Minggu malam, saya menyapa Ingke yang lagi online via YM. Karena iseng di tengah kesuntukan yang ada di sekeliling saya. Tiba-tiba, Ingke langsung bilang seperti ini kepada saya, “Lur, dah tahu belum kalau Pak Bakir meninggal?” Pada saat itu, saya cuma tercengang dan hanya balik bertanya dengan nada keterkejutan, “Ha?” Dan, mulailah pertanyaan-pertanyaan keluar, seperti meninggalnya kapan? Kenapa? Rumah dukanya di mana? Dan sebagainya. Ingke pun nggak tahu banyak mengenai detail informasi yang diterima. Ia hanya mendapatkan kabarnya dari phone3.
Saya ingat kuliah dengan Pak Bakir. Nggak lama, baru-baru ini saja, sekitar bulan Mei atau Juni, beliau masih mengajar saya. Beliau adalah dosen FEUI yang ngajar di FISIP untuk mata kuliah Ekonomi Media. Ada beberapa teman yang ngambil mata kuliah itu. Dan, biasanya, saya telat masuk kelas beliau ini. Makanya, si Tina menjuluki saya Miss Telat.
Menurut saya, Pak Bakir punya caranya sendiri untuk mengajar. Saya paling senang mendengar kisah beliau, terutama ketika beliau membeli mobil pertamanya di Amerika sana. Suatu kali, Pak Taram masuk ke dalam kelas dan menawarkan beliau minum. Lalu, beliau bilang, “Puasa, dong....bukan apa-apa, sudah dekat kubur.” Lalu, beliau tertawa yang diikuti tawa juga oleh kami.

Yang paling saya ingat dari Pak Bakir ketika beliau memberikan donat kepada kami di kelas Ekonomi Media. Katanya, beliau ulang tahun, makanya dia membawa donat ke kelas. Kuliah selesai, kami pun foto-foto bersama dengan kamera Pak Ibnu. Ketika kami sedang foto bareng itu, teman saya Enchit mendengar Pak Bakir berkata setelah selasai kami foto bersama, “Alhamdulillah, mungkin ini hari terakhir saya.” Saya yang mendengar cerita itu hanya berujar dalam hati, “Semoga beliau diberi umur panjang,” karena saya baru saja kehilangan kakek dan bude saya pada bulan Mei yang membuat merana sekali.
Tak tahunya, Ramadhan ini beliau pergi. Padahal, beberapa hari sudah Lebaran. Hmm, semoga amal ibadahnya di terima Allah SWT. Amien.













































