Teori Kritis dan Secuplik Karl Marx

Oktober 31, 2008

Wuiiih...saya ikut kuliah Teori Kritis. Sebenarnya sih nggak terlalu niat amat, cuma waktu milih mata kuliah bingung mau ngambil apa. Soalnya, pas di semester 3 ini saya pikir(nggak cuma saya, tapi hampir semua temen di kelas) akan lebih mengasyikkan jika ngambil mata kuliah yang sedikit tugasnya. Nggak terlalu banyak karena bakal mengganggu aktivitas lainnya. Suit...suit...gaya bener. Nggak taunya, ya tugas tetaplah tugas yang selalu 'meneror' saya. Iih...

Dari namanya yang ada 'Kritis'-nya, saya menganggap kalo kuliah ini akan sangat menyeramkan. Pasti deh pembahasannya akan sangat amit-amit di mata saya. Apalagi buat saya yang memang nggak kenal sama tokoh-tokoh kayak Gramsci, Althusser, Habermas, Marx, Giddens, atau yang lainnya. Sempet sih kenalan, tapi nggak terlalu. Nah, pas kuliah sekarang inilah nama-nama yang dulunya nggak pernah saya pedulikan (karena saya lebih peduli dengan nama Abdul Kadir Munsyi, HB Jassin, Ajip Rosidi, Syamsuddin Al Sumatrani, Liaw Yock Fang, A Teeuw, dan para tokoh lainnya itu) muncul kembali. Mulanya, saya mencari tahu siapakah Giddens? Siapakah Habermas? Atau Siapakah Marx itu? Hahahahaha..tak terjawab sama sekali. Hanya membaca sekilas saja tentang mereka. Dan, tak begitu peduli.

Memilih Teori Kritis juga butuh perjuangan karena ada ragu di dalam diri saya, apakah saya mengerti? Apakah otak saya nyampe ketika mengikuti kuliah Teori Kritis? Di antara bimbang, ada seorang teman berkata, "Ambil aja. Enak kok, tugasnya gak banyak. Cuma presentasi doang buat UTS dan ada UAS di kelas." Karena terbujuk rayuannya, saya pun mengambil mata kuliah ini.

Yang tadinya agak stres mikirin kuliah ini, jadi agak cukup memahami. Karena, Pak Dosen bercerita per tokoh dari segi historis. Fokus utama sepertinya ada di sosok Karl Marx karena dia yang memelopori adanya teori kritis. Ada tiga orang yang membahas Karl Marx, salah satunya saya. Saya yang tadinya agak ngeri belajar Marxisme malah mendapat tugas membahas Marxisme Klasik. Ya sudah, mulailah menghunting buku yang bercerita pemikiran Marx ini. Penyusuran di mulai dari berbagai toko buku. Yang utama adalah bukunya Frans Magnis Suseno yang membicarakan pemikiran Karl Marx. Buku ini saya dapat di Gramedia Grand Indonesia setelah mencari di beberapa Gramedia yang ada.

Karena tugas itu pula, mau nggak mau saya membaca pemikirannya si Karl Marx yang dulu dilarang oleh ORBA. Agak serem juga sih membuka halaman pertama. Eh, nggak taunya, pemikiran Marx gak terlalu menakutkan seperti yang saya duga sebelumnya. Malah, dia cenderung humanis dan membela hak-hak manusia. Mengapa? Karena dia juga tertindas oleh pemerintahan waktu itu.



Berdasarkan buku yang saya baca, Karl Marx itu punya fase dalam pemikirannya, yaitu Marx muda, Marx tua, dan Marxisme klasik. Sebenarnya, Frans Magnis Suseno menjabarkan lima tahapan Marx, dari yang muda hingga yang tua. Dari pemikirannya yang sangat filosofis (karena dipengaruhi Hegel dan Feurbach) sampai ke pemikirannya yang sosiologis dan ekonomis. Nah, yang saya bingung, di manakah posisi Marxisme klasik? Kata Pak Dosen, posisinya itu dari Marx tua. Maksudnya, Marx tua yang mendasari Marxisme klasik.

Pada Marxisme klasik, Marx mulai membicarakan ekonomi deterministik dalam kehidupan manusia. Trus, dia juga ngomongin kritik terhadap ekonomi kapitalisme. Pada saat itu, sohib bae-nya Marx, si Tuan Engels, mengumpulkan tulisan-tulisan Marx yang berhubungan dengan ekonomi.

Jadi, apa sih cita-cita Karl Marx itu? Yaa...masyarakat tanpa kelas. Nggak ada lagi yang namanya kapitalisme dan proletariat. Nggak ada lagi yang menindas dan ditindas. Manusia yang bebas dan universal.

Hmm, kalo saya membaca pemikirannya dia, memang sih agak kagum juga (bahkan ada senior saya yang bersimpati dengan Marx setelah tahu pemikiran Marx itu). Karena, memang apa yang diimpikan Marx itu adalah kebebasan manusia. Tapi, malah pemikirannya itu kelihatan menyeramkan ya booww... Itu berdasarkan catatan sejarah lhooo kalo pemikirannya Marx yang diterapkan di suatu negara besar malah menjadi sangat menakutkan. Bahkan, lebih buruk dari situasi yang dikritik Marx waktu itu. Ck..ck..ck...

Jadi, pesan saya, bacalah tulisan seseorang baik-baik. Jangan asal-asalan. Ntar malah salah nangkep tulisan orang. Hehehehe...Jadi inget buku Sapardi yang judulnya "Bilang Begini, Maksudnya Begitu". Soo...baca baik-baik tulisan seseorang, pahami maksudnya, dan barulah bercerita. Jangan asal berkoar-koar atau sotoy... Hehehe...gaya banget seeh saya ini, pake ada amanatnya segala...hehehehehe

You Might Also Like

0 komentar