Senin, 29 Juni 2009
Sabtu, 27 Juni 2009
in the battle--still...
Saya bangun pagi sekali pada Jumat, kemarin. Ini semua saya lakukan demi ketemuan dengan pembimbing yang hanya mau ditemui pagi hari. Iya sih saya memang tiap hari bangun pagi. Tapi, biasanya saya tidur lagi setelah melakukan ritual di saat Subuh. Sekitar pukul 06.15, saya sudah berdiri menunggu bus yang mengarah ke terminal busway Blok M. Jalanan juga sudah mulai ramai dan tidak macet. Maklum masih pukul enam pagi. Lewat sedikit saja, pasti macetnya sudah mengekor di jalan sana. Untungnya pula, bus yang saya tumpangi tidak penuh. Jadi, saya bisa santai, sesekali memejamkan mata, atau memerhatikan orang-orang yang naik turun bus kota.
Di Terminal Blok M, saya nyambung dengan busway. Niat untuk mendapat tiket dengan harga 2000 pupuslah sudah karena angka di jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat lima menit. Andai saja saya lebih cepat lima menit pasti dong saya dapet tiket 2000, kan lumayan, apalagi untuk pelajar seperti saya yang merana ini.
Nah, ada yang perlu diperhatikan ketika naek bus TransJakarta. Jangan naik pas jam kerja! Dooh, desak-desakan, penuh, dan orang-orang yang ngantre biasanya enggan menjaga jarak. Mepet banget. Kalo yang mo pingsan, mending pingsan dulu deh. Daripada nyempil gak dapet ruang bergerak sama sekali. Nah, inilah yang terjadi ketika pagi itu saya mau bimbingan. Pas bus sudah akan berhenti dan pintu belum dibuka, orang-orang yang ngantre di belakang udah bergerak maju dan merapat. Jaga keseimbangan, jangan sampai jatuh. Saat itu, sebagai penumpang, harus pandai-pandai bergerak maju sebelum didorong-dorong penumpang lain. Napas saya baru lega ketika bisa mendapat tempat duduk.
Satu yang paling membuat saya jengkel ketika berada di bus TransJakarta adalah cewek yang suka menyilangkan kakiknya. Dapat dimaklumi sih kalau bus kosong, tapi kalau bus cukup penuh dan ada orang yang berdiri dekat dengan cewek yang menyilangkan kakinya, tolong dong kakinya jangan dilipat. Sempit dan sepatunya itu pasti nyenggol celana atau rok yang dipake penumpang yang berdiri. Walau sepatunya bersih, menurut saya itu nggak sopan. Jadi, kalau naek kendaraan umum, hormatilah hak-hak orang lain.
Tibalah saya di kantor pembimbing pukul 7.30. Saya jarang datang ke kantornya pukul segitu, biasanya pukul 8 lewat. Awalnya ngeri juga masuk kantor orang di pagi seperti itu soalnya sepi banget. Koridornya gelap dan lampunya cuma sedikit yang nyala. Para penghuni kantor belum ada yang masuk. Mungkin, baru office boy-nya yang dateng. Itu pun gak ada satu pun yang papasan dengan saya di koridor yang remang-remang. Hiiii...
Tak tahunya, pembimbing saya sudah ada di kantornya sedang menunggu office boy yang ngambil kunci kantornya sambil nonton mbah surip konser di tivi. Saya langsung memperlihatkan bab terakhir saya dan langsung dibaca. Belum ada lima menit, sang pembimbing langsung bilang, "Oke, ini kapan sidang?" Wakwaaaaawwwwwww... Dengan pedenya saya menyebutkan nama hari, tanggal sekian, dan orang-orang yang mau disidang. Jadwal pun langsung dibuat. Saya mengangguk sambil berharap teman saya yang juga mau bimbingan segera datang. Akhirnya, teman saya datang dan saya menunggu dia sambil ngantuk-ngantuk karena kurang tidur semalam.
Selesai dari sana, saya dan teman saya cabut menuju kampus. Buru-buru perbaikan dilakukan karena mencuri dengar bimbingan teman saya itu, kayaknya masih banyak yang perlu dirombak. Berkejar-kejaranlah saya dengan waktu dan jam deadline hari itu. Wuuueeeekkksss!!! Mau muntah melihat tulisan yang kecil-kecil dan banyak itu. Hasilnya saya gak yakin bagus dan waktunya terlalu cepat berputar-putar di sekeliling saya. Teman saya ada yang belum tidur karena mengejar jadwal deadline hari itu dan ironisnya masih harus perbaikan lagi. Ingin sekali melompati waktu supaya bisa melihat dan mengantisipasi apa yang akan dihadapi. Jilid tugas pun sudah selesai dan saya kudu mencari-cari tanggal yang masih tersedia. Ternyata, saya nggak bisa disatuin dengan yang lain, saya harus mundur beberapa hari karena jadwal sebelumnya sudah padat, mirip antrean dokter. Ya sudah, asal bisa tampil, tak apalah mundur. Pengaturan tanggal itu juga agak lama soalnya nunggu pembimbing yang masih menyidang. Akhirnya, dengan agak memaksa, tanggal yang mundur itu pun disetujui.
Berkubang dengan kertas serta bertarung dengan waktu dan teori membuat saya begah ngeliat komputer dan buku-buku yang berantakan di rak saya. Saya mau ongkang-ongkang kaki sambil menatap langit biru dan menyeruput es kelapa muda. Sayangnya, perjuangan belum berakhir.
I'm still in the battle (again)!!!...Mantaabbhh!!!
Di Terminal Blok M, saya nyambung dengan busway. Niat untuk mendapat tiket dengan harga 2000 pupuslah sudah karena angka di jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat lima menit. Andai saja saya lebih cepat lima menit pasti dong saya dapet tiket 2000, kan lumayan, apalagi untuk pelajar seperti saya yang merana ini.
Nah, ada yang perlu diperhatikan ketika naek bus TransJakarta. Jangan naik pas jam kerja! Dooh, desak-desakan, penuh, dan orang-orang yang ngantre biasanya enggan menjaga jarak. Mepet banget. Kalo yang mo pingsan, mending pingsan dulu deh. Daripada nyempil gak dapet ruang bergerak sama sekali. Nah, inilah yang terjadi ketika pagi itu saya mau bimbingan. Pas bus sudah akan berhenti dan pintu belum dibuka, orang-orang yang ngantre di belakang udah bergerak maju dan merapat. Jaga keseimbangan, jangan sampai jatuh. Saat itu, sebagai penumpang, harus pandai-pandai bergerak maju sebelum didorong-dorong penumpang lain. Napas saya baru lega ketika bisa mendapat tempat duduk.
Satu yang paling membuat saya jengkel ketika berada di bus TransJakarta adalah cewek yang suka menyilangkan kakiknya. Dapat dimaklumi sih kalau bus kosong, tapi kalau bus cukup penuh dan ada orang yang berdiri dekat dengan cewek yang menyilangkan kakinya, tolong dong kakinya jangan dilipat. Sempit dan sepatunya itu pasti nyenggol celana atau rok yang dipake penumpang yang berdiri. Walau sepatunya bersih, menurut saya itu nggak sopan. Jadi, kalau naek kendaraan umum, hormatilah hak-hak orang lain.
Tibalah saya di kantor pembimbing pukul 7.30. Saya jarang datang ke kantornya pukul segitu, biasanya pukul 8 lewat. Awalnya ngeri juga masuk kantor orang di pagi seperti itu soalnya sepi banget. Koridornya gelap dan lampunya cuma sedikit yang nyala. Para penghuni kantor belum ada yang masuk. Mungkin, baru office boy-nya yang dateng. Itu pun gak ada satu pun yang papasan dengan saya di koridor yang remang-remang. Hiiii...
Tak tahunya, pembimbing saya sudah ada di kantornya sedang menunggu office boy yang ngambil kunci kantornya sambil nonton mbah surip konser di tivi. Saya langsung memperlihatkan bab terakhir saya dan langsung dibaca. Belum ada lima menit, sang pembimbing langsung bilang, "Oke, ini kapan sidang?" Wakwaaaaawwwwwww... Dengan pedenya saya menyebutkan nama hari, tanggal sekian, dan orang-orang yang mau disidang. Jadwal pun langsung dibuat. Saya mengangguk sambil berharap teman saya yang juga mau bimbingan segera datang. Akhirnya, teman saya datang dan saya menunggu dia sambil ngantuk-ngantuk karena kurang tidur semalam.
Selesai dari sana, saya dan teman saya cabut menuju kampus. Buru-buru perbaikan dilakukan karena mencuri dengar bimbingan teman saya itu, kayaknya masih banyak yang perlu dirombak. Berkejar-kejaranlah saya dengan waktu dan jam deadline hari itu. Wuuueeeekkksss!!! Mau muntah melihat tulisan yang kecil-kecil dan banyak itu. Hasilnya saya gak yakin bagus dan waktunya terlalu cepat berputar-putar di sekeliling saya. Teman saya ada yang belum tidur karena mengejar jadwal deadline hari itu dan ironisnya masih harus perbaikan lagi. Ingin sekali melompati waktu supaya bisa melihat dan mengantisipasi apa yang akan dihadapi. Jilid tugas pun sudah selesai dan saya kudu mencari-cari tanggal yang masih tersedia. Ternyata, saya nggak bisa disatuin dengan yang lain, saya harus mundur beberapa hari karena jadwal sebelumnya sudah padat, mirip antrean dokter. Ya sudah, asal bisa tampil, tak apalah mundur. Pengaturan tanggal itu juga agak lama soalnya nunggu pembimbing yang masih menyidang. Akhirnya, dengan agak memaksa, tanggal yang mundur itu pun disetujui.
Berkubang dengan kertas serta bertarung dengan waktu dan teori membuat saya begah ngeliat komputer dan buku-buku yang berantakan di rak saya. Saya mau ongkang-ongkang kaki sambil menatap langit biru dan menyeruput es kelapa muda. Sayangnya, perjuangan belum berakhir.
I'm still in the battle (again)!!!...Mantaabbhh!!!
Kamis, 25 Juni 2009
shapes
I am learning drawing shapes and still learning the composition. There are several shapes that I made, but the pictures aren't good cause I took them with my cellphone camera. If you are the artist of drawing and sketching, please write the comment. It's really nice to get an evaluation from the expert. ^__^






Rabu, 24 Juni 2009
Mau Dirias?

Memang, sebagai cewek yang jarang memakai make-up, pasti gampang ditebak orang kalau emang si cewek ini gak pernah make-up-an. Jangankan pake perintilan make-up, seperti blush-on, eyeshadow, lipstick, dan lain sebagainya, pake bedak pun jarang. Syukur-syukur kalau ingat untuk pake bedak plus sunblock. Itu sih saya, tapi ini juga dialami teman saya. Seorang perempuan aktif yang sekarang lagi cuti karena sibuk ngurusin tugas akhirnya.
Sebenarnya, cerita ini cuma obrolan iseng di tengah jalan setelah kembali makan siang di kampus sebelah. Kami sedang berbicara masalah sidang, bagaimana ketakutan kami menjelang sidang, dan bagaimana cara kami menekan rasa ketakutan kami. Ujung-ujungnya sih, "Bodo amat ah, gue pasrah ajah!" Begitu kata si Theena sambil cekikikan.
Obrolan di tengah jalan pun berlanjut hingga teman saya yang jarang make-up ngomong, "Eh, masa' saya di bus diajak ngobrol ama ibu-ibu."
Saya yang memang eror menanggapi begini, "Diajak ngomong apaan, mbak? Dihipnotis ya? Diguna-guna? Diajak berantem?"
"Bukan. Bukan. Denger duluuuu...." Lalu, saya diam.
Teman saya yang jarang bermake-up itu bilang, "Jadi, di bus, saya ditanya ama ibu-ibu. 'Mbak, udah nikah?' Saya bilang, 'Belum.' Trus, dia nanya lagi, 'Mau dirias gak, mbak?'"
Saya bilang, "Mau aja dong, mbak. Kan enak didandanin."
Teman saya yang jarang make-up bilang begini, "Saya nggak mau. Saya bilang aja, 'Saya nggak suka dandan, Bu.'"
Saya dan teman saya yang mendengar langsung nyerocos kecewa, "Yaaaaah, mbaaak...kan lumayan kaloo didandanin..bla-bla-blaaaaaaaaa."
"Tunggu dulu," katanya lagi. "Ternyata, yang dimaksud dirias itu pake susuk."
WAAAAAKSSS!!! Susuk??!!!
Teman saya yang satu lagi langsung cerita tentang susuk. Mulai dari modelnya susuk: ada yang emas ato berlian; trus ditaruhnya terserah mau di mana. Kalau di mata, biar lirikan oke. Kalo di sini, biar oke. Kalo di sana, biar oke juga. Pokoknya serba oke. Nah, di bibir juga oke biar omongannya oke dan membuat orang tersepona.
Kalo begitu, saya bilang, "Boleh juga tuh. Pake pas mau sidang aja. Setelah itu, copot lagi." Hahahahahahahaha....Teman saya yang lain tertawa dan mengamini.
Andai itu nggak musyrik, mungkin jalan pintas yang bolehlah diperhitungkan. Tapi, saya masih berada dalam barisan "Hai, orang-orang yang beriman" dan percaya dengan kemampuan diri sendiri.
Love myself and proud of it!!!
gambar dari sini
Minggu, 21 Juni 2009
try the cupcakes
It's been a long time I really wanna taste the cupcakes. LOL. Finally, I found it in one mall. I bought three vanilla cakes with different decoration. The first is rasberry taste and delicious. The picture have been put in my written before. And my friend told me that the cake decoration like -p*p- in Sinchan movie because the spiral form.

The second is strawberry taste. It's sweet and delicious too.

The third is blueberry. It's sweet and like before, it's delicious.

Wanna try??!!!
The second is strawberry taste. It's sweet and delicious too.
The third is blueberry. It's sweet and like before, it's delicious.
Wanna try??!!!
Selasa, 02 Juni 2009
Sapi Hilang, Sapi Malang
Ketika membuka facebook, ada status yang membuat saya ketawa sendiri. Tulisannya begini:

Saya pikir, ini cuma bohongan. Nemu lelucon konyol di lembaran-lembaran koran kuning atau buku-buku yang memang khusus untuk cerita-cerita konyol. Gak taunya...ini adalah kisah nyata dari bos saya. Sambil cerita dengan tawa kecil, bos saya bilang, "Orang tak ada yang percaya kalo status saya kisah nyata. Semuanya pada tertawa ketika saya cerita. Tak ada yang simpati." Kurang lebih, begitulah bos saya bercerita. Hahahahaha. Saya yang mendengarkan juga mau tertawa karena cerdas sekali sang maling hingga menulis surat seperti itu. Hebat!!! Memang kreatif dan percaya diri dengan pekerjaannya sebagai maling...Hehehehe...
Sapi2 adikku di kampung dicuri. Tapi yang kecil2 dibiarkan di kandang. Si maling pesan: yang kecil2 kau pelihara, nanti jika sudah besar baru aku curi lagi.
Saya pikir, ini cuma bohongan. Nemu lelucon konyol di lembaran-lembaran koran kuning atau buku-buku yang memang khusus untuk cerita-cerita konyol. Gak taunya...ini adalah kisah nyata dari bos saya. Sambil cerita dengan tawa kecil, bos saya bilang, "Orang tak ada yang percaya kalo status saya kisah nyata. Semuanya pada tertawa ketika saya cerita. Tak ada yang simpati." Kurang lebih, begitulah bos saya bercerita. Hahahahaha. Saya yang mendengarkan juga mau tertawa karena cerdas sekali sang maling hingga menulis surat seperti itu. Hebat!!! Memang kreatif dan percaya diri dengan pekerjaannya sebagai maling...Hehehehe...
Langgan:
Entri (Atom)




































