Dieng Road Trip 2: Mengejar Sunrise hingga Mengejar Kereta

21.16.00


Ketika ada tulisan “Selamat Datang di Wonosobo”, rasa lega, gembira, dan haru jadi satu. Namun, yang nyebelinnya, busnya sempat tertahan di jalan yang mengarah terminal. Yaa, lumayan lama nunggu di situ dengan perut nguwek-nguwek gak jelas. Tiba di Terminal Wonosobo, saya dan kakak senior segera ngacir ke toilet. Gak sempet dadah-dadahan sama teman senasib dan sepenanggung dan gak peduli sama tas lagi karena panggilan alam udah di ujung tanduk. Untung, senior saya yang laen bersedia membawakan tas saya.

Setelah ketemu sama Ibu Guide (temannya senior saya) dan anaknya, kami diajak ke rumah makan khas Wonosobo. Makanan yang disediakan lumayan banyak plus mi ongklong dan tempe kemul. Kata si Ibu, “Ayo, makan yang banyak. Pasti kurang makan deh karena kelamaan di jalan.”


Dari Jakarta, saya udah penasaran banget sama yang namanya mi onglok; mungkin kayak mi Jawa yang seger itu. Dan, ternyata mi ongklok itu bukan mi Jawa, tapi mi yang menggunakan pati dan agak manis di lidah saya. Mungkin, karena perut saya yang masih nguwek-nguwek isinya angin semua, semangkok mi ongklok gak masuk ke perut saya. Gara-gara perut isi angin, saya harus minum Tolak Angin terus-terusan. Gawat banget deh.

Selesai makan, kami segera berangkat ke Dieng, tapi singgah dulu di pemandian air panas. Sebenarnya, enggak mau mandi air panas banget karena badan rasanya udah remuk dan pengen banget mandi yang privasi dan langsung tidur. Kali ini semesta mendukung. Kondisi pemandian air panas enggak kondusif karena ramai dan antre dengan kondisi lampu remang-remang. Agak horor dan takut diintipin. Akhirnya, kami lanjut ke homestay di Dieng sambil si abang sopir ngasih tau tempat-tempat yang kami lewati menuju homestay. Malem, sih, jadi enggak kelihatan banget, cuma ngeliat Gardu Pandang Tieng yang ada di atas awan dan Gunung Prau yang suka dinaikin pendaki.

Homestay-nya adalah rumah penduduk yang masuk gang muat satu mobil. Kamarnya ada sekitar lima dan yang paling oke adalah bersih. Airnya dingin banget, tapi ada air panas. Yang kesian senior saya, lagi asyik mandi, gas untuk air panas abis. Akibatnya, dia menggigil pas keluar kamar mandi.  

Berdasarkan itinerary, hari Minggu dini hari, kami bakal naik ke puncak Cikunir untuk melihat sunrise. Pukul 02.30, kami sudah siap-siap menunggu di mulut gang sambil kedinginan. Uap napas saya sudah mirip orang bule ketika ngomong. Setelah dateng guide Dieng—si mbak cantik yang mukanya mulus banget dan mas sopir elf—kami segera berangkat ke Bukit Sikunir untuk melihat sunrise.


Kata mbak guide, Bukit Sikunir ini ada di desa tertinggi di Pulau Jawa dan ada sekitar 800 meter menuju puncak Sikunir. Agak lega karena enggak jauh-jauh amat. Tapi, jalannya mendaki. Yaa, mudah-mudahan enggak curam. Turun dari elf, kami segera bergabung dengan rombongan lain yang juga sama-sama mau mendaki. Track untuk pendaki udah bagus karena dibuat jalan semen berbatu dan tangga. Yang gak tahan ketika mendaki adalah orang-orang yang merokok. Plis, deh, udara Dieng udah seger banget dan bebas polusi, ini ada aja yang ngotorin udara sebersih itu dengan semena-mena ngerokok di antara orang yang mendaki. Jadinya, paru-paru saya rebutan antara udara bersih dan asap rokok. If you said you have right to smoke, I have right to breathe the fresh air.


Di puncak Bukit Sikunir, kumpulan manusia sudah merajalela. Kami mendapat spot kosong di dekat pagar sambil menggelar jas hujan yang belum terpakai. Kami duduk di situ sambil melihat langit gelap dan kabut. Di antara waktu menunggu, si mbak guide cerita mengenai anak berambut gimbal di Dieng yang masih berhubungan dengan Pangeran Kidang dan Sinta Dewi. Ceritanya begini, si Sinta Dewi dilamar oleh Pangeran Kidang. Mungkin, si Sinta Dewi mau-mau aja karena Pangeran Kidang ini sakti mandraguna. Pas moment of truth, Sinta Dewi yang melihat Pangeran Kidang dari bawah ke atas langsung siyok ketika matanya tertuju di kepala Pangeran Kidang. Ternyata Pangeran Kidang itu berkepala kijang. Karena Sinta Dewi enggak yakin dengan kehidupan asmaranya ke depan, Sinta Dewi pun menyuruh Pangeran Kidang untuk membangun sumur sedalam-dalamnya. Lalu, Pangeran Kidang dikubur hidup-hidup ketika sedang menggali. Karena enggak terima diperlakukan seperti itu, Pangeran Kidang pun mengutuk Sinta Dewi dan keturunannya. Secara garis besar cerita begitu.


Cerita selesai, waktu sudah menunjukkan setengah enam pagi dan matahari belum nongol juga. Yang ada hanya kabut di sekeliling bukit. Karena dipastikan sunrise tidak akan terjadi karena tertutup kabut, kami pun turun dengan kondisi yang macet. Kebayang, kan, bagaimana lautan manusia di lereng-lereng bukit bersiap turun, tapi ketahan karena bentrok: yang turun banyak dan yang naik banyak juga. Bisa sih bergerak, tapi pelan kayak keong. Nah, ketika sudah sampai kaki bukit, baru deh bernapas lega karena orang-orang sudah nyebar ke mana-mana.  


Setelah sunrise yang malu-malu keluar, kami pun beranjak untuk sarapan pagi. Menunya banyak, enak, dan dimakan anget-anget. Perut saya masih nguwek-nguwek, tapi bisa diselesaikan pagi itu juga :D. Tolak angin pasti ditemani teh tawar anget. Selesai makan, langsung deh nonstop ke objek pariwisata Dieng yang rencananya kami kunjungi kemarin. Kami ke Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Telaga Warna, dan Gardu Pandang Tieng. Setiap objek wisata hanya dibatasi beberapa menit aja karena mengejar waktu kepulangan via Purwokerto. Walau sebentar, saya tetep senang-senang aja karena pikiran dan mata saya bisa istirahat melihat keindahan alam yang bagus banget.

Kami pun balik ke homestay untuk bersih-bersih diri dan packing. Kejadian yang bikin miris adalah tas saya yang entah kenapa tiba-tiba rusak resletingnya. Yaelah. Untungnya saya bawa peniti banyak. Jadinya, sepanjang resleting rusak itu saya penitiin. Emang gak rapet sih, tapi agak tertutup biar isinya enggak keliatan. Yang miris sebenarnya enggak hanya resleting tas doang, tapi sepatu. Entah kenapa bisa-bisanya saya ngebuka sepatu kets enggak pelan-pelan. Akibatnya, sol sepatu sebelah kanan lepas. Jadilah sepatu saya nganga tiap kali jalan. Padahal sepatu penting banget buat mendaki. Daripada beli sepatu baru, senior saya keliling warung di Wonosobo buat mencari lem buatan Cina yang bisa mengelem sepatu. Untungnya, dia ketemu warung yang jual. Kalau enggak, bisa-bisa saya pakai sandal jepit atau beli sepatu baru. Pengen ketawa, sih: begini amat nasib. Sepatu solnya nganga, resleting tas rusak, ditambah perut nguwek-nguwek.

Mungkin, karena long weekend, macetnya Dieng ngalahin macetnya Jakarta. Keluar dari Dieng aja butuh waktu 1,5 jam. Pak sopir elf yang membawa kami udah ngebut banget supaya kami on-time tiba di Stasiun Purwokerto. Nyatanya, antara Wonosobo dan Purwokerto itu enggak sedekat Gaplek-Ciputat. Jaraknya jauh, men. Itu pun ngebutnya amit-amit sambil nyari jalan alternatif yang jalannya enggak berlubang. Mendekati pukul 16.10, tapi elf belum nyampe tempat tujuan, segala doa dipanjatkan dan segala kemungkinan alternatif balik ke Jakarta udah mulai bermunculan karena peluang ketinggalan kereta gede banget.

Kereta ke Jakarta berangkat pukul 16.10 dan kami baru tiba stasiun pukul 16.05. Di pintu masuk parkiran, suara halo-halo yang mengumumkan kereta berangkat udah terdengar. Sebelum elf benar-benar berhenti, kami segera buru-buru keluar sambil bawa tas. Si ibu guide langsung bilang, “Ayo, mbak, lariiiii!” Ya, saya dan teman-teman langsung ngacir kayak mau disosor ayam.

Ketegangan terjadi di pintu check-in. Teman-teman belum bisa masuk karena tiketnya belum di-print. Deg-degan lagi. Apalagi ngecek nama satu-satu yang udah di-print. Nama saya dan teman-teman-teman ada, hanya nama senior saya yang nge-print-in belum ada. Kami naik duluan dan senior saya mungkin masih nge-print namanya. Pintu mulai ditutup dan kereta bergerak, saya dan kakak senior deg-degan. “Lha, si bapak naek kagak? Ntar ketinggalan. Ntar, dia pulang naek apaan?” Untungnya, beberapa menit setelah kami mulai duduk di kursi, senior saya dateng sambil nyengir.

Setelah itu, kami cuma ketawa-tawa. Ketika pergi, lama banget sampainya. Ketika pulang, hampir ketinggalan kereta. Entah tertawa karena kejadian yang konyol di sepanjang jalan-jalan ini atau tertawa karena kesian amat nasib lo. Hahaha.

At least, namanya juga perjalanan, pasti ada kisah dalam setiap langkahnya. Yaa, macam kisah saya ini :D.

*Sila dibaca kisah sebelum sampai Dieng di sini

You Might Also Like

0 komentar