sakit begini, divonis begitu

April 07, 2009

Dua minggu yang lalu, keluarga saya panik. Awalnya sih biasa saja, nggak panik-panik amat. Tapi, karena ini berhubungan dengan kesehatan, keluarga saya panik.


Bapak saya yang membuat panik keluarga saya karena sakit dbd (itu kata dokter mengingat trombositnya turun mulu). Dua hari di rumah dan diberi beberapa minuman untuk menghindari rumah sakit. Pasalnya, dokter juga belum tahu obatnya apa. Bapak juga setuju akan dirawat di rumah aja dengan ancaman harus minum banyak air. Entah itu air putih, angkak, madu, atau jus jambu kelutuk, pokoknya semua air diminum.

Awalnya sih biasa aja. Bapak juga sudah setuju akan dirawat di rumah. Tapi, kakak saya yang sedang bekerja selalu nelepon ke rumah dan nanya, "Bapak gimana? Udah di bawa ke rumah sakit belum?"

Pertanyaan ini sebenarnya biasa aja karena kakak saya yang lain juga udah ngasih tahu bapak berbagai pengobatan aletrnatif supaya trombositnya naik. Tapi, karena diteleponin mulu dan dibilang, "Harus dibawa ke rumah sakit. Emang bapak gak berasa, tapi di dalamnya itu virusnya lagi menggerogotin. Mesti cepet dibawa ke rumah sakit. Kalau nggak, nanti bisa fatal."

Waduuh, mengingat berbagai berita yang saya baca tentang korban DBD dan berbagai curhat di internet, saya jadi merinding. Sejak saat itu, saya jadi merasa aneh, panik, dan takut juga. Sorenya, Bapak mau ke rumah sakit yang tidak disebutkan namanya.

Rumah sakit ini nggak gede-gede amat. Mungkin, baru beberapa tahun menjadi rumah sakit. Awalnya, ini hanya sebuah klinik yang dibangun di atas tanah kosong yang sering saya lewatin waktu kecil. Bangunannya juga bukan bangunan asli soalnya banyak bangunan yang ditambah dari bangunan utama. Saya juga sebagai salah satu pasiennya di sana. Dulu, rumah sakit ini masih sepi, pasiennya sedikit, tapi boleh dikata dokternya oke-oke. Sekarang, pasiennya banyak. Apalagi udah berubah jadi rumah sakit. Tiap balik kantor, pasti banyak mobil pasien yang kontrol pada parkir di pinggir jalan karena lapangan parkirnya nggak muat.

Nah, Bapak mau dirawat di rumah sakit itu. Mungkin, juga karena dekat dengan rumah, jadi yang nungguinnya gampang. Sore masuk dan malam saya jenguk, Bapak masih ketawa-ketiwi. Tapi, besok paginya, malah terkulai tak berdaya. Napasnya cepet naik-turun, sering mengigau, badannya jadi bengkak, dan agak gelisah kalau tidur. Saya browsing tentang penyakit DBD, mencoba membaca pengalaman orang-orang yang kena, trus memerhatikan hasil cek darah yang dipegang ama suster: trombosit, leukosit, kekentalan darah, dan hemoglobinnya. Pasalnya, kalo kita nggak tahu, biasanya nggak dikasih tahu sama suster atau dokternya. Ini juga mengingat pengalaman seseorang yang akibatnya fatal banget gara-gara satu poin dari hasil cek darah luput. Ironisnya, kejadian itu terjadi di rumah sakit, tempat Bapak saya dirawat.

Karena perubahan drastis kondisi Bapak yang semakin menurun, seperti nafas naik-turun dan cepat, agak sesak di dada, mikirnya jadi lama, dan lidahnya agak pelo, saya lapor ke suster. Mengapa saya lapor ke suster? Karena, dokternya susah banget ditemuin. Alasannya libur atau dokternya lagi ada di ruang ICU yang pasiennya banyak. Akhirnya, datanglah dokter jaga yang memeriksa Bapak saya. Kata sang dokter, Bapak harus periksa EKG. Wadooh, kok EKG dibawa-bawa. Padahal, Bapak nggak punya keluhan ama jantung.

Sehari sebelum pulang, kondisi Bapak sangat drop. Beda banget ama waktu sehat. Setelah trombosit naik, vonis dokter pun tiba. Katanya, ada masalah dengan irama jantung Bapak. Aduuh, saya lemes banget dengernya. Soalnya, saya jadi ingat almarhumah bude saya yang juga sakit jantung. Nggak hanya itu, vonis dokter juga bilang bahwa Bapak menderita gejala stroke karena lidahnya yang pelo. Ini kedua kalinya saya gak nyaman dengan diri saya. Pengen nangis. Bapak pun diminta CT-Scan buat ngeliat ada apa di tempurung kepalanya. Saya langsung nelepon kakak saya. Pada saat itu, kakak saya nggak mau CT-Scan di sana alasannya tentu saja ekonomi, mahal booo. Akhirnya, Bapak saya ditarik pulang ke rumah dan besoknya pindah rumah sakit.

Jangan salah, proses mengeluarkan Bapak dari rumah sakit itu aja sangat berbelit-belit. Ribet amat. Bolak-balik belum juga boleh keluar. Payah banget deh. Gara-gara ini, saya jadi inget cerita tukang urut yang mesti marah-marah dulu supaya dapet kamar. atau sodaranya yang udah kolaps dan akhirnya meninggal hanya karena nunggu administrasi yang lama banget.

Di rumah, Bapak bukannya segar dan sehat, malah terkapar tak berdaya di tempat tidur. Tiap saat, saya mesti bangun untuk ngurus Bapak yang buang urin dan sebagainya. Tidurnya juga gelisah. Ibu saya nangis melulu melihat Bapak saya yang lemah dan terkapar banget. Ngangkat badannya aja Bapak nggak bisa. Saya juga sedih melihat begitu, tapi mau gimana, masa' saya harus nangis juga.

Besoknya, Bapak dibawa ke rumah sakit lain. Di sana, Bapak mulai diperiksa ulang kesehatannya. Dari CT-Scan, mungkin ada yang gak normal. Ke saraf, Bapak nggak divonis stroke. Kata dokter, lidah kaku dan pelo itu karena kering. Kakinya bengkak karena kurang aktivitas. Bahkan, di poli jantung, Bapak baik-baik aja, malah Bibi saya yang dimarahin karena membawa orang normal ke poli itu. Sejak saat itu, semua obat dari rumah sakit sebelumnya diminta nggak diminum lagi karena ada obat jantungnya.

Malamnya, ada teman kakak saya yang ahli herbal dan pengobatan Islami datang ke rumah. Bapak dirukyah air dan dipijat beberapa bagian. Nggak lama, Bapak udah bisa jalan lagi walau nggak segagah dulu. Teman kakak saya itu bilang, "Ini bermasalah dengan ginjalnya. Hati-hati ini." Saat itu, kami biasa-biasa aja karena belum ada vonis mengerikan. Tidur udah enakan walau malamnya harus bener-bener dijagain. Saat itu, saya bersyukur banget. Pengen rasa meluk seseorang.

Besok, Bapak kembali cek-up di poli THT. Hasilnya juga biasa-biasa aja. Malah cuma dikasih vitamin doang. Lalu, hasil tes darah bapak yang kemarin diambil. Hasilnya, Bapak gagal ginjal, tapi nggak tahu akut atau kronis. Melihat ini, urine-nya harus diperiksa selama 24 jam.

Penjagaan urine pertama gagal, begitu juga yang kedua. Yang ketiga, nggak gagal, tapi lupa menghitung berapa banyak urine yang keluar selama 24 jam. Mau nggak mau, akhirnya tetep diperiksa walau Bibi saya bilang, "Ini memengaruhi pemeriksaan lho." Ya sudah, kalo begitu nanti diperiksa lagi deh, begitu pikir saya. Nah, pengobatan yang dilakukan saat ini adalah menjauhi obat-obat kimia, kembali ke ajaran-ajaran Islami.

Saat ini, saya masih bersyukur melihat Bapak yang sudah lebih baik walau masih terlihat lemes dan kurus. Turun enam kilo boo...

Kejadian ini sempet membuat saya panik. Makanya, kerjaan banyak yang nggak beres dan tugas kuliah dilupain buat sementara waktu. Ini juga membuat saya sadar kalau pasien itu harus cerewet. Kadang kita setuju-setuju aja ama berbagai permintaan rumah sakit atau dokter karena emang kita nggak tahu apa-apa tentang medis. Jadi, hati-hati dan kritis terhadap rumah sakit itu perlu karena emang udah banyak kejadian yang membuat pasien menerima segala vonis-vonis itu. Ada seorang teman pernah cerita, pasien cuma sakit maag malah divonis kanker. Weleh-weleh...pegimane ini???

*Foto dari sini.

You Might Also Like

0 komentar