Saya bangun pagi sekali pada Jumat, kemarin. Ini semua saya lakukan demi ketemuan dengan pembimbing yang hanya mau ditemui pagi hari. Iya sih saya memang tiap hari bangun pagi. Tapi, biasanya saya tidur lagi setelah melakukan ritual di saat Subuh. Sekitar pukul 06.15, saya sudah berdiri menunggu bus yang mengarah ke terminal busway Blok M. Jalanan juga sudah mulai ramai dan tidak macet. Maklum masih pukul enam pagi. Lewat sedikit saja, pasti macetnya sudah mengekor di jalan sana. Untungnya pula, bus yang saya tumpangi tidak penuh. Jadi, saya bisa santai, sesekali memejamkan mata, atau memerhatikan orang-orang yang naik turun bus kota.
Di Terminal Blok M, saya nyambung dengan busway. Niat untuk mendapat tiket dengan harga 2000 pupuslah sudah karena angka di jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat lima menit. Andai saja saya lebih cepat lima menit pasti dong saya dapet tiket 2000, kan lumayan, apalagi untuk pelajar seperti saya yang merana ini.
Nah, ada yang perlu diperhatikan ketika naek bus TransJakarta. Jangan naik pas jam kerja! Dooh, desak-desakan, penuh, dan orang-orang yang ngantre biasanya enggan menjaga jarak. Mepet banget. Kalo yang mo pingsan, mending pingsan dulu deh. Daripada nyempil gak dapet ruang bergerak sama sekali. Nah, inilah yang terjadi ketika pagi itu saya mau bimbingan. Pas bus sudah akan berhenti dan pintu belum dibuka, orang-orang yang ngantre di belakang udah bergerak maju dan merapat. Jaga keseimbangan, jangan sampai jatuh. Saat itu, sebagai penumpang, harus pandai-pandai bergerak maju sebelum didorong-dorong penumpang lain. Napas saya baru lega ketika bisa mendapat tempat duduk.
Satu yang paling membuat saya jengkel ketika berada di bus TransJakarta adalah cewek yang suka menyilangkan kakiknya. Dapat dimaklumi sih kalau bus kosong, tapi kalau bus cukup penuh dan ada orang yang berdiri dekat dengan cewek yang menyilangkan kakinya, tolong dong kakinya jangan dilipat. Sempit dan sepatunya itu pasti nyenggol celana atau rok yang dipake penumpang yang berdiri. Walau sepatunya bersih, menurut saya itu nggak sopan. Jadi, kalau naek kendaraan umum, hormatilah hak-hak orang lain.
Tibalah saya di kantor pembimbing pukul 7.30. Saya jarang datang ke kantornya pukul segitu, biasanya pukul 8 lewat. Awalnya ngeri juga masuk kantor orang di pagi seperti itu soalnya sepi banget. Koridornya gelap dan lampunya cuma sedikit yang nyala. Para penghuni kantor belum ada yang masuk. Mungkin, baru office boy-nya yang dateng. Itu pun gak ada satu pun yang papasan dengan saya di koridor yang remang-remang. Hiiii...
Tak tahunya, pembimbing saya sudah ada di kantornya sedang menunggu office boy yang ngambil kunci kantornya sambil nonton mbah surip konser di tivi. Saya langsung memperlihatkan bab terakhir saya dan langsung dibaca. Belum ada lima menit, sang pembimbing langsung bilang, "Oke, ini kapan sidang?" Wakwaaaaawwwwwww... Dengan pedenya saya menyebutkan nama hari, tanggal sekian, dan orang-orang yang mau disidang. Jadwal pun langsung dibuat. Saya mengangguk sambil berharap teman saya yang juga mau bimbingan segera datang. Akhirnya, teman saya datang dan saya menunggu dia sambil ngantuk-ngantuk karena kurang tidur semalam.
Selesai dari sana, saya dan teman saya cabut menuju kampus. Buru-buru perbaikan dilakukan karena mencuri dengar bimbingan teman saya itu, kayaknya masih banyak yang perlu dirombak. Berkejar-kejaranlah saya dengan waktu dan jam deadline hari itu. Wuuueeeekkksss!!! Mau muntah melihat tulisan yang kecil-kecil dan banyak itu. Hasilnya saya gak yakin bagus dan waktunya terlalu cepat berputar-putar di sekeliling saya. Teman saya ada yang belum tidur karena mengejar jadwal deadline hari itu dan ironisnya masih harus perbaikan lagi. Ingin sekali melompati waktu supaya bisa melihat dan mengantisipasi apa yang akan dihadapi. Jilid tugas pun sudah selesai dan saya kudu mencari-cari tanggal yang masih tersedia. Ternyata, saya nggak bisa disatuin dengan yang lain, saya harus mundur beberapa hari karena jadwal sebelumnya sudah padat, mirip antrean dokter. Ya sudah, asal bisa tampil, tak apalah mundur. Pengaturan tanggal itu juga agak lama soalnya nunggu pembimbing yang masih menyidang. Akhirnya, dengan agak memaksa, tanggal yang mundur itu pun disetujui.
Berkubang dengan kertas serta bertarung dengan waktu dan teori membuat saya begah ngeliat komputer dan buku-buku yang berantakan di rak saya. Saya mau ongkang-ongkang kaki sambil menatap langit biru dan menyeruput es kelapa muda. Sayangnya, perjuangan belum berakhir.
I'm still in the battle (again)!!!...Mantaabbhh!!!
Sabtu, 27 Juni 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






































0 komentar:
Poskan Komentar