Goro-Goro: Pementasan Lanjutan Mahabarata Teater Koma

Agustus 18, 2019


Ketika selesai nonton Mahabarata: Asmara Raja Dewa, saya yakin bahwa akan ada pementasan lanjutan dari kisah itu. Apa sebab? Karena ending ceritanya selesai, tapi belum tuntas. Makanya, ketika Teater Koma nge-tweet soal pementasan Goro-Goro, I was so excited!

Buru-burulah saya hunting tiket dengan menimbang-nimbang jadwal, harga, dan letak kursi. Mengapa perlu menimbang-nimbang? As you know-lah, harga nonton teater enggak setara nonton film di bioskop. Wajar, sih, karena live, pemain, kostum, dekorasi, dan segala-galanya kece marece. So, bagi saya, enggak rugi untuk mengeluarkan beberapa lembar uang 50 ribuan demi nonton Koma. Hingga tiba pada hari H dan tanpa saya sadari bahwa saya memesan kursi paling depan :D. Kaget juga, sih. Kaget karena nontonya terlalu jelas. Hahaha.


Nah, bercerita tentang apa sih lakon Goro-Goro ini?

Bercerita soal panakawan dengan segala kebajikannya dalam dunia wayang. Jadi, Semar dan Togog pergi ke marcapada untuk mengabdi kepada raja-raja di sana. Semar beserta anak-anak asuhnya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong, mengabdi kepada Raja Medangkamulyan, Prabu Srimahapunggung. Sementara itu, Togog dan anak asuhnya, Bilung, mengabdi kepada raja raksasa Kerajaan Sonyantaka, Prabu Bukbangkalan.


Medangkamulyan adalah kerajaan yang menghasilkan banyak padi yang berasal dari Dewi Lokawati yang dikutuk oleh Batara Guru. Karena menghasilkan padi itu, Medangkamulyan hendak diserang oleh Sonyantaka. Togog berkeras supaya sang raja raksasa tidak menyerang. Namun, upaya penyerangan tetap dilakukan. Bahkan raja raksasa bersekutu dengan Batara Kala (raksasa keturunan Batara Guru).


Ketika hendak menyerang Medangkamulyan, Batara Kala jatuh hati dengan Srinandi (adik Prabu Srimahapunggung) dan mengejarnya. Untuk menghindari Batara Kala, Srinandi bersembunyi menjadi padi bersama dengan dua panakawan perempuan. Batara Kala kesal karena tidak menemukan Srinandi. Maka itu, Batara Kala mengubah pasukan Sonyantaka menjadi tikus yang memakan padi untuk mencari Srinandi.

Akibat ulah tikus, tanaman padi hancur. Prabu Srimahapunggung segera memasang kuda-kuda untuk melawan hama tikus. Setelah beragam ajian dan perlawanan, pasukan raksasa pun kalah, Srinandi bersama dua panakawan perempuan ditemukan, dan padi segera tumbuh kembali di Medangkamulyan dengan melimpah ruah.

Happy ending.


Untuk saya, pertunjukan Teater Koma tetap menarik dengan efek visual, peralatan panggung, dan kostum yang aduhai. Selalu total hingga enak ditonton. Namun, dari keseruan cerita, entah mengapa Goro-Goro ini agak kurang gereget dibandingkan Mahabarata: Asmara Raja Dewa. Apa karena duduknya terlalu depan hingga kurang nyeresep? Padahal, harga tiket yang saya pilih agak mahal dibanding sebelumnya. Atau, apakah saya kurang konsentrasi nontonnya karena asam lambung agak naik? Hm, entahlah.

Nah, Goro-Goro ini dipentaskan mulai 25 Juli hingga 4 Agustus 2019. Pastinyam udah lewat, dong. Maklum, tulisan ini baru saya turunkan kurang lebih 10 hari sejak pementasan pada 4 Agustus 2019. Kebetulan saya kedapatan tiket untuk 4 Agustus. FYI, menurut Ratna Riantiarno pada akhir acara, pementasan selanjutnya akan dijadwalkan pada bulan November mendatang. Penasaran kan? Tungguin aja bulan November :).


You Might Also Like

0 komentar