Everything is Illuminated (Film): Menelusuri Jejak Masa Lalu Safran Foer

09.45.00




I have reflected many times upon our rigid search. It has shown me that everything is illuminated in the light of the past. It is always along the side of us, on the inside, looking out. Like you say, inside out. Jonathan, in this way, I will always be along the side of your life. And you will always be along the side of mine.

Mungkin, kalau saya bicara film ini sekarang, pastinya dianggap basi banget karena film ini sudah dirilis sekitar tahun 2005. Saya juga nonton film ini sudah lama banget. Itu pun secara enggak sengaja ngeliat film ini ada di deretan film rekomendasi Video Ezy. Tapi, berhubung akhir-akhir ini HBO beberapa kali memutar film ini, rasanya gatel juga gak ngebahas Everything is Illuminated sebagai film yang menurut saya bagus dan layak banget untuk ditonton. Recommended-lah.

Film ini merupakan besutan Liv Schreiber yang selain sebagai sutradara, dia juga berperan sebagai screenwriter. Kalau nama Schreiber kurang familiar di telinga Anda, pastinya masih ingat pemeran Ray Donovan dalam miniseries yang judulnya sama atau pemeran Ted Winter, tandemnya Angelina Jolie, di film Salt. Film ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama karya Jonathan Safran Foer dan masuk kategori drama biografi si Foer sendiri karena memang tokoh utama dalam film ini adalah si Jonathan yang diperankan oleh Elijah Wood. FYI, saya belum membaca bukunya :D. 

Film ini berkisah tentang Jonathan Safran Foer, seorang Yahudi Amerika, yang sengaja datang ke Ukraina untuk menelusuri jejak keluarga kakeknya. Di Ukraina, Jonathan mengikuti Jews Heritage Tour yang dikelola oleh sebuah keluarga. Jonathan pun dipandu oleh kakek yang terlihat antisemit dan cucunya yang bernama Alex yang sangat Amerikais. Karena Amerikais, dia adalah translator antara Jonathan dan orang-orang di Ukraina, termasuk sang kakek. Sebenarnya, travel yang dipilih Jonathan ini gak canggih-canggih amat, malah cenderung tidak terkoordinasi dan tidak berpengetahuan layaknya sebuah agen travel. Pernah suatu kali mereka nyasar entah di mana, bukannya si kakek dan Alex yang seharusnya bertanggung jawab, mereka malah bertanya kepada Jonathan yang hanya punya panduan peta yang dia sendiri pun enggak yakin membacanya. Setelah melewati jalan-jalan di Ukraina yang panjang, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat bernama Trachimbrod yang konon merupakan kota kecil di Ukraina yang sudah dihapus dari peta.

Di Trachimbrod ini, mereka bertemu dengan seorang perempuan tua (bernama Lista) yang ternyata saudara perempuan Agustina. Si Agustina ini adalah istri dari Safran, kakeknya Jonathan. Namun, Jonathan selamat dari pembunuhan Nazi karena dia sudah pergi lebih dulu ke Amerika, sedangkan Agustina tewas tertembak di tangan Nazi. Kemudian, Lista mengajak mereka pergi ke monumen Trachimbrod. Di sanalah dia bercerita mengenai kekejaman Nazi kepada penduduk Trachimbrod. Pada akhirnya, apa yang diinginkan oleh Jonathan dalam pencariannya pun sudah ia dapatkan. Begitu juga dengan Alex dan kakeknya. Secara tak sengaja, kisah yang terbuka untuk Jonathan, juga terbuka untuk Alex dan kakeknya hingga sang kakek pun mengakhiri hidupnya.

Kisah di film ini memang sederhana, tetapi sederhana yang bagus. Gak salah kalau Video Ezy meletakkan film ini di jejeran film-film rekomendasi karena kisah yang sederhana dibuat menjadi begitu luar biasa. Etapi, masih ngerti, kan, apa itu Video Ezy? Hehehe. Untuk anak-anak 90-an biasanya ngerti banget apa itu Video Ezy :D.

Kalau boleh saya bilang, film ini dikategorikan sebagai film pencarian jati diri. Pencarian diri dari Jonathan serta pencarian diri Alex dan kakeknya. Setelah mereka menemukan siapa sebenarnya diri mereka, mereka sadar bahwa mereka saling terkoneksi. Nazi dan perang yang membuat segalanya menjadi begitu menyedihkan dan menyakitkan. Dengan kejam, mereka memaksa orang untuk berpisah dari orang-orang yang dikasihi. Beruntung bahwa Lista bisa selamat dari kekejaman Nazi walau dia terlihat masih diliputi keragu-raguan jika bertemu dengan orang baru. Bahkan, Lista begitu ragu-ragu dan akhirnya menolak naik mobil untuk mengantar rombongan tersebut ke monumen Trachimbrod. Lista jalan kaki, sedangkan Jonathan, Alex, dan si kakek mengikutinya dengan mobil dari belakang. Ketika rombongan akan meninggalkan Lista dan Trachimbrod, Lista bertanya lagi, “Apakah perang sudah selesai?” Pertanyaan yang membuat saya terdiam sejenak, begitu juga Jonathan, Alex, dan si kakek.

Sebenarnya, film ini bukan tergolong film berat menurut saya. Ringan sebenarnya, tetapi ada bagian-bagian kisah yang memang agak miris, ironis, dan satire hingga kita diajak untuk berpikir. Film ini juga dikemasnya enggak serius-serius amat karena dibalut dengan musik yang terdengar jenaka dan pengambilan gambar yang bagus karena menunjukkan landscape-nya Ukraina. Kalau yang udah pernah nonton film Mr. Bean’s Holiday dengan latar landscape-nya Prancis; mungkin akan merasa dejavu karena landscape yang ditampilkan enggak jauh berbeda. Mirip-miriplah. Apalagi ketika mereka tiba di rumah Lista yang kanan, kiri, depan, belakang dikelilingi oleh pohon bunga matahari. Bagus banget.

Sebelumnya saya bilang musiknya terdengar jenaka itu bukan musik kartun ya, seperti musiknya Pink Panther. Bukan jenaka juga sih, tetapi musik yang ringan dengan instrumen tertentu yang sebenarnya kental dengan unsur folk. Ya, kebanyakan dari film ini memang menampilkan unsur musik folk. Musiknya digarap oleh Paul Cantelon yang meramunya dengan sentuhan-sentuhan musik tradisional Ukraina. Mau dengar?




Konon, lirik lagunya merupakan puisi dari Alexander Pushkin—seorang penyair Rusia—yang berjudul “To A.P. Kern”. Intermeso sebentar, puisi dengan judul ini sebenarnya ditujukan oleh Alexander Pushkin kepada kasih tak sampainya, Anna Petrovna Kern. Tapi, namanya juga puisi, banyak interpretasi. Jadi, ajeknya belum tahu sebenarnya puisi ini buat siapa. Yang jelas, puisi ini tentang cinta karena Pushkin memang terkenal sebagai penyair romantis *ehem*.

Overall, film ini—lagi-lagi—saya katakan sih bagus banget. Film rekomendasi yang patut ditonton. Ceritanya ringan dan enak juga lihat. Sayangnya, film ini gak masuk box office karena pendapatannya gak sesuai budget, padahal penghargaannya lumayan dan bagi sebagian orang, film ini merupakan pencerahan untuk mereka.

Buat yang penasaran sama film ini, silakan mantengin HBO dan kawan-kawannya. Siapa tahu film ini diputar lagi J

You Might Also Like

0 komentar