Launching Buku Trinity: The Naked Traveler 7

09.34.00

Tahu , kan, ya kalau saya ngikutin buku-buku Trinity? :D. Sebenarnya, hampir semua buku dari Trinity saya punya. Dari 13 yang diterbitkan, lumayan saya punya  delapan bukunya. Sebenarnya, saya memang membaca dan mengoleksi buku yang hanya ditulis sendiri oleh Trinity, bukan buku yang ditulis bareng-bareng. Jadi, kalau macam antologi, sepertinya enggak masuk rak buku saya hehehe. Ironisnya, baru dua buku Trinity yang saya ulas hahaha, yaitu seri The Naked Traveler Around the World (buku 1 dan 2). Yang belum baca ulasan saya, silakan langsung dibaca “Trinity around the world: review singkat”. Mungkin, suatu saat, saya akan mengulas buku 1—4-nya juga :D. 

Panggung untuk Trinity dan MC

Nah, 6 Agustus 2016 kemarin, Trinity meluncurkan bukunya lagi, The Naked Traveler 7. Gak nyangka, ya, udah yang ketujuh aja sejak saya beli bukunya yang pertama.

Acara peluncuran buku The Naked Traveler 7 ini berlangsung di Gramedia, Central Park Mall, Jakarta Barat, pukul 15.00—17.00 WIB. Ketika saya datang dan ngantre untuk beli bukunya, acara sudah dimulai, maklum jalanan antara selatan dan barat itu jauh dari yang namanya lancar jaya; yang ada hanya tersendat dan padat di sepanjang jalan.

Trinity, travel writer, pada saat launching bukunya

Di sini, Trinity cerita soal pengalaman dia traveling, terutama yang dia tulis di buku TNT 7. Nah, yang disinggung saat launching adalah soal Afrika, Myanmar, dan Fiji. Ada juga soal Trinity diundang ke Frankfurt Book Fair, ditanya pendapat dan pengalaman, hingga spoiler untuk film The Naked Traveler. Ada pertanyaan menarik yang mewakili saya sebagai jilbaber, yaitu traveling dengan berjilbab, bisakah? Kata Trinity, “Enggak apa-apa dan enggak masalah.” Dia mencontohkan beberapa temannya yang aman-aman aja traveling dengan berjilbab, bahkan katanya dengan berjilbab, traveling malah lebih aman. Hmm, bener juga sih.  


Yang istimewa dari buku ini adalah penulis tamu, yaitu Jeng Yasmin alias sahabat travelingnya Trinity. Jeng Yasmin enggak dateng, tetapi panitia menghadirkan wawancara dengan Jeng Yasmin lewat powerpoint dan rekaman audio. Mungkin sama dengan pembaca Trinity di seantero Indonesia, saya juga penasaran berat sama sosok Jeng Yasmin, tapi hanya bisa menduga-duga lewat suaranya yang berat dan kok agak seram yaa ketika didengarkan (hahaha). Menurut Jeng Yasmin, dia memang enggan menampilkan diri. Dia sih menyebutnya enggak suka bersosialisasi, tapi menurut saya mungkin Jeng Yasmin enggan untuk jadi konsumsi publik karena agak aneh kalau traveler antisosial (mungkin begitu). Sebenarnya, soal Jeng Yasmin ini pernah disinggung di buku sebelumnya (The Naked Traveler Around the World), tapi di buku tersebut Jeng Yasmin enggak menulis. Yang nulis tetep Trinity, cuma Trinity memperkenalkan siapa Jeng Yasmin itu dari sudut pandang dia.

Di acara launching ini tentunya ada doorprize, tapi sayangnya saya enggak dapet. Walau gak dapet, saya tetep seneng karena dapet goodie bag. Mayan: karena masuk 100 pembeli pertama hahaha.

Antrean yang mau tanda tangan plus foto bareng Trinity

Acara pun ditutup dengan book signing yang ngantrenya panjang banget kayak ular. Karena saya agak males lama-lama berdiri, akhirnya saya turun ke lantai bawah untuk makan. Selesai makan, saya balik lagi ke atas untuk lihat masih adakah book signing, mungkin udah selesai. Enggak tahunya, antrean masih ada sih, tapi tersisa tiga orang doang. Saya ada di antrean terakhir hahaha. Untung banget, ya, karena perut udah kenyang dan gak perlu nunggu lama buat dapat tanda tangan dan foto bareng Trinity.

Bukunya dipegangin Trinity hahaha

Nah, perihal ulasannya, tunggu di tulisan saya selanjutnya yaa J

You Might Also Like

2 komentar

  1. Waw sayang nggak dapet hadiah pintu.. aka doorprize.. tp seneng dong dapat goodie bag...dan ttd mbak trinity...sy jg suka bukunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya seneng banget hahaha. Makasi sudah mampir :)

      Hapus