Bolak-balik rumkit memang membuat bete dan capek, baik tenaga, waktu, maupun perasaan. Tenaga karena jarak antara rumkit dan rumah cukup jauh, jadi butuh tenaga ekstra kalo ke sana. Waktu karena ngantre di rumkit bisa makan waktu berjam-jam lamanya. Semakin siang, rumkit bukannya makin sepi malah makin rame. Buat yang sakit jadi kudu bersabar kalo ke rumkit, apalagi yang berbau pemerintah dan berobat pake kartu askes. Pasti jadi manusia paling sabar sedunia, nunggu nama dipanggil. Perasaan karena tiap ke rumah sakit, pasti ada aja yang mengeluhkan penyakitnya atau ngeliat orang-orang yang didorong-dorong, entah menggunakan kursi roda atau tempat tidur beroda. Rasanya menyiksa tiap melihat kayak gitu. Orang-orang yang kerja di sana pasti punya jiwa yang besar karena bisa tabah ngeliat seperti itu tiap hari.
Suatu kali, ketika dalam perjalanan ke rumkit, kakak saya memulai percakapan yang membuat saya geli sendiri. Kala itu, yang ke rumkit adalah dua kakak saya, saya, bapak, dan Udet. Rencananya hari itu adalah bapak mau diambil darah lagi dan tes urine karena dicurigai ginjalnya bermasalah.
Kakak saya bercerita seperti ini, "Kemaren, Uwa Hasan ceritanya semangat banget."
"Emang kemaren ke mana?" tanya saya sambil memerhatikan mobil dan motor yang seliweran.
"Kemaren kan kondangan. Trus, ketemu deh ama Uwa Hasan."
Uwa Hasan ini biasanya dipanggil oleh bapak dengan sebutan Bang Hasan. Dia adalah pamannya bapak. Dia juga pencinta seni. Sesekali dia terlibat dalam sebuah pembuatan sinetron.
Kakak saya yang agak cerewet itu kembali cerita, "Iya. Di sini ngomongnya semangat banget kalau Uwa Hasan mau jalan-jalan. Kemaren nyebutnya macem-macem, ke Malang, Surabaya, jauh-jauh banget."
"Ha? Masa seeh?" timpal saya.
Lalu, kakak saya geli sendiri. "Iya, masa' pas pada tua baru pada mau jalan-jalan. Udah gitu semangat banget lagi ngomongnya. Pas udah pada sakit-sakitan pada mau jalan-jalan yang jauh-jauh. Emangnye masih mude ke mane ajeee?!"
Saya cekikikan.
Kakak saya kembali bercerita, "Pas ditanya, emangnya belum pernah ke luar Jakarta? Eh, dijawabnya gini, 'Udah dulu, tahun 47.'"
Kakak saya dan saya tertawa geli. Widiiih...lama amat.
Bapak pun nimbrung, "Lha, jangan-jangan, tahun 1947 itu pas lagi diuber-uber NICA. Jadinya ngungsi ke Surabaya."
Saya semakin tertawa geli. "Iya, ya, ke Surabaya-nya juga kebetulan kali yaa karena diuber-uber NICA. Makanya, ngungsi ke Surabaya sekalian jalan-jalan."
Ya ampun, neng, mana sempet jalan-jalan kalo di belakangnya ada orang Londo nyodorin senapan lars panjang ke bokong loo...Yang ada malah lu jadi tokoh puisinya Toto Subagyo Bachtiar yang judulnya Pahlawan Tak Dikenal.
Yang jelas, kalau ada semangat, jalan-jalan itu tentunya nggak kenal waktu. Terlalu banyak yang bagus dan perlu ditelusuri. Yuuks, mari menjadi penjelajah. Mungkin, bersama saya yang sering kali omdo alias omong doang. LOL.






































0 komentar:
Poskan Komentar