The Life-Changing Magic of Tidying Up (the Japanese Art of Decluttering and Organizing): Seni Beres-beres ala Marie Kondo

09.43.00

Saya pernah berpikir bahwa seseorang yang rapi itu merupakan bakat dan anugerah dari TYME. Jika seseorang itu memiliki jiwa untuk selalu rapi, itu berarti memang dari sananya dia seperti itu. Nah, kalau seseorang enggak rapi atau berantakan, itu juga berarti dari sananya enggak dikasi bakat untuk menjadi rapi. Misalnya, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, saya terkagum-kagum melihat kamar teman saya yang rapi banget. Kecil, tapi barang-barang yang dia miliki sesuai dengan tempatnya. Karakternya beda banget dengan saya. Saya bisa menjadi rapi pada awalnya, tetapi beberapa lama kemudian sesuatu yang rapi itu akan berubah menjadi berantakan. Dan, pada saat itu, saya merasa bahwa saya tidak berbakat untuk menjadi rapi.

Namun, prinsip saya ini bertentangan dengan prinsip Marie Kondo. Mengenai Marie Kondo ini, saya pernah menyinggungnya di tulisan saya Gaya HidupMinimalis dan Zero Waste. Menurut Marie Kondo, untuk menjadi rapi tidak harus memiliki bakat, tetapi butuh kebiasaan. Nah, konsep yang ditawarkan Marie Kondo ini bukan konsep angot-angotan seperti saya: awal rapi, selanjutnya berantakan; tapi konsep yang sekali diajarin rapi, setelahnya bakal rapi terus. Dia bisa mengatakan seperti itu karena hampir semua klien yang dia bimbing untuk menjadi rapi enggak ada tuh yang komplain ke dia karena kembali menjadi berantakan. Hampir semua kliennya rapi terus dan terorganisasi barang-barangnya. Ya, ada sebagian kecil yang gak selesai bimbingan atau Marie Kondo disuruh ngerjain sendirian (lha?). Intinya, sih, lewat bimbingan Marie Kondo ini, setiap orang akan belajar untuk menjadi rapi dan terorganisasi barang-barangnya.


Siapa, sih, Marie Kondo ini? Dia adalah orang Jepang yang senang beberes dan organize barang-barang. Bahasa kerennya organizing consultant. Dia menulis beberapa buku mengenai seni beres-beres dan menjadi bestseller di banyak negara. Salah satunya adalah The Life-Changing Magic of Tidying Up: the Japanese Art of Decluttering and Organizing. Buku ini masuk kategori New York Times Best Seller dan sudah terjual kurang lebih 3 juta eksemplar di seluruh dunia. Wow! Jumlah yang banyak untuk buku yang bicara soal beberes. Buku ini juga sudah memiliki versi terjemahan yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. 

Memang ketertarikan Marie Kondo dalam soal kerapian gak ujug-ujug datang. Dari kecil, Marie Kondo sudah suka dengan majalah rumah dan gaya hidup yang menampilkan berbagai tips dan trik seputar kebersihan rumah dan kerapian rumah hingga suatu kali dia membaca buku The Art of Discarding karya Nagisa Tatsumi yang bicara mengenai pentingnya menyingkirkan barang-barang yang gak penting. Gara-gara buku ini, Marie Kondo segera mengeluarkan barang-barang gak penting yang selama ini ada di kamarnya. Hasilnya, ada beberapa kantong sampah besar hasil dari mengeluarkan barang-barang gak penting itu. Ia terkesima dengan kamarnya yang berubah menjadi lebih lega, lebih terang, dan sirkulasi udara lebih baik dari sebelumnya. Nah, inilah yang membuat dia berpikir bahwa sekali perubahan besar-besaran untuk menjadi rapi dan terorganisasi dampaknya bisa mengubah mind-set kita secara langsung, dibanding perubahan yang pelan-pelan.

Kemudian, Marie Kondo mengembangkan apa yang ditulis Nagisa Tatsumi dan mencari formula yang tepat dalam hal tidy up dan organize. Menurut Marie, menyingkirkan semua barang yang enggak penting memang perlu, tetapi enggak harus menyingkirkan semuanya, kan? Maka itu, selain menyingkirkan barang-barang yang memang gak penting, seseorang juga harus dikelilingi oleh barang-barang yang dia sukai sehingga orang itu akan menjadi bahagia. Marie Kondo menggunakan istilah spark joy ketika kliennya memilih barang mana yang akan disimpan dan barang mana yang akan disingkirkan. Mengenai spark joy ini, Marie Kondo telah menerbitkan buku lainnya berjudul Spark Joy: An Illustrated Master Class on the Art of Organizing and Tidying Up yang akan saya ulas juga.

Yang perlu dilakukan untuk memulai beres-beres adalah mencari waktu yang tepat. Menurut Marie Kondo, beberes (tidy up and organize) itu adalah event besar yang sebaiknya dilakukan satu waktu, bukan pekerjaan harian. Iya, sih, kita perlu berbenah setiap hari, tetapi untuk mentransformasi dari yang berantakan menjadi rapi atau yang mau downsize gaya hidupnya, konsep Marie Kondo yang dikenal dengan metode konmari (konmari methods) ini perlu dilakukan pada satu momen aja. Mungkin, biar sekalian terasa perubahannya.

Metode konmari ini disusun berdasarkan pengalaman Marie Kondo dan sudah dipastikan sukses untuk berbagai tipe orang. Jadi, jangan disusun ulang berdasarkan kepribadian masing-masing. Kalau urutannya seperti itu, ya harus mengikuti urutan metode konmari.

Nah, yang paling penting dan yang paling harus diingat adalah memilah barang-barang berdasarkan kategori, bukan lokasi. Metode konmari membagi kategori menjadi kelompok pakaian, buku, kertas, miscellaneous items (CD, produk skin care, aksesori, dll), uang receh, sentimental items (buku diary), dan foto. Kategori yang sudah disusun Marie Kondo ini jangan diubah, tapi diikuti setiap urutannya. Jangan memilah barang berdasarkan lokasi karena akan membuat kita menjadi penimbun dan tetap akan berantakan. Misalnya, ketika memilah kategori paling dasar, yaitu pakaian, semua pakaian yang ada di berbagai lemari harus dikeluarin walaupun lemari itu ada di ruangan lain. Hal ini akan membuat kita sadar bahwa banyak banget pakaian yang kita punya. Kalau bingung karena saking banyaknya pakaian, coba dipilah lagi menjadi bagian yang lebih kecil, misalnya kelompok atasan (kemeja, T-Shirt, dll) atau kelompok bawahan (celana panjang, jeans, dll). Sama halnya dengan pakaian, memilah buku pun juga sama. Semua buku dikeluarin, lalu dipilah-pilah.

Bagaimanakah cara memilah barang-barang? Kalau bingung barang mana yang akan disimpan dan barang mana yang akan dibuang, Marie Kondo menyarankan bertanya kepada diri sendiri, apakah barang itu memberikan spark joy pada diri kita atau enggak. Kalau ada pancaran kebahagiaan saat kita lihat, pegang, dan rasa, itu berarti barang harus disimpan. Kalau enggak ada pancaran kebahagiaan, yaa gak usah disimpan. Ini biasanya terjadi sama barang, entah itu pakaian atau lainnya, yang kita simpan lama dan kita enggak peduli barang itu pernah ada muncul lagi saat kita beres-beres. Kalau bisa, sih, barang jenis begini disingkirkan aja.

Ada yang menarik ketika Marie Kondo menyinggung barang-barang baru yang masih disimpan dengan plastiknya. Menurut dia, itu adalah hal aneh yang enggak menghargai barang itu sendiri. Setiap barang pasti pernah berkontribusi pada hidup kita walau suatu saat dia gak akan spark joy lagi. Makanya, diperlukan ucapan terima kasih ketika kita akan menyingkirkan suatu barang. Hal ini berbeda dengan barang yang kita beli dan kita masih simpan dengan pembungkusnya. Kalau seperti itu, ada kemungkinan barang tersebut enggak bakal dipakai. Contohnya buku. Buku-buku yang dibeli dan belum dibaca, tetapi masih kita simpan, kemungkinannya enggak akan pernah dibaca. Maka dari itu, lebih baik enggak usah disimpan dan alangkah baiknya disumbangkan untuk orang lain.

Mengenai ini, saya agak tertohok. Pasalnya, saya adalah salah satu orang yang masih menyimpan buku-buku baru yang belum dibaca dan lengkap dengan plastiknya :D. Niat saya memang mau membaca buku-buku itu, tapi kadang alasan yang saya punya tetap klasik, kurang waktu membaca. Makanya, saya berkomitmen untuk nyicil membaca :D. Mudah-mudahan, sih, akan banyak yang kelar dibaca.  

Memang, untuk beres-beres dan sekalian menyingkirkan yang enggak spark joy itu gampang-gampang susah. Saya yang sudah membaca bukunya belum menerapkan metode konmari 100%. Saya masih dalam taraf merapikan apa yang saya punya, terutama dalam melipat baju. Metode melipat baju ala Marie Kondo membantu saya lho untuk membuat lemari lebih rapi dan teroganisasi walaupun saya harus menyingkirkan beberapa pakaian yang gak cocok di saya lagi atau yang kekecilan.

Yang jelas, setelah membaca buku ini, keinginan beres-beres dalam diri saya sangat besar. Dan, anggapan saya selama ini mengenai orang yang rapi itu adalah bakat pupuslah sudah. Ternyata, untuk menjadi rapi dan teroganisasi itu enggak harus punya bakat, tapi bisa kok dipelajari. Lama-lama, kita akan menjadi terbiasa. Nah, saya sedang berada dalam proses itu.

Bagi saya, metode konmari ini merupakan gerbang untuk bisa masuk pada gaya hidup minimalis dan zero waste. Melalui metode ini, saya belajar bahwa memiliki barang yang banyak itu belum tentu membuat kita bahagia, bahkan bisa jadi malah membuat diri kita tertahan untuk terus berkembang. Dan, sudah seharusnya setiap orang itu menyimpan sesuatu yang membuat dia bahagia, bukan sesuatu yang malah menahan dia untuk bahagia.

But when we really delve into the reasons for why we can’t let something go, there are only two: an attachment to the past or a fear for the future. —Marie Kondo

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kerennn.. Kalau sy, kalau udah ga dipake lg sy jual hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh dibagi ilmunya doong, kakaaak :D

      Hapus