
"Sabar, ya," katanya.
"Iya. Ini udah sabar," jawab saya sambil melotot ke arah orang itu.
Akhirnya, surat kerja yang dinanti-nanti muncul juga. Setelah berbulan-bulan menanti, JREEEENG surat itu ada di depan mata. Tidak terlalu membanggakan karena cuma tulisan yang bisa saya ketik sendiri di atas kertas dengan watermark lambang pendidikan yang juga bisa saya buat sendiri.
Ceritanya, saya dipanggil bersama dengan teman-teman satu angkatan untuk menerima surat tersebut. Ini seperti rapat kecil dengan monolog si kepala. Satu per satu dijelaskan tentang kewajiban dan larangan saya dan teman-teman selama di sana. Satu kalimat yang saya ingat adalah "Gerak-gerik kalian diawasi." Saya merasa berhadapan dengan Tuhan kalau seperti ini.
Ketika beralih tentang hak saya dan teman-teman, monolog kembali berucap, "Rezeki setiap orang beda-beda." Maka itu, setiap tanggal surat pun beda-beda. Masalahnya, saya dan teman-teman mendaftar barengan, ikutan kegiatan barengan, dan masuk kerja barengan. Aneh sekali ketika tahu tanggal surat pun beda-beda.
Hak yang diterima pun hanya satu kali dengan omongan, "Beruntunglah orang yang mendapat tanggal satu bulan sebelumnya." Lalu ditambahkan, "Sepertinya mereka tak mau rugi memberikan hak kalian." Sebaliknya, saya--kami--merasa rugi karena mereka tak peduli dengan hak kami.
"Jadi, jangan protes, ya," katanya lagi dengan tampang mengintimidasi.
"Nggak. Sudah jelas, kok," jawab saya menatap dia jengkel.
"Harus ikhlas kalau di sini."
Saya diam. Menatapnya sambil meringis. SIALAN!
picture from here






























0 komentar:
Poskan Komentar