Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas: Sebuah Ulasan Buku

Desember 11, 2021

Mungkin saya telat banget untuk membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Ya, buku yang ada di tangan saya ini sudah cetakan kedelapan sejak terbit pertama kali tahun 2014. Namun, berhubung cerita ini sedang ramai diomongin banyak orang karena sedang tayang di bioskop-bioskop, bukunya pun perlu dibaca, termasuk oleh saya. Lagi pula, jujur ya, saya belum pernah membaca karya Eka Kurniawan. Padahal, nama sang penulis sudah terkenal di seluruh jagat dunia sastra Indonesia. Entah saya yang malas membaca buku :D atau kudet aja. 

~



Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini bercerita mengenai Ajo Kawir--sosok laki-laki dari remaja hingga dewasa--yang 'burung'-nya tidak bisa berdiri. Tidak berdirinya si 'burung' bukan tanpa sebab. Tokek--sahabatnya--mengajak Ajo Kawir mengintip seorang perempuan sinting bernama Rona Merah di rumahnya. Tak disangka, Rona Merah malah diperkosa oleh dua oknum polisi yang memergoki Ajo Kawir mengintip mereka. Gara-gara itu, si 'burung' tertidur begitu lama. 

Selama itu, Ajo Kawir bersama Tokek tumbuh menjadi laki-laki yang suka berkelahi. Bahkan, Ajo Kawir rela untuk menghajar habis-habisan juragan tambak yang melakukan kekerasan seksual terhadap seorang janda muda. Gegara ini Ajo Kawir bertemu dengan Iteung--cinta pertamanya--yang juga jago berkelahi. 

Sayangnya cintanya terhadap Iteung sempat terkhianati ketika Iteung diketahui hamil bukan anaknya. Namun, Iteung cinta terhadap Ajo Kawir dan akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahannya.   Ajo Kawir yang kesal menerima tantangan untuk membunuh penjahat bernama si Macan. Ia pun dipenjara karena pembunuhan itu. Keluar dari penjara, Ajo Kawir menjadi pengemudi truk bersama pemuda Mono Ompong. Di sisi lain, Iteung pun dipenjara karena pembunuhan yang dia lakukan terhadap temannya. 

Selama menjadi pengemudi truk, Ajo Kawir belajar untuk berjalan dalam kesunyian. Bahkan, ketika sosok Kumbang menjadi semacam kerikil dalam perjalanannya itu. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan sosok perempuan bernama Jelita. Melalui dia, Ajo Kawir menemukan apa yang selama ini dia cari.

~

Membaca buku ini seperti mendapatkan asupan karya sastra yang sudah lama banget gak saya dapatkan. Ditambah lagi akhir-akhir ini saya agak malas untuk membaca buku dan mengulasnya. Jadi, pas ketemu dengan buku ini seperti mau berseru, "Ya, ampuuun, udah lama banget gue gak banyak buku-buku kayak begini." *Nangis terharu

Jujur nih, buku ini bagus banget. Wajarlah kalau karya ini diterjemahkan ke beberapa bahasa. Wajar juga kalau mendapat penghargaan Prince Claus Award 2018. Banyak pesan yang disampaikan dalam buku ini, terutama tentang keadilan, kekerasan, dan kekerasan seksual. Utamanya sih kekerasan seksual terhadap Rona Merah, Iteung, dan si janda muda. Apalagi saat membaca buku ini, saat itu pula bermunculan kasus-kasus kekerasan seksual yang ramai dibincangkan di dunia maya. Menyayat hati :(

Yang unik dari buku ini dan kayaknya jarang dilakukan oleh penulis fiksi adalah alur yang maju mundur. Yang gak terlalu akrab dengan alur ini mungkin bisa bingung karena alur mundurnya kadang muncul tiba-tiba. Tapi, mudah diikuti kok dan akan paham dengan sendirinya.

Nah, sebagai pelengkap, film dari buku ini sedang tayang di bioskop. Katanya, pemain dan aktingnya keren-keren. Saya belum nonton sih karena kadang takut ga sama dengan bayangan saya terhadap buku dan apa yang ditampilkan dalam layar bioskop. Tapi, suatu saat mungkin saya juga akan tonton film dari buku ini. 

Selamat membaca dan selamat menonton!


You Might Also Like

0 komentar