I'm here in Bangkok!

09.17.00

Don't tell me how educated you are, tell me how much you have traveled.
--Muhammad

Iseng-iseng pernah tercetus omongan, "Yuk, kita jalan-jalan bareng temen-temen rumah kaca." Saat itu, langsung tersembur dari mulut saya jawaban langsung dan tegas, "Ayo. Kapan?"

Hitung-hitungan biaya dan waktu akhirnya terputuskanlah bulan April ini bareng delapan teman hingga kami pun terbang ke negeri gajah putih alias Thailand. Tujuannya sih standar aja, gak neko-neko. But, next, tujuan wisata ke negeri ini harus yang lebih fantastis wuehehe.

Awalnya rada rempong. Karena kami sembilan orang, kami dibagi dua kelompok. Kloter pertama bawa mobil dan jalan duluan, sedangkan kelompok kedua naek taksi. Saya kebagian yang naik taksi. Tapi, di bandara, kloter kedua nyampe duluan dong dan kami panik karena menjelang pesawat mau boarding, teman-teman saya yang telat dateng tertahan di meja check-in. Kenapa? Kursinya udah dijual dong sama maskapai penerbangannya. Alasannya sih teman-teman saya ini telat. Padahal, udah dibilang sama petugasnya check in bahwa mereka pasti dateng, cuma terhambat macet. Ujung-ujungnya enam orang pakai penerbangan M, tiga orang dipaksa pindah pesawat. Mereka naik maskapai penerbangan A dan turun di bandara yang berbeda. Belum lagi kursi kami di pesawat yang ternyata tidak dipasangkan dengan teman kami masing-masing. Semuanya terpencar gak jelas. Halaaah!

Perjalanannya sih rada lama: 3 jam. Herannya ya, ibu-ibu dan bapak-bapak di sebelah saya malah ngobrol terus dari sebelum pesawat take off sampai landing di negeri tetangga. Saya berusaha nahan makan :)) karena taulah ya makanan di pesawat mahal. Tapi, teman saya niat banget beli kacang seharga 30 ribu di sana.

Kami tiba di Suvarnabumi, Bangkok, sekitar pukul 20.00 dan langsung dijemput oleh local guide. Awalnya, saya pikir, guide saya itu TKI yang mencari segenggam berlian di sana. Jujur, wajahnya gak ada mirip-miripnya sama orang Thailand yang cenderung sipit :D. Guide saya ini bernama Ahmad dari Suku Patani yang tinggal di selatan Thailand, dekat sama Malaysia. Abis dari bandara ini, kami segera menuju bandara Don Mueang, Bangkok, untuk jemput tiga teman kami yang terpental di sana. Baru deh kami makan malem dengan menu wajib tom yam dan telor dadar selama tiga hari di sana. Tapi, yang namanya buah cukup melimpah di sana. Buah potong itu banyak banget dijual di jalan. Mangganya paling enak.Sayangnya, sebagai tempat kelahiran duren monthong, kami sama sekali gak makan entuh buah lho. Wuehehe.

Tiga hari di sana, tiga kali ganti hotel. Berasa banget orang kaya, padahal capek juga packing mulu. Hahaha. Besok pagi setelah packing, kami langsung diangkut ke Pattaya yang jaraknya jauh banget sampe capek duduk di mobil kelamaan. Pas sampe Pattaya, saya dan teman-teman diajak ke Noong Noch Village yang isinya pertunjukan seni Thailand. Budayanya mirip: kainnya sama, bajunya sama, gerakan, dan permainannya juga sama. Yang ngebedain adalah gajah dan banyak cowok berubah jadi cewek. Kami segera lanjut ke tempat madu yang si ibu yang neranginnya orang Indonesia, terus ke floating market. Floating market ini sebenarnya gak sesuai ekspektasi. Di kepala saya, floating marketnya kayak floating market di Banjarmasin: unik, ramai, dan nuansa tradisional ada. Ternyata, cuma jalan keliling sepanjang jembatan kayu yang di sekitarnya banyak toko makanan dan suvenir. Perahunya cuma nempel di tepi dan penjualnya kebanyakan lagi masak. Ada lho yang jual sate buaya. Hiii...gak tega buat makannya.

Terus ke Laser Buddha yang katanya dibuat pake laser di tebing gnung batu. Mungkin kalo malam akan megah karena ada lampu-lampu. Kayaknya sih begitu. Malemnya, mampir ke adeknya Madame Tussaud alias Louis Tussaud. Hahaha. Gak tau ya mereka punya kekerabatan apa, yang jelas kami diajak ke Louis Tussaud di Pattaya. Beberapa artis ada walo tampangnya kebanyakan gak mirip-mirip amat. Tapi yang ganteng tetep Tom Cruise dong di Mission Imposibble. Tokoh fiksi banyak banget di sana, bahkan Hitler muncul di antara para tokoh Batman dan Freddy Krueger.

Berikutnya kami diajak ke Gems Gallery yang sama sekali dilarang foto, bahkan di ruang tunggunya gak boleh foto. Di sini, presentasi perusahaannya mirip istana boneka. Kita naek kereta dan muter-muter hingga ngeliat proses mempercantik batu-batu mulia itu. Nyambung lagi ke galeri yang ngejual perhiasan. Saya langsung mempercepat langkah kaki saya karena gak sanggup ngeliat harganya. Perak yang paling murah aja 700rebo, gimana harga berliannya. Hiks.

Itinerary kami berubah karena museum 3D konon direnovasi dan nights market-nya ditutup karena songkran: tradisi Thailand dengan melemparkan air sebagai tanda pergantian tahun dan kemakmuran. Gantinya kami ke Mini Siam yang mirip Taman Mini, tapi lebih bagus Taman Mini. Kalo Taman Mini, ukurannya kan gak mini-mini banget dan representasi budaya Indonesia. Kalo Mini Siam ini beneran mini banget dan representasi bangunan-bangunan di dunia. Sayang, satu bangunan terkenal di Indonesia gak ada di sana.


Back to Bangkok! Di sini, jadwal yang tersisa diabisin. Pagi-pagi kami segera ke Wat Arun lewat Sungai Chopraya yang gede banget. Di Wat Arun, saya dan ibu senior berhasil naik ke tingkat yang tertinggi dan meninggalkan tanda tangan di sana wuehehe. Tangganya curam abis, makanya kudu pegangan. Foto-foto di Grand Palace--istana raja--yang ternyata gerbang keduanya ditutup yee dan gak boleh pake celana atau rok pendek. Di sini rame dan panas banget. Gak tahan lama-lama di sini.

Next! Kami diajak ke tempat belanja: Chatuchak, MBK, dan Platinum. Menurut saya sih yang paling oke Chatuchak karena beneran pasar dan sebenernya luas banget. Barang-barangnya juga unik. Kalo mau yang rada modern, ya ke Platinum Mall di samping Kedubes Indonesia. Dibanding Mangga Dua, saya rasa sih lebih mirip Ambassador/ITC Kuningan. Di sini, baju-baju dijual eceran dan grosiran. Nah, yang biasa-biasa aja kayak ITC pada umumnya adalah MBK. Soal harga, menurut saya sih sama aja kalo dirupiahin. Gak beda jauhlah. Emang ada sih yang 50reboan, tapi jarang banget. Paling sering itu yaa 70reboan sampe 90reboan. Mentok-mentok paling mahal sekitar 150reboan. Karena rada kere, saya pun beli ala kadarnya dan tergantung sisa uang di kantong.

Nah, sebagian kecil penjual di sana udah bisa ngomong bahasa Indonesia. Bahkan, ada yang nerima rupiah. Tapi, jangan terlalu berharap banyak karena mereka cuma bisa angka doang dan "murah sekali", selebihnya lo kira-kira sendiri :)). Pas ditanya, "Belajar bahasa Indonesia di mana?" Mereka cuma bengong dan gak ngerti. Halaaah!


But, I love to explore this country again, especially Chatuchak Market. Iri lho ngeliat Ishai Goran jalan-jalan di pasar ini yang luas banget dan ternyata ada apa aja. Wuehehe. 

You Might Also Like

3 komentar

  1. wuaa, baca cerita ini jadi pengin ke sana, luuur.
    kapan-kapan, semoga bisa jalan bareng yaa. :D

    BalasHapus