Menulis bareng Penerbit KataDepan

11.23.00

Dulu, saya pernah bercita-cita menjadi seorang penulis seperti RL Stine. Mengapa? Karena—menurut saya—ia satu-satunya penulis yang mampu mengaduk-aduk emosi saya, terutama serial Goosebumps-nya yang membuat saya merinding atau serial Fear Street yang berhasil membuat saya enggan memejamkan mata. Ya, saya memang tidak tumbuh dengan kisah Lima Sekawan karya Enid Blyton, tetapi kisah horor karya RL Stine. Bagi saya, imajinasi RL Stines itu perlu diacungi jempol. Dia adalah pengarang pertama yang menginspirasi saya bagaimana mudahnya membangun suatu imajinasi horor dari sudut pandang anak-anak.

Saya tahu bahwa cita-cita itu tidak ujug-ujug terwujud. Perlu yang namanya proses, kerja keras, dan komitmen terhadap apa yang kita suka. Ini sama seperti menulis. Butuh mengasah kemampuan menulis supaya menjadi enak dibaca orang lain. Seperti saya yang pernah mencoba mengasah tulisan lewat buku diary walau ujung-ujungnya saya males menulis kehidupan saya yang sepertinya datar-datar aja :D. Kemudian, saya membuat beberapa kisah. Dari beberapa kisah itu, hanya dua yang bisa terselesaikan dan terpublikasikan. Itu pun cerpen, bukan novel yang panjang. Dan, yang paling aneh dari proses saya belajar adalah hampir sebagian besar kisah yang saya tulis adalah kisah-kisah orang luar, bukan kisah-kisah orang sini. Maklum, saya akui bahwa saya lebih senang melahap buku-buku fiksi terjemahan :D.

Saya masih berproses dalam menulis. Mencoba banyak membaca dan melatih diri sendiri dengan menulis. Satu cara saya berlatih adalah mengikuti pelatihan menulis yang diadakan Penerbit KataDepan pada 19 Maret 2017 di Function Room, Gramedia Matraman. Acara ini bertema, “Menulis karena cinta, menulis karena suka”. Tema yang sangat cantik.


Acara tersebut dikemas berbarengan dengan peluncuran buku @crowdstroia berjudul Nona Teh dan Tuan Kopi: Parak serta bincang-bincang cantik bersama Yayan D—penulis Une Personne Au Bout De La Rue—dan Dhitapuspitan—penulis Troublemaker. Tidak ketinggalan juga Gita Romadhona—pemimpin redaksi KataDepan.


Para penulis membagi kisah kreatifnya hingga menghasilkan sebuah cerita. Mulai dari ide, menciptakan karakter, dan membangun plot yang sesuai dengan logika. Menarik sekali, terutama ketika para penulis berbicara mengenai ide. Menurut para penulis, ide datang dari mana saja: entah itu saat kita nongkrong bareng teman atau sedang makan siang saat istirahat kantor. Ketika ide datang, saatnya kita menangkap ide itu. Biar tidak lupa dan tidak menguap begitu saja, rata-rata penulis akan mencatat ide-ide tersebut di sebuah buku catatan atau memo di ponsel.

Hal yang juga penting dari proses menulis adalah kehadiran editor sebagai penelaah naskah. Kadang penulis memiliki sifat egoisme yang tinggi karena mungkin terpaku pada jargon licentia poetica. Namun, di mana ada sastra yang hebat, di situ juga ada editor yang hebat, selain penulis yang hebat tentunya :). Editor diakui sebagai sosok di belakang layar yang membuat sebuah karya menjadi bagus dan bestseller. Dan, banyak penulis terkenal sekarang—baik dalam negeri maupun luar negeri—yang terbantu oleh sosok editor ini. Seperti yang dikatakan Yayan D bahwa ia sangat terbantu dengan proses editing yang dilakukan dengan Gita Romadhona. Karena, ia mengakui bahwa tulisan yang baik itu juga campur tangan dari editor.

Nah, bagaimana dengan pelatihan penulisannya?

Pada saat registrasi ulang, Penerbit KataDepan memberikan stik es krim kepada peserta pelatihan, termasuk saya, yang digunakan untuk menulis satu kalimat: entah kalimat motivasi atau kalimat suka-suka :D. Kemudian, stik-stik ini akan dikumpulkan kembali kepada panitia. Tantangannya adalah stik-stik yang tadi ditulis akan dibagikan secara random kepada peserta. Saya kebagian satu stik yang bertuliskan, “Please, don’t forget to smile.” Dari satu kalimat yang ada di stik es krim itu, peserta diminta mengembangkannya menjadi suatu paragraf cerita dalam waktu 10 menit. Setelah selesai, ada sekitar lima orang peserta yang dipilih untuk membacakan paragraf yang ditulisnya selama 10 menit. Gak tanggung-tanggung, pemimpin redaksi Penerbit KataDepan yang langsung mengevaluasi tulisan para peserta.


Dan, yang tidak kalah menariknya adalah Penerbit KataDepan menyediakan dropbox untuk naskah-naskah yang dibawa oleh peserta pelatihan penulisan. Kata sang pemred, naskah tersebut akan dibaca bersama dengan redpel Penerbit KataDepan dalam jangka waktu dua bulan. Jika ide dan kisahnya menarik, Penerbit KataDepan bersedia untuk menerbitkan naskah tersebut menjadi sebuah buku. Menarik, ya? Sayang sekali, saya belum punya naskah yang siap diajukan :(.


Selain ilmu yang didapat dari bincang-bincang cantik dan pelatihan menulis, peserta juga tidak pulang dengan tangan kosong. Ada notebook dan tote bag cantik yang diberikan oleh Penerbit KataDepan. Dan, ini semua diberikan secara gratis alias free.

Mau tahu kegiatan selanjutnya dari Penerbit KataDepan atau novel-novel terbaru yang akan diterbitkan oleh Penerbit KataDepan? Silakan langsung meluncur ke instagram @penerbitkatadepan.

Menulis karena cinta, menulis karena suka.


You Might Also Like

2 komentar

  1. Saya nulis apa ya Kak? Mau mulai aja saya malas. Hiks... Ada caranya utk memulai walau hanya satu kalimat Kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, kak. Tulis satu kalimat aja, trus dikembangin deh. Kayak yg saya pelajari di KataDepan :D

      Hapus