Kamis, 23 April 2009

Nyok, Jalan-jalan!


Bolak-balik rumkit memang membuat bete dan capek, baik tenaga, waktu, maupun perasaan. Tenaga karena jarak antara rumkit dan rumah cukup jauh, jadi butuh tenaga ekstra kalo ke sana. Waktu karena ngantre di rumkit bisa makan waktu berjam-jam lamanya. Semakin siang, rumkit bukannya makin sepi malah makin rame. Buat yang sakit jadi kudu bersabar kalo ke rumkit, apalagi yang berbau pemerintah dan berobat pake kartu askes. Pasti jadi manusia paling sabar sedunia, nunggu nama dipanggil. Perasaan karena tiap ke rumah sakit, pasti ada aja yang mengeluhkan penyakitnya atau ngeliat orang-orang yang didorong-dorong, entah menggunakan kursi roda atau tempat tidur beroda. Rasanya menyiksa tiap melihat kayak gitu. Orang-orang yang kerja di sana pasti punya jiwa yang besar karena bisa tabah ngeliat seperti itu tiap hari.

Suatu kali, ketika dalam perjalanan ke rumkit, kakak saya memulai percakapan yang membuat saya geli sendiri. Kala itu, yang ke rumkit adalah dua kakak saya, saya, bapak, dan Udet. Rencananya hari itu adalah bapak mau diambil darah lagi dan tes urine karena dicurigai ginjalnya bermasalah.

Kakak saya bercerita seperti ini, "Kemaren, Uwa Hasan ceritanya semangat banget."

"Emang kemaren ke mana?" tanya saya sambil memerhatikan mobil dan motor yang seliweran.

"Kemaren kan kondangan. Trus, ketemu deh ama Uwa Hasan."

Uwa Hasan ini biasanya dipanggil oleh bapak dengan sebutan Bang Hasan. Dia adalah pamannya bapak. Dia juga pencinta seni. Sesekali dia terlibat dalam sebuah pembuatan sinetron.

Kakak saya yang agak cerewet itu kembali cerita, "Iya. Di sini ngomongnya semangat banget kalau Uwa Hasan mau jalan-jalan. Kemaren nyebutnya macem-macem, ke Malang, Surabaya, jauh-jauh banget."

"Ha? Masa seeh?" timpal saya.

Lalu, kakak saya geli sendiri. "Iya, masa' pas pada tua baru pada mau jalan-jalan. Udah gitu semangat banget lagi ngomongnya. Pas udah pada sakit-sakitan pada mau jalan-jalan yang jauh-jauh. Emangnye masih mude ke mane ajeee?!"

Saya cekikikan.

Kakak saya kembali bercerita, "Pas ditanya, emangnya belum pernah ke luar Jakarta? Eh, dijawabnya gini, 'Udah dulu, tahun 47.'"

Kakak saya dan saya tertawa geli. Widiiih...lama amat.

Bapak pun nimbrung, "Lha, jangan-jangan, tahun 1947 itu pas lagi diuber-uber NICA. Jadinya ngungsi ke Surabaya."

Saya semakin tertawa geli. "Iya, ya, ke Surabaya-nya juga kebetulan kali yaa karena diuber-uber NICA. Makanya, ngungsi ke Surabaya sekalian jalan-jalan."

Ya ampun, neng, mana sempet jalan-jalan kalo di belakangnya ada orang Londo nyodorin senapan lars panjang ke bokong loo...Yang ada malah lu jadi tokoh puisinya Toto Subagyo Bachtiar yang judulnya Pahlawan Tak Dikenal.

Yang jelas, kalau ada semangat, jalan-jalan itu tentunya nggak kenal waktu. Terlalu banyak yang bagus dan perlu ditelusuri. Yuuks, mari menjadi penjelajah. Mungkin, bersama saya yang sering kali omdo alias omong doang. LOL.

Jumat, 10 April 2009

ikan teri dan sambal terasi


ikan teri dan sambal terasi, originally uploaded by nurulhm.

If you go to Majapahit Museum in Trowulan, East Java, you will find this kind of food. This food consist of teri fish, sambal (chili), and lalapan. You can buy this food in front of museum parking park. Hmm...delicious.

cuma iseng

What a mystery though the world's on fire. Yesterday's hard words is still in my head.
I feel no despair, no regrets or sorrows. Cause this new day makes me dance on air.
What a golden day
.
--ace of base


sedang berlatih mengetik tanpa melihat posisi huruf di keyboard. Apa yang akan saya tulis? Entahlah. Masih meraba-raba posisi keyboard.

Saya belahat vara mengetikl tanpa melihat. Tapi, malah kacay semua. Tulisannya sampe gak kevaca. Hahahahaha. Masih bimhung dengan pisisi ketyboard hahahahah yapi lucu juha nyluis jkadi gak karu-karian.

Selasa, 07 April 2009

ah, capek deh!!!

Dua minggu yang lalu, keluarga saya panik. Awalnya sih biasa saja, nggak panik-panik amat. Tapi, karena ini berhubungan dengan kesehatan, keluarga saya panik.

Bapak saya yang membuat panik keluarga saya karena sakit dbd (itu kata dokter mengingat trombositnya turun mulu). Dua hari di rumah dan diberi beberapa minuman untuk menghindari rumah sakit. Pasalnya, dokter juga belum tahu obatnya apa. Bapak juga setuju akan dirawat di rumah aja dengan ancaman harus minum banyak air. Entah itu air putih, angkak, madu, atau jus jambu kelutuk, pokoknya semua air diminum.

Awalnya sih biasa aja. Bapak juga sudah setuju akan dirawat di rumah. Tapi, kakak saya yang sedang bekerja selalu nelepon ke rumah dan nanya, "Bapak gimana? Udah di bawa ke rumah sakit belum?"

Pertanyaan ini sebenarnya biasa aja karena kakak saya yang lain juga udah ngasih tahu bapak berbagai pengobatan aletrnatif supaya trombositnya naik. Tapi, karena diteleponin mulu dan dibilang, "Harus dibawa ke rumah sakit. Emang bapak gak berasa, tapi di dalamnya itu virusnya lagi menggerogotin. Mesti cepet dibawa ke rumah sakit. Kalau nggak, nanti bisa fatal."

Waduuh, mengingat berbagai berita yang saya baca tentang korban DBD dan berbagai curhat di internet, saya jadi merinding. Sejak saat itu, saya jadi merasa aneh, panik, dan takut juga. Sorenya, Bapak mau ke rumah sakit yang tidak disebutkan namanya.

Rumah sakit ini nggak gede-gede amat. Mungkin, baru beberapa tahun menjadi rumah sakit. Awalnya, ini hanya sebuah klinik yang dibangun di atas tanah kosong yang sering saya lewatin waktu kecil. Bangunannya juga bukan bangunan asli soalnya banyak bangunan yang ditambah dari bangunan utama. Saya juga sebagai salah satu pasiennya di sana. Dulu, rumah sakit ini masih sepi, pasiennya sedikit, tapi boleh dikata dokternya oke-oke. Sekarang, pasiennya banyak. Apalagi udah berubah jadi rumah sakit. Tiap balik kantor, pasti banyak mobil pasien yang kontrol pada parkir di pinggir jalan karena lapangan parkirnya nggak muat.

Nah, Bapak mau dirawat di rumah sakit itu. Mungkin, juga karena dekat dengan rumah, jadi yang nungguinnya gampang. Sore masuk dan malam saya jenguk, Bapak masih ketawa-ketiwi. Tapi, besok paginya, malah terkulai tak berdaya. Napasnya cepet naik-turun, sering mengigau, badannya jadi bengkak, dan agak gelisah kalau tidur. Saya browsing tentang penyakit DBD, mencoba membaca pengalaman orang-orang yang kena, trus memerhatikan hasil cek darah yang dipegang ama suster: trombosit, leukosit, kekentalan darah, dan hemoglobinnya. Pasalnya, kalo kita nggak tahu, biasanya nggak dikasih tahu sama suster atau dokternya. Ini juga mengingat pengalaman seseorang yang akibatnya fatal banget gara-gara satu poin dari hasil cek darah luput. Ironisnya, kejadian itu terjadi di rumah sakit, tempat Bapak saya dirawat.

Karena perubahan drastis kondisi Bapak yang semakin menurun, seperti nafas naik-turun dan cepat, agak sesak di dada, mikirnya jadi lama, dan lidahnya agak pelo, saya lapor ke suster. Mengapa saya lapor ke suster? Karena, dokternya susah banget ditemuin. Alasannya libur atau dokternya lagi ada di ruang ICU yang pasiennya banyak. Akhirnya, datanglah dokter jaga yang memeriksa Bapak saya. Kata sang dokter, Bapak harus periksa EKG. Wadooh, kok EKG dibawa-bawa. Padahal, Bapak nggak punya keluhan ama jantung.

Sehari sebelum pulang, kondisi Bapak sangat drop. Beda banget ama waktu sehat. Setelah trombosit naik, vonis dokter pun tiba. Katanya, ada masalah dengan irama jantung Bapak. Aduuh, saya lemes banget dengernya. Soalnya, saya jadi ingat almarhumah bude saya yang juga sakit jantung. Nggak hanya itu, vonis dokter juga bilang bahwa Bapak menderita gejala stroke karena lidahnya yang pelo. Ini kedua kalinya saya gak nyaman dengan diri saya. Pengen nangis. Bapak pun diminta CT-Scan buat ngeliat ada apa di tempurung kepalanya. Saya langsung nelepon kakak saya. Pada saat itu, kakak saya nggak mau CT-Scan di sana alasannya tentu saja ekonomi, mahal booo. Akhirnya, Bapak saya ditarik pulang ke rumah dan besoknya pindah rumah sakit.

Jangan salah, proses mengeluarkan Bapak dari rumah sakit itu aja sangat berbelit-belit. Ribet amat. Bolak-balik belum juga boleh keluar. Payah banget deh. Gara-gara ini, saya jadi inget cerita tukang urut yang mesti marah-marah dulu supaya dapet kamar. atau sodaranya yang udah kolaps dan akhirnya meninggal hanya karena nunggu administrasi yang lama banget.

Di rumah, Bapak bukannya segar dan sehat, malah terkapar tak berdaya di tempat tidur. Tiap saat, saya mesti bangun untuk ngurus Bapak yang buang urin dan sebagainya. Tidurnya juga gelisah. Ibu saya nangis melulu melihat Bapak saya yang lemah dan terkapar banget. Ngangkat badannya aja Bapak nggak bisa. Saya juga sedih melihat begitu, tapi mau gimana, masa' saya harus nangis juga.

Besoknya, Bapak dibawa ke rumah sakit lain. Di sana, Bapak mulai diperiksa ulang kesehatannya. Dari CT-Scan, mungkin ada yang gak normal. Ke saraf, Bapak nggak divonis stroke. Kata dokter, lidah kaku dan pelo itu karena kering. Kakinya bengkak karena kurang aktivitas. Bahkan, di poli jantung, Bapak baik-baik aja, malah Bibi saya yang dimarahin karena membawa orang normal ke poli itu. Sejak saat itu, semua obat dari rumah sakit sebelumnya diminta nggak diminum lagi karena ada obat jantungnya.

Malamnya, ada teman kakak saya yang ahli herbal dan pengobatan Islami datang ke rumah. Bapak dirukyah air dan dipijat beberapa bagian. Nggak lama, Bapak udah bisa jalan lagi walau nggak segagah dulu. Teman kakak saya itu bilang, "Ini bermasalah dengan ginjalnya. Hati-hati ini." Saat itu, kami biasa-biasa aja karena belum ada vonis mengerikan. Tidur udah enakan walau malamnya harus bener-bener dijagain. Saat itu, saya bersyukur banget. Pengen rasa meluk seseorang.

Besok, Bapak kembali cek-up di poli THT. Hasilnya juga biasa-biasa aja. Malah cuma dikasih vitamin doang. Lalu, hasil tes darah bapak yang kemarin diambil. Hasilnya, Bapak gagal ginjal, tapi nggak tahu akut atau kronis. Melihat ini, urine-nya harus diperiksa selama 24 jam.

Penjagaan urine pertama gagal, begitu juga yang kedua. Yang ketiga, nggak gagal, tapi lupa menghitung berapa banyak urine yang keluar selama 24 jam. Mau nggak mau, akhirnya tetep diperiksa walau Bibi saya bilang, "Ini memengaruhi pemeriksaan lho." Ya sudah, kalo begitu nanti diperiksa lagi deh, begitu pikir saya. Nah, pengobatan yang dilakukan saat ini adalah menjauhi obat-obat kimia, kembali ke ajaran-ajaran Islami.

Saat ini, saya masih bersyukur melihat Bapak yang sudah lebih baik walau masih terlihat lemes dan kurus. Turun enam kilo boo...

Kejadian ini sempet membuat saya panik. Makanya, kerjaan banyak yang nggak beres dan tugas kuliah dilupain buat sementara waktu. Ini juga membuat saya sadar kalau pasien itu harus cerewet. Kadang kita setuju-setuju aja ama berbagai permintaan rumah sakit atau dokter karena emang kita nggak tahu apa-apa tentang medis. Jadi, hati-hati dan kritis terhadap rumah sakit itu perlu karena emang udah banyak kejadian yang membuat pasien menerima segala vonis-vonis itu. Ada seorang teman pernah cerita, pasien cuma sakit maag malah divonis kanker. Weleh-weleh...pegimane ini???

Sabtu, 04 April 2009

ih, tukang kuntit...

Pas lagi melupakan tugas akhir untuk beberapa lama, tiba-tiba temen saya SMA yang sama-sama ikut kuliah jenjang kedua mengingatkan saya untuk kembali fokus. Maksudnya, fokus ke perpustakaan lagi, nyari-nyari bahan-bahan lagi karena tanggal deadline udah tinggal sebulan. Wuaakksss!!!

Di perpus, saya nemu bahan yang saya cari. Nggak fotokopi sih karena mahal banget harga selembar fotokopi yang dapat membuat saya miskin. Akhirnya, beberapa saya catet dan selembar saya fotokopi. Kata temen saya, bisa kongkalikong satu hasil penelitian dengan harga yang juga mahal. Widiih...padahal, sebelum hasil penelitian pindah ke perpus itu, saya diharamkan untuk memfotokopi dengan alasan itu adalah hasil penelitian orang. Saya nggak boleh memfotokopi, cukup membacanya saja. Di perpus itu, saya malah ngeliat halaman-halaman difotokopi walo ada pembatasan fotokopian. Tetep aja "Boleh Difotokopi".

Abis dari sana, saya dan teman saya mampir dulu di toko buku pinggir jalan yang tempatnya bagus. Ternyata, toko bukunya lagi diskon gede. Bahkan, ada buku yang harganya cuma 6000 rupiah. Sayang sekalee, saya nggak bernafsu membeli tuh buku karena teringat buku-buku rujukan yang menunggu giliran buat dibaca. Jadi, di sana, saya cuma bisa ngeliat-liat doang.

Pas lagi ngeliat-liat itu, ada seseorang yang selalu berdiri di sekitar saya dan teman saya. Si sosok ini sempet negor saya karena barang yang saya bawa musti dititipin di tempat penitipan barang. Sebenarnya, saya udah mulai curiga sama ini orang. Tapi, melihat teman saya yang agak santai dan gak peduli, saya juga diam. Takutnya cuma perasaan saya doang yang sering curiga ama orang yang gelagatnya aneh.

Pas menjelajah lantai atas, sosok ini ikutan juga dan lagi-lagi dia berada di sekitar saya dan teman saya. Lama-lama, si sosok penguntit ini negor temen saya. Nanya ke temen saya seolah-olah temen saya itu petugas di sana. Ketika temen saya menjauh dari sosok ini, saya segera menghampiri temen saya.

Dengan berbisik, temen saya bilang begini, "Gue ngeri deh sama orang tadi. Dia kayaknya ngikutin kita."
"Emang. Gue dari tadi dah curiga," kata saya dengan mulut yang tak bergerak.
Kata temen saya, "Gue takut nih."
Saya membalas, "Gue juga."

Setelah dapat beberapa buku, saya dan teman saya segera turun buat membayar. Dan, si sosok itu tetep ngikutin setengah berlari, seolah-olah takut kehilangan korbannya.

Sebelum tiba di kasir, saya berbisik, "Kita lurus boo, dia ngikutin apa nggak."

Saya dan teman saya pun jalan lurus sebelum tiba di kasir. Si sosok itu yang tadinya seolah-olah pengen nguber kami, segera berhenti dan mengikuti arah kami berjalan. Karena takut, saya dan temen saya segera ke kasir. Tapi, bukannya menghindar, teman saya malah terjebak di sana. Untungnya, teman saya lebih dulu bayarnya. Si sosok itu sempet nanya-nanya sih ke teman saya dan dijawab sekenanya. Selesai bayar, kami segera cabut dari sana. Di mobil, saya dan teman saya ngebahas bagaimana sosok penguntit itu berada di sekitar kami.

Iih, menyeramkan sekali...

Jumat, 03 April 2009

hanya lelucon

Ini lelucon saya ambil dari pesan di YM. Hanya lelucon dan tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan, menghina, apalagi menyindir. Beneran deh...

wartawan : Anda bisa nyanyi lagu Indonesia gak? masa' umbrella mulu....
cinta laura : bisa dong, tapi cinca sedikit sediki logyat inglisnya kelyual....
wartawan : ya de gpp.... coba dong nyanyiin
Laura : "bow wrong car card two are, hang up they gen the law, neck neck so are two are, g-g are thing all two are"
wartawan : wow lagu apa itu mbak laura?
Huh???
cinta laura : BURUNG KAKAK TUA
wartawan : ....... gubraaakk.

Lelucon ini bukan untuk menghina Mbak Cinta karena saya fans berat Mbak Cinta sejak sinerton Cinderella. Di situ, Mbak Cinta keren banget dan oks banget aktingnya walau saya kurang setuju ending sinetronnya. Kenapa sih nggak sama Rasya aja? Perjuangannya kan lebih banyak di Rasya.

Sekilas Legally Blonde dan Confession of Shopaholic

Film Legally Blonde yang diperankan oleh Reese Whiterspoon ini memang sudah lama banget diputar di bioskop Indonesia. Saya tidak ingat kapan pertama main karena saya menonton film ini bertahun-tahun kemudian--setelah saya tahu teknologi DVD bajakan yang super duper canggih. Yang saya ingat, film ini sempat dibahas di CinemaCinema yang tayang di RCTI yang presenternya si Mayong dan Ira Wibowo.


Setelah saya melihat film ini bertahun-tahun kemudian, saya terkikik geli karena melihat si Elle Woods yang amat sangat PEDE. Dia cerdas, lucu, dan PEDE. Si tokohnya nggak pernah bete walau dihina-hina sama orang-orang di sekelilingnya. Tapi, dengan tekad dan PEDE yang dia punya, dia bisa ngebuktiin kalo dia tuh keren. Percakapan yang paling saya suka pada adegan itu sempat membuat saya termenung untuk sesaat. Pada saat itu, si Elle Woods yang ngerasa kalau dia salah jurusan ketemu Emmet. Secara garis besar, begini omongannya.

Elle Woods: Gue salah di sini. Ngambil jurusan hukum itu salah. Tempat gue bukan di sini.
Emmet : Eits, tunggu dulu, sapa tau aja, ini adalah jalan lo yang bener. Jalan lo buat jadi ahli hukum.

Nah, adegan ini yang membuat saya termenung. Kadang ya, kita ngerasa jalan yang kita pilih tuh salah. Padahal, udah gak bisa kembali ke jalan semula. Tapi, ya booo...sapa tau aja itu adalah jalan menuju yang menuju jalan yang terbaik buat kita. Nah, mumpung ngomongin ini, saya jadi teringat tulisannya si Susanna Tamaro yang bilang, kalau ada jalan bercabang dan kita bingung milihnya, mending diam sesaat dan tarik nafas dalam-dalam. Kalo udah yakin, pilih jalan yang oks deh. "Pergilah ke mana hati membawamu."

Film Legally Blonde ini yang membuat saya semangat kuliah. Ngeliat Elle Woods, saya dan teman saya memantapkan diri untuk bisa fokus kuliah walau jurusan yang diambil berbeda. Pada saat itu, saya dan teman saya sedang stres-stresnya kuliah.


Nah, beberapa waktu lalu, saya iseng nonton Confession of Shopaholic yang karakter utamanya si Rebecca Bloomwood karena dapet tiket gratisan dari teman saya. Sebenarnya, saya agak kecewa dengan film itu setelah dengar dari teman saya yang bilang kurang oke aja. Apalagi, ada perbedaan tempat. Di buku, si Rebecca itu orang Inggris tulen dan emang hobinya belanja apa aja. Tapi, si Rebecca yang ada di filmnya itu malah New Yorker yang hobinya belanja barang WUAAAH!!! a.k.a barang branded yang top abis. Abis nggak pernah ngeliat dia belanja barang yang biasa-biasa aja. Mungkin juga, saya udah lupa apa yang disebutin ama bukunya. Tapi, si Luke Brandon-nya keren banget walau beda dari gambaran saya tentang si Luke Brandon versi bukunya. Nah, karena banyak bedanya itu, saya malah ngeliat cerita baru yang bener-bener beda dari si buku.

Walau beda sama alur cerita yang di buku, saya menikmati alur film ini. Apalagi tokoh utama ini mengingatkan saya kepada Elle Woods. Berkali-kali saya berbisik ke teman saya bahwa Rebecca Bloomwoods mirip Elle Woods. Teman saya merespons, "Iya, bo, sama-sama ada Wood-nya di belakang."

Itu bener juga. Tapi, gambaran Rebecca di buku dan di film agak berbeda. Di buku, sepanjang yang saya ingat, Rebecca pede, tapi gak seancur Rebecca yang di film. Mengenai Rebecca yang di film, saya malah ingat si Elle Woods. Dua tokoh yang menurut saya memiliki karakter yang sama. Elle Woods dan Rebecca Bloomwood sama-sama super duper PEDE dan sangat suka dengan PINK. Mereka berdua konyol. Walau saya melihat Elle Woods lebih terlihat cerdas dibandingkan Rebecca. Terus, saya berpikir, apakah Elle Woods juga gila belanja? Kayaknya sih iya kalo ngeliat sosok Rebecca. Tapi, Elle Woods gak terlihat dia hobi belanja. Dia malah memperlihatkan kalau belanja itu adalah kodrat cewek. Mungkin juga tema filmnya beda ya booo, jadi nggak keliatan siapa yang gila belanja.

Tapi sih, kalau ditonton lagi film Confession of Shopaholic, Rebecca memang mirip Elle Woods. Bedanya yang paling jelas adalah Rebecca miskin dan duitnya terbatas pada utangnya yang banyak, sedangkan Elle Woods adalah orang kaya yang duitnya terlihat nggak keitung hingga dia bebas belanja apa aja dan jadi pelanggan tetap butik-butik terkenal.

Nah, kalo saya disuruh milih antara Elle Woods dan Rebecca Bloomwood, saya pasti akan memilih Elle Woods. Maaf ya, Rebecca...

gambar legally blonde dari sini
gambar confession of shopaholic dari sini