Raditya Dika dalam Cinta Brontosaurus dan Koala Kumal

16.53.00

Sepertinya, enggak mungkin banget kalau anak zaman sekarang enggak kenal Raditya Dika. Dari pekerja—seperti saya—hingga anak SD, rasanya tahu siapa itu Raditya Dika. Tak terkecuali ponakan saya yang ketika saya membaca Koala Kumal, dia langsung bilang, “Bukunya Raditya Dika ya.” Wow! He’s so famous. Saya membatin sambil menganga kagum.  

Jujur, saya bukan pembaca blognya dan saya tahu bahwa dia seorang blogger ketika bukunya sudah terbit. Agak kudet sih :D. Tapi, supaya kekinian, saya pun penasaran dengan tulisan-tulisan Raditya Dika yang sudah dibukukan. Ada dua buku yang saya baca, yaitu Cinta Brontosaurus dan Koala Kumal. Keduanya bukan buku pertama yang mengangkat namanya Raditya Dika, tetapi masuk dalam kategori bestseller. Bukunya laku di mana-mana dan tentunya royaltinya juga enggak sedikit, kan, ya? 


Cinta Brontosaurus dan Koala Kumal sama-sama diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media yang markas besarnya ada di Jl. H. Montong, Jakarta Selatan. Cinta Brontosaurus merupakan buku kedua dan diterbitkan pertama kali tahun 2006. Nah, buku yang saya pegang ini merupakan cetakan kedua. Sementara Koala Kumal merupakan buku ketujuh dan diterbitkan pertama kali tahun 2015. Untuk Cinta Brontosaurus, saya membacanya sudah cetakan kedua tahun 2008; sedangkan untuk Koala Kumal, saya membacanya sudah cetakan keempat tahun 2015. Sepertinya yang lebih laku itu yang Koala Kumal dibanding Cinta Brontosaurus. Mungkin, tampilan Koala Kumal lebih menarik dibanding Cinta Brontosaurus :D.

Dalam Cinta Brontosaurus, ada 13 kisah yang diangkat Raditya Dika. Seperti apa kisahnya, nah saya akan mencoba menulis sari dari kisah-kisah tersebut. Pada “Revenge of the Bom Bom Car”, Dika berbicara mengenai mobil Timornya yang lecet di mana-mana karena mobil itu adalah mobil yang dia pakai untuk belajar menyetir. “Ingatlah Ini Sebelum Memakai Sarung” bercerita mengenai sarung Dika yang melorot saat manggung ketika TK. Ironisnya, dia enggak pakai kolor. Jadinya, Mr. P keliatan banyak orang. Kisah “Cinta Brontosaurus” merupakan curhat Dika saat SD. Ketika itu, Dika naksir cewek yang kebetulan sudah punya pacar. Cerita ini adalah awal mula mengenai pertanyaan dia soal cinta monyet. Ketika kecil, kalau suka, ya suka aja. Beda dengan orang dewasa. Menurut dia, orang dewasa lebih primitif dibanding cinta anak kecil karena orang dewasa lebih ribet dalam urusan cinta. Makanya, disebut cinta brontosaurus. Kisah di Balik Jendela adalah tulisan Dika mengenai kegalauannya saat putus cinta.

Tulisan selanjutnya adalah “Venus” yang masih bicara soal cinta monyet Dika ketika SMP. Saat itu, dia akan menembak seorang cewek bernama Katie dengan pager (alat komunikasi sebelum ponsel) dan tanpa pernah ketemu. Ketika dia mengirim foto dan biodata, si cewek langsung ilfeel karena foto dan biodata si Dika terlihat seperti anak kecil. Padahal, Dika sudah memilih foto yang paling kece di antara foto yang dia punya. Di sini, Dika sadar bahwa laki-laki dari mars dan perempuan dari venus yang ternyata sifatnya beda banget. Kemudian, judul selanjutnya adalah “Operasi Kuku” yang bercerita soal kuku cantengan yang akan dioperasi. Di kisah “Awas, Menular!”, Dika curhat mengenai sakit diarenya yang berdarah. Ada temannya mengatakan sakitnya adalah sakit distemper, yaitu diare berdarah untuk anjing. Pada “Kantong Ajaib”, Dika mencoba menghubungkan antara sosok Doraemon yang tiba-tiba dikangenin oleh ceweknya dan sosok dirinya yang dibentuk seperti cowok yang diinginkan si cewek.

Cerita selanjutnya berjudul “Satu Sampai Seratus”, yaitu cerita Dika mengambil kelas bahasa Prancis. Pada saat ujian, dia mendapat contekan kertas entah dari siapa yang isinya angka 1 sampai 100. Karena pede kalau itu contekan yang benar, Dika copy paste jawaban itu. Alhasil, nilainya yang dia dapat adalah 0 karena bahasanya bukan Prancis, tetapi bahasa Jerman. Dalam “Banana”, Dika menceritakan pengalamannya ketika homestay di Australia. Pemilik rumah tempat dia tinggal sebenarnya baik, hanya anaknya yang iseng dan suka ngerjain. Dika sebel banget sama anak itu. Hingga suatu hari, ketika lagi ngerjain Dika dan temannya, si anak itu gak sengaja melempar bola ke pajangan pisang ibunya hingga pecah. Si anak ketakutan, tapi Dika malah nakutin si anak karena telah merusak barang ibunya. Karena takut diaduin, si anak akhirnya manis banget sama Dika dan temannya. Pada “Bakpao Raksasa”, Dika mendapat tugas membuat film bareng teman-temannya. Dia merupakan pemeran utama di film pendek itu dengan adegan lagi mandi. Karena ingin terlihat kayak mandi beneran, si Dika menurunkan celananya. Agak ke bawah dan sepertinya kelihatan bokongnya. Tanpa sepengetahuan Dika, filmnya ternyata dijadikan bahan ajar di kelas bahasa. Tidak hanya itu, filmnya bahkan dijadikan bahan belajar untuk sekolah lain.

“X + Mak Comblang = Y” merupakan kisah Dika ketika naksir cewek bernama Alin. Karena dia bukan teman Alin, dia membutuhkan bantuan dari temannya bernama Vina yang bakal menjadi mak comblang. Si Vina memberikan banyak saran hingga suatu kali dia memberanikan diri untuk menembak Alin. Ternyata, si Alin sudah punya pacar dan Vina malah cengengesan, sengaja enggak memberi tahu dia. Padahal, si Dika sudah pedekate yang parah. Di “Cinta Kucing”, Dika berbicara mengenai hewan peliharaan dia dan keluarga. Pertama, kucing kampung yang namanya Pupus. Kedua, kucing persia bernama Neko. Karena Pupus suka sirik sama Neko, si Dika memutuskan untuk membuang kucing itu. Tapi, membuang kucing itu gampang-gampang susah karena si Pupus balik lagi hingga si Pupus pergi beneran. Beda dengan Pupus, Neko dirawat abis-abisan. Hingga suatu saat, Neko juga menghilang setelah satu bulan naksir sama kucing tetangga.

Berbeda dengan Cinta Brontosaurus yang memiiki13 kisah, Koala Kumal menyajikan 12 kisah Raditya Dika, lebih sedikit satu kisah. Kisah yang pertama berjudul “Ada Jangwe di Kepalaku”. Kisah ini merupakan kisah sahabat kecil Dika. Ketika masih kecil, dia dan teman-temannya hobi bermain petasan. Namun, lama-lama, mereka memisahkan diri karena seorang teman malah ingin memaksakan kehendaknya. Pada kisah kedua berjudul “Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film”, Dika bercerita mengenai ketakutannya ketika membuat film Cinta Brontosaurus. Di film itu, dia mengutip ucapan sang ayah, tetapi ia takut sendiri ketika filmnya sudah keluar. Ia takut ayahnya akan marah. Nyatanya, ayahnya enggak marah, hanya kecewa karena enggak ada adegan ciumannya. Kisah yang ketiga berjudul “Balada Lelaki Tomboi” yang bercerita mengenai gebetannya yang bernama Deska. Si Deska ini memiliki hobi yang agak beda dari cewek kebanyakan. Deska senang olahraga dan sepertinya lebih perkasa dibanding Dika. Mereka jadian walau berbeda banyak. Mungkin bisa saling melengkapi karena Dika kebanyakan mengikuti keinginan Deska. Lama-kelamaan, Deska putus dengan Dika karena hati Deska beralih ke teman lamanya yang sifatnya juga berbeda dengan Deska dan Dika, yaitu sosok yang cenderung tidak menuruti keinginan Deska.

Kisah selanjutnya berjudul “Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan”. Di tulisan ini, Dika menulis serba-serbi cowok ditolak cewek. Misalnya, dia langsung ngomong kasar, dia lebih memilih pendidikan, dia telat membalas message, dia nge-crop foto kamu, dia bilang horoskop kalian tidak cocok, dia gak pernah mau diajak nonton, dan dia menyamakan kamu dengan setan. Pada “Kucing Story”, Dika bertemu dengan mantan pacarnya. Mereka bicara soal peliharaan. Dika ingin memiliki peliharaan hingga dia mencari kucing di tempat pengembangbiakan kucing. Ada satu yang menghampiri dia. Di kisah ini, dia ingin mengartikan bahwa mencari peliharaan seperti mencari jodoh. Di tempat yang baik dan memang tempatnya belum tentu ketemu, tapi di tempat yang tak terduga ketemunya. Tulisan “LB” ini bercerita mengenai pengalaman Dika dalam menggunakan aplikasi tinder. Di aplikasi itu, ia bertemu cewek dengan status LB. Setelah tahu bahwa LB singkatan dari lady boy, dia langsung ngacir. Dalam “Perempuan Tanpa Nama”, Dika bicara soal perempuan yang pernah ditaksir, tetapi tidak pernah tahu siapa namanya. Dalam angan-angan, dia berharap tahu, nyatanya enggak pernah tahu juga.

Pada “Menciptakan Miko”, Dika berbicara mengenai acara TV yang dibuat oleh dia. Karena enggak suka dengan acara televisi kebanyakan, Dika pun membuat acara sendiri. Awalnya, dia upload di Youtube, lama-lama dikontrak oleh televisi. Bagian ini adalah kisah suka duka ketika dia membuat Miko. Kisah berikutnya berjudul “Lebih Seram dari Jurit Malam”. Di sini, Dika bercerita mengenai jurit malam pada saat SMP. Saat itu, Dika menjadi kakak kelas yang berusaha tidak terlihat takut di mata adik kelasnya, tetapi Dika malah tidak kalah penakutnya dengan si adik kelasnya. Dan, sepertinya si adik kelasnya ini naksir dengan Dika, tetapi tidak terucapkan. “Patah Hati Terhebat” merupakan kisah teman Dika yang mengalami patah hati terhebat dalam hidupnya karena pacarnya yang sudah klop dengan dia harus meninggal dunia karena kecelakaan. Akhirnya, si teman Dika enggan untuk pacaran karena dia trauma takut untuk kehilangan lagi.

Tulisan “Aku Ketemu Orang Lain” adalah salah satu kisah cinta Dika yang diputusin oleh pacarnya. Hubungan LDR yang dijalanin Dika dan pacarnya tidak seperti dugaannya. Dika pun putus dengan sang pacar. Kata sang pacar, “Aku ketemu dengan orang lain.” Kisah terakhir dalam buku ini berjudul “Koala Kumal”. Tulisan ini merupakan kesimpulan Dika dari keseluruhan cerita yang ada di Koala Kumal, yaitu mengapa dia memilih judul Koala Kumal dan mengapa isinya soal patah hati.

Kisah-kisah yang disajikan Raditya Dika dalam dua bukunya merupakan kisah sehari-hari yang mungkin terjadi pada banyak orang. Apalagi kebanyakan latar belakang ceritanya adalah masa-masa 90-an yang nyambung banget dengan masa-masa saya dulu. Proud to be 90s. Kisah-kisah ini juga dikemas dengan bahasa yang ringan dan kocak hingga bikin tertawa, misalnya pada saat dia menulis “Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan”. Ini adalah bagian terlucu versi saya sebagai perempuan karena saya pernah melakukan semuanya :D, bukan mengalaminya.

Dua buku ini merupakan buku yang menarik. Boleh juga sebagai penghibur di kala stres melanda.  Cocok banget untuk orang-orang yang merasa tertekan dengan banyak hal. Membaca buku ini tidak perlu berpikir keras karena life is so simple, don’t make it complicated :).


Happy reading!

You Might Also Like

0 komentar