Jumat, 16 Januari 2009

Apakah Tampang Gue Tua?


Suatu kali, seorang teman bertanya kepada saya, "Lu angkatan berapa?" Yang ditanya, yaitu saya, hanya cengar-cengir.

Lalu, saya balik bertanya, "Lu angkatan berapa?"

Eh, dia malah balik bertanya kepada saya, "Menurut lu, gue angkatan berapa?"

Hmm, saya pun segera menilik sosok teman saya ini. Mulai dari ujung rambutnya hingga ujung kaki. Perawakan yang besar dan wajahnya yang terlihat lebih dewasa membuat saya berkata, "Lu angkatan 99 ya?"

Dia diam. Sama sekali tidak tersenyum atau menganggap obrolan kami itu sebagai bahan lelucon kosong saja. Kemudian, dia balik bertanya, "Emangnya lu angkatan berapa?"

Saya cengar-cengir lagi. "Tebak, dong." Kala itu, saya menganggap teman saya ini pasti akan salah menebak.

"Angkatan 99," katanya dengan nada datar.

HA? Baru kali ini ada yang menebak angkatan saya jauh lebih tua di atas saya. Biasanya, saya selalu ditebak beberapa tahun di bawah angkatan saya sebenarnya.

"Iya kan?" katanya lagi.

"Nggaklah...," kata saya bersungut-sungut dan mulai bete karena dianggap lebih tua. Padahal, biasanya, saya selalu dianggap angkatan muda. "Lu angkatan berapa sih?"

Tiba-tiba, teman saya yang lain nyeletuk, "2003 dia..."

HA? Untuk kedua kalinya saya tercengang. Dalam hati, widiih, tampangnya lebih tua dari angkatan sebenarnya. "Lu beneran angkatan 2003?" tanya saya dengan nada tak percaya. "2003 asli apa angkatan sebelumnya?"

"2003 asli," katanya datar. "Tampang gue emang lebih tua."

Deg! Ketika teman saya ini mengakui tampangnya a.k.a wajahnya yang lebih tua, saya jadi berpikir, kok mau-maunya dia mengaku tampangnya lebih tua dari umur sebenarnya? Kalau saya, umur yang sudah dipertengahan kepala dua saja membuat saya stres minta ampun. Bukan karena saya menolak menjadi tua, tapi saya tidak mau menjadi dewasa. Saya hanya ingin menjadi anak-anak. Huhuhuhu...Pasti saya akan dicap sebagai orang yang tidak memahami kodrat. Bahwa manusia akan menjadi dewasa dan manusia akan menjadi tua.

Esoknya, ketika kami bertemu lagi dan sesekali dia menyinggung wajahnya yang lebih tua dari umurnya, saya hanya tersenyum dalam hati. Setidaknya, dia mensyukuri apa yang ada dalam dirinya dan tidak menolak hal yang telah ada itu. Seandainya ia menolak, mungkin dia sudah menjadi pasien nomer satu klinik kecantikan.

Lalu, esok-esoknya lagi, ia memanggil saya dengan sebutan "mbak" dan saya tetap memanggil dia dengan sebutan "lu". Kalau seperti ini, saya cuma cengar-cengir lagi karena agak kurang cocok disebut "mbak".

"Trus, lu mau disebut ape?" gerutu teman saya yang lain. "Tante, Om, atau Nenek?"

Huuuh...

Tampang memang bukan jaminan umur berapa seseorang atau matangkah seseorang itu. Mungkin, kebanyakan yang saya lihat, tampang atau wajah itu juga berperan menunjukkan kematangan seseorang dalam menghadapi sesuatu. Misalnya, usia 16 tahun ada yang masih kekanak-kanakan, ada pula yang sudah matang karena ditempa oleh keadaannya. Jika ditempa keadaan itu, biasanya membuat seseorang lebih kuat dan lebih bijak dalam menghadapi tantangan hidup. Orang-orang ini kemungkinan besar akan bisa berbagai keadaan dibanding yang tidak pernah merasakan tekanan kehidupan.

Jadi, tampang itu, lagi-lagi, tidak ditentukan oleh umur seseorang (apalagi angkatan seseorang). Kadang kita sendiri tertipu untuk memahami seseorang hanya dari kulit luarnya saja. Mungkin, penilaian yang seperti ini adalah penilaian yang sangat cetek alias dangkal. Perlu diperdalam agar gak dangkal dan agar bisa memahami orang-orang di sekitar kita. Kalau sudah seperti ini, mungkin perbedaan itu dapat diminimalisasi. Sepertinya begitu...

0 komentar: