Senin, 23 Maret 2009

"Kayak mo dilamar!"

Darling,

Kamis minggu kemarin, saya tegang setegang-tegangnya. Apa yang terjadi? Usut punya usut, proposal siap diuji untuk ke tahap selanjutnya. Cihuuuy!!! Seneng pastinya karena penantian yang lama dan panjang dari jadwal yang selalu tertunda. Kala itu, saya sadar ungkapan yang bilang, kalau ada kesempatan yang datang sekarang, jangan ditunda. Pas Januari kemaren, saya menunda pengajuan proposal saya karena belum siap. Bayangkan, baru pulang dari mencari sesuap nasi pas hampir tengah malam, tiba-tiba orang rumah bilang kalau sekretariat menelepon saya. Pesannya begini: Kamis nanti pukul dua, saya maju proposal. Tuing-tuing...kepala saya berputar-putar...

Apa masalahnya? Kamis itu cuma dua hari dari waktu pemberitahuan. Dasar dodol berat. Belum apa-apa, bab 1-2 masih kacau, bab 3 belum dibikin, pak dosen jarang ngasih komen, padahal teman saya masih harus bolak-balik, sedangkan saya cuma begini, "Ya udah, maju aja." Ohmigod! Yaaa...karena ketidakjelasan itulah saya urung maju. Tapi, gara-gara kesempatan itu pergi, kesempatan kedua datangnya hampir dua bulan kemudian. Menyedihkan!

Akhirnya, kesempatan itu pun datang. Tegang bukan main. Saking tegangnya, saya harus ke sana dengan taksi--kendaraan yang membuat kantong kempes--supaya gak telat. Di ruang sidang, saya cuma jalan bolak-balik, nyanyi-nyanyi, dan ngobrol dengan teman yang ikut sidang. Kata teman saya, "Gue tau lu tegang." Dia berbicara begitu sambil cekikikan.

Saya berusaha menutupi ketegangan saya. Tapi, yang namanya tegang yang udah nyampe di ubun-ubun, senyum dan tawa saya yang tadinya lebar sekalee tiba-tiba menciut ketika mendekati pukul 2 lewat. Para penguji telat dari jadwal yang dijanjikan. Saya semakin bolak-balik di ruangan. Dan, teman-teman saya semakin cekikikan.

Lalu, saya nyeletuk, "Dooh, bo, kayak mo dilamar!"

Tiba-tiba, tawa bergema ketika saya berkata seperti itu. Salah seorang dari mereka membalas celetukan saya, "Emang lo udah pernah dilamar?"

Saya nyengir sambil berlari ke bangku kosong di depan untuk "Yang Disidang" karena para penguji sudah masuk ke ruangan dengan map-map di tangan mereka.