade daging, kentang, oseng buncis, pisang, kerupuk udang, kolak, risol isi telor, es, dan teh. Besoknya, ada ikan bandeng, semur daging, tempe goreng, ayam tepung, acar timun bumbu kuning, es buah, bolu gulung, jeruk, dan--lupa--Kenyang perut dan senyum mengembang.


Pulang dari sana, saya berpikir, menu untuk besok apa ya? Hihihihi...