just a feint

22.55.00



Suatu kali, aku bertemu dengannya. Tidaklah istimewa. Hanya sebuah papasan yang sambil lalu. Tak terlalu peduli-lah. Hanya aku melihat dia dan dia melihatku. Begitu seterusnya. Tak pernah sadar hingga suatu ketika aku memerhatikannya secara diam-diam. Hingga muncul sesuatu yang istimewa darinya. Aku tidak berharap banyak, toh tidak ada percakapan apa pun di antara kami. Tak ada tegur sapa. Bahkan, jarak di antara kami begitu lebar.

Papasan-papasan itu pun sering. Tak ada sapaan di sana. Senyum pun tidak. Hanya kesunyian yang kami timbulkan. Dan, aku hanya memerhatikan dari jauh. Tak ada yang istimewa memang. Hanya sedikit harap, mungkin ia juga memerhatikanku.

Dia menoleh ke arahku ketika aku memperbesar suara. Bukan untuk memanggilnya. Hanya sebuah sapaan kepada orang yang ada di dekatnya, dan itu bukan dia. Saat itu, aku yakin bahwa ia memerhatikanku juga secara diam-diam.

Ia memerhatikanku secara diam ketika aku bolak-balik di dekatnya. Ketika aku sedang sibuk dengan semua pekerjaan. Ketika aku sedang berbicara serius dengan orang-orang. Ketika aku sedang tertawa melihat acara komedi di televisi. Dan, ketika aku lelah menunggu.

Matanya mengikuti ke mana pun aku pergi. Mata yang memerhatikan dalam diam. Mata yang selalu ingin berkata kepadaku, tetapi tercekat di tenggorokannya.

Ia ingin memulai percakapan itu. Hanya sekadar menyapa mungkin tak jadi masalah. Hanya untuk mengenalku saja. Hanya untuk--

Suaranya berhenti sampai di situ. Aku hanya melihat dia menundukkan kepalanya ketika aku duduk di dekatnya. Wajahnya masih sama. Tak ada ekspresi. Datar. Lalu, aku beranjak pergi. Dia pun beranjak pergi. Tapi, kilatan matanya tetap memerhatikanku. Tetap memerhatikan dalam diam.

Mungkin, ini bahasa kami. Bahasa diam yang konon lebih dahsyat dari ungkapan kata-kata yang terangkai. Bahasa yang tak tahu sampai kapan ini akan berujung.

Foto dari sini.

You Might Also Like

1 komentar

  1. hahahaha....
    rasanya sulit ya dalam situasi seperti itu.

    setidaknya dalam diam masih ada bahasa. Selain itu, mungkin bahasa tubuh?
    Bahasa mata, tepatnya. ya, ya, ya, itu mungkin lebih cocok.

    BalasHapus