Kenalan dengan Symphonic Metal

20.30.00


Sebelum saya bicara soal symphonic metal, ada baiknya silakan didengar video ini.



Sebelum saya tahu apa itu symphonic metal, secara tak sengaja saya mendengar musik dari band Epica yang berjudul “Cry for the Moon”. Saat pertama mendengar musik ini, saya langsung ngerasa kayaknya musik ini cocok dengan saya deh. Mulailah saya ngulik-ngulik lagi musik sejenis yang ternyata enggak cuma Epica, tapi ada yang namanya Nightwish, Within Temptation, Xandria, dan banyak lagi. Nah, band-band tersebut akan saya bahas nanti di artikel-artikel saya selanjutnya.

Pada dasarnya, saya memang penyuka musik yang berbau rock dan metal, macam Limp Bizkit, Linkin Park, atau band lawas Metallica. Tapi, saya enggak konsisten dengerin musiknya. Dari band yang sama, mungkin saya hanya suka satu musik atau satu album, sisanya kadang enggak enak dinikmati telinga saya. Misalnya, Limp Bizkit sudah punya beberapa album, tetapi saya hanya suka satu albumnya, Chocolate Starfish and the Hot Dog Flavored Water (2000). Metallica juga sama, saya hanya suka beberapa musiknya dari beberapa album yang pernah mereka rilis. Musik rock yang cukup konsisten saya ikuti adalah Evanescence dengan vokalisnya Amy Lee. Sayangnya, Evanescence suka lama merilis album. Album terakhirnya dirilis tahun 2011 dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan merilis album baru karena konon Amy Lee lebih fokus sama album solonya.

Nah, kembali lagi bicara soal symphonic metal, apa sih simphonic metal itu? Bedanya sama metal biasanya apa?

Kalau mau bicara metal, tentunya saya akan menyinggung rock. Mengapa? Ini karena rock adalah induknya metal. Rock itu termasuk genre, sedangkan metal itu subgenre. Menurut sumber, musik rock itu lebih ringan dibandingkan musik metal yang cenderung progresif. Nah, metal itu punya subgenre lagi yang meliputi heavy metal, death metal, nu metal, dan sebagainya. Symphonic metal ini termasuk subgenre dari metal.

Kita mengenal musik metal itu sebagai musik yang keras, berat, dan cenderung memekakkan telinga dibanding musik pop atau simple rock. Biasanya, penyanyinya suka teriak-teriak hingga liriknya sulit sekali didengar jika kita tidak membaca teksnya. Bagaimana dengan symphonic metal?

Musik symphonic metal juga sama dengan musik-musik metal lainnya: berat dan keras, kadang juga bisa memekakkan telinga. Tapi, symphonic metal ini memasukkan elemen yang gak ada di musik metal lainnya, yaitu elemen musik klasik, seperti choir atau orkestra, berikut dengan instrumen-instrumennya. Alat musik yang tidak kalah pentingnya untuk subgenre ini adalah keyboard. Untuk beberapa band, keyboard itu tidak kalah pentingnya dengan alat musik utama lainnya.

Vokalis utama untuk subgenre ini sering kali perempuan yang biasanya terlatih menyanyikan lagu opera. Sebut saja, Epica (seperti yang sudah didengar musiknya), Nightwish, Xandria, atau Within Temptation. Keempat band tersebut memiliki metal front woman yang terlatih menyanyikan lagu opera walau suara vokalis Within Temptation tidak sekuat ketiga band lainnya.

Band yang berlabel symphonic metal itu sebenarnya banyak dan tersebar di berbagai negara, terutama Eropa, seperti Belanda, Jerman, atau Finlandia, dan Amerika Latin. Dibanding subgenre metal lainnya, seperti heavy metal atau progresif metal, symphonic metal dianggap belum ada apa-apanya. Bahkan, ketika saya berbincang singkat dengan penggemar berat band metal, symphonic metal dianggap bukan metal karena ada nada-nada musik yang tidak sesangar metal, apalagi vokalisnya kebanyakan perempuan yang bernyanyi opera. Kalau diperhatikan, keharusan untuk memiliki suara opera itu gak terlalu banget sih. Tapi, kebanyakan symphonic metal itu identik dengan suara opera. Konon, yang pertama kali memperkenalkan suara opera beserta isntrumen orkestra ada di musik metal adalah band Believer asal Amerika Serikat lewat lagunya yang berjudul “Dies Irae”. Band Believer ini sebenarnya masuk kategori trash metal, bukan symphonic metal, dan Amerika Serikat bukanlah negeri penikmat musik symphonic metal. Jadi, agak lucu bahwa yang memopulerkan symphonic metal justru bukan band dari negeri yang punya banyak band bergenre symphonic metal saat ini.

Untuk beberapa band, metal front womannya tidak harus bersuara opera. Misalnya, Sharon del Adel, vokalis Within Temptation, sering kali tidak bersuara opera karena memang musik-musiknya lebih enak didengar tanpa suara opera, tapi band ini tetap memasukkan unsur musik klasik di dalamnya. Untuk nada tinggi sih, Sharon akan menggunakan suara operanya, sama dengan vokalis Epica. Tapi, sepertinya pakem symphonic metal untuk Within Temptation ini gak terlalu ya karena album The Unforgiving gak ada unsur-unsur symphonic-nya, malah terdengar seperti rock pada umumnya walau saya pribadi suka banget sama album ini. Di album ini, Sharon sama sekali gak bersuara opera walau ada nada tinggi juga.

Sharon del Adel (ketiga dari kiri), vokalis Within Temptation








Simone Simons, vokalis Epica, juga tidak selamanya bernyanyi dengan suara opera walau unsur symphonic selalu ada dalam setiap albumnya. Ada beberapa lagu yang dinyanyikan dengan suara normal. Epica adalah band symphonic metal pertama yang saya dengarkan dan saya sempat terpana bahwa ada lhoo penyanyi metal cewek yang tetep cantik, beda banget dengan gambaran cewek metal pada umumnya. Karena pertama, Epica adalah satu band favorit saya. Lagu-lagunya gak pernah bosen saya dengarkan dan selalu menjadi bagian dari playlist saya. Dalam setiap album, unsur choir dan orkestra kuat banget di band ini, selain musik-musik metal tentunya. Di setiap album juga, terdapat pola atau urutan lagu yang sepertinya menjadi ciri khas dari Epica. Salah satu jenis musik Epica sudah saya tampilkan sebelumnya di tulisan ini. Nah, kalau mau mendengar satu lagu Epica favorit saya bisa meluncur ke sini.  

Simone Simons (ketiga dari kiri), vokalis Epica


Vokalis yang konsisten dengan suara opera adalah Tarja Turunen ketika dia masih menjadi front woman band Nightwish. Semua lagu yang ada di Nightwish dinyanyikan dengan suara opera. Bagus, sih, tapi kadang membosankan karena saya merasa datar aja, kurang emosi dari si penyanyi walau teknik menyanyi Tarja bagus banget. Ketika Tarja keluar, vokalis perempuannya pun berganti ke Anette Olzon yang sama sekali gak bisa menyanyikan lagu opera. Jadi, sense-nya langsung berbalik 180 derajat. Banyak sih fans berat Nightwish yang mencaci Anette Olzon karena Anette gak bisa menyamakan vocal range-nya Tarja. Ya, iyalah, jenis suaranya aja beda. Tapi, gara-gara besutan Tuomas, suara Anette cocok-cocok aja untuk dua album Nightwish. Bahkan, ada satu lagu yang dinyanyikan Anette yang hanya cocok dengan suara dia, yaitu “Scaretale”. Bahkan, vokalis sekelas Floor Jansen pun kurang pas untuk menyanyikan lagu itu. Ketika Anette Olzon dikeluarkan dari Nightwish, vokalis berikutnya yang menjadi metal front woman adalah Floor Jansen. Si Floor Jansen ini bukan pemain baru di dunia symphonic metal. Sebelum bergabung dengan Nightwish, dia pernah bergabung dengan band symphonic metal bernama After Forever dan memiliki band bernama ReVamp hingga saat ini. Suara Floor boleh dibilang satu paket. Dia bisa suara normal dan opera serta kontrolnya dapet banget. Sangat profesional. Kalau Tarja cuma bisa suara opera dan Anette cuma bisa suara normal, sedangkan Floor bisa keduanya: komplet. Bahkan, kalau dibanding Tarja, skill Floor dalam bernyanyi malah lebih baik karena gak cuma teknik bernyanyi Floor yang bagus, tapi emosinya juga bagus. Untuk ke depannya sih, Nightwish bakal semakin oke jika melihat komposisi musisinya.

Floor Jansen (keempat dari kiri), vokalis Nightwish


Band symphonic metal yang cukup menarik perhatian saya adalah Xandria. Sebenarnya, saya enggak nge-fans banget, cuma pergantian vokalis front woman-nya membuat lagu-lagu band ini terdengar lebih kuat dibanding sebelumnya. Ini penilaian subjektif ya. Saya kenal Xandria ini juga dari teman-temannya sesama band symphonic metal. Dulu, yang saya tahu suara penyanyinya lembut banget, lebih lembut dari suara Sharon del Adel. Bagus sih, tapi agak ngebosenin karena kurang kuat. Jadinya, saya gak terlalu ngikutin perkembangan band ini banget. Nah, sekitar tahun kemarin, ternyata band ini sudah ganti dua kali vokalis. Dua vokalis terakhir termasuk suara yang kuat, opera gitu, setipe sama Tarja-lah. Tapi, yaa karena karakter beda-beda, mereka gak opera banget kayak Tarja, terutama vokalis yang terakhir ini, Dianne van Giersbergen. Nah, si Dianne ini juga salah satu contoh bahwa metal front woman itu gak selamanya harus bergaya metal yang identik gak terurus dan kesannya acak-acakan, tapi metal yang cantik.

Dianne van Giersbergen (ketiga dari kiri), vokalis Xandria


Sebenarnya, band symphonic metal ini ada banyak, tapi yang cukup akrab dengan saya yaa band-band yang saya sebutkan tadi karena masing-masing dari mereka memiliki ciri khas. Memang, karena ada unsur metalnya, musik dari band ini juga keras, tapi gak sekeras progresif metal atau death metal karena di sini ada unsur symphonic-nya. Tapi, yaa, dengan kebanyakan musisinya berambut gondrong dan kalau tampil di panggung mereka biasanya melakukan head banging, jadinya musik ini digolongkan keras.

Teman saya pernah bertanya soal kesukaan saya dengan musik ini, “Kenapa sih elo suka sama musik beginian?” Ya, mungkin saya antimainstream hehehe. Jawaban saya, “Ya karena enak didenger telinga gue dan sepanjang gue bisa menikmati musik itu berarti musik itu cocok buat gue.” Ditambah lagi lirik dari kebanyakan lagu yang diciptakan oleh band symphonic metal itu bukan lagu cinta mainstream yang cenderung lebay. Biasanya, lirik yang diangkat itu seputar masalah sosial, kehidupan, eksistensi, atau kemanusiaan. Jadi, menurut saya, cakupannya sudah mengglobal sih, gak cuma mikirin diri sendiri. Memang, ada juga lirik lagu yang berhubungan dengan cinta, seperti yang dinyanyikan Nightwish atau Epica, tapi liriknya gak eksplisit dan lebay. Mereka cenderung membuat perumpamaan atau simbol-simbol sehingga kita sebagai penikmat cuma membuat kemungkinan artinya dari lirik-lirik yang ada. Istilahnya menginterpretasikan maksudnya.

Ya, memang genre ini kalah populer dibandingkan genre pop atau rock yang merambah dunia musik. Tapi, gak ada salahnya untuk didengarkan. Mungkin, ada musik dari band-band symphonic metal yang Anda suka ;).

You Might Also Like

0 komentar