Road Trip Story to Jatijajar Cave

19.33.00

Jatijajar Cave alias Gua Jatijajar masuk dalam daftar road trip saya. Setelah singgah di Wangon semalaman, saya dan keluarga bergegas melanjutkan perjalanan. Jalannya masih sama. Lurus, kadang belok-belok, kanan kiri sawah atau pohon-pohon, atau sering disalip sama bus-bus besar. Standar jalanan antarkota antarprovinsi. Tiba-tiba, di pinggir jalan, ada pelang yang bertuliskan Gua Jatijajar, Gua Petruk, dan Pantai Ayah ke arah kiri. Tadinya, enggak niat-niat banget karena perjalanan masih jauh dan panjang. Namun, karena saya belum tahu seperti apakah gua itu, kakak saya pun memutar arah mobil kami menuju lokasi.

Saya pikir, jalanan menuju gua ini enggak jauh-jauh amat. Enggak tahunya, lumayan muter-muter di antara perumahan orang dan sawah kanan-kiri. Sempet beberapa kali nanya orang karena petunjuk jalan ke Gua Jatijajar tidak ada (atau mungkin saya tidak melihat). Setelah cukup jauh, akhirnya ketemu juga objek wisata Gua Jatijajar. Menurut kakak saya, mobil kami agak memutar, jadi kesannya jauh.

Tempat parkirnya lumayan luas dan masih sepi. Mungkin, karena masih pagi, jadi belum banyak orang yang ke sana (atau kawasannya agak jauh?). Turun dari mobil, pedagang topi segera menuju kami dan menawari topi. "Topinya, Bu. Di atas nanti panas," kata pedagangnya kepada kakak saya. Karena persiapan topi sudah banyak, kami tidak membeli.

Di depan loket, kami membeli tiket masuk seharga Rp 3.000 per orang. Setelah itu, barulah kami masuk ke dalam sana. Dalam pikiran saya, gua ini mirip-miriplah dengan Gua Maharani yang ada di Lamongan karena hanya gua itulah yang pernah saya datangi. Namun, secara keseluruhan, saya blank dan harap-harap cemas karena melihat dari kejauhan pepohonan yang tinggi dan lumayan lebat. Seseram apakah gua ini? Biasanya, kan, gua identik dengan gelap, lembab, dan tempat tinggalnya setan. Hiii....

Jalan menuju gua sudah bersemen dan banyak tangga karena agak menanjak. Di beberapa tempat, bahkan ada satu spot khusus, terdapat patung monyet. Di sini, saya enggak ngeh kenapa banyak patung-patung monyet di sekitar gua.

Kemudian, ada sebuah kolam yang menampung air dari gunung. Airnya jernih sekali. Kalau enggak salah, air yang ada di kolam itu adalah tampungan dari Sendang Mawar/Sendang Kantil yang bersumber di gua. Saya masih siwer yang mana Sendang Mawar, yang mana Sendang Kantil.


Nah, salah satu penghias air gua itu mengalir ke kolam adalah patung dinosaurus yang mulutnya menganga lebar. Hm, saya enggak terlalu tahu apa hubungan dinosasurus dengan gua ini karena dari awal masuk banyak patung monyet.


Di area kolam ini, banyak anak kecil--mungkin setara anak SD dari kelas satu sampe kelas 6--yang minta uang receh buat dilempar ke kolam. Nanti, mereka akan berenang dan berebutan koin di kolam itu. Lucu juga. Tapi, sayangnya, mintanya agak memaksa. Jadi, merasa diteror dan males lama-lama di sekitar kolam. Akhirnya, saya jalan terus menuju gua yang menjadi inti dari wisata ini.


Jalan yang saya lalui sangat menanjak dan curam. Bapak saya yang sudah berumur sampai ngos-ngosan karena menelusuri tangga-tangga yang tinggi dan lumayan curam. Saya juga keringetan pas sampai di atas. Setelah mengambil napas sejenak, barulah saya tiba di mulut gua yang besar. Di dalam sana, ada beberapa fotografer yang siap memfoto langsung jadi.


Masuk ke pintu gua, saya sudah melihat lekukan-lekukan alam yang bagus sekali. Sayangnya, banyak coretan tidak jelas di atap dan dinding gua di pintu masuk itu. Saya sampai berpikir, bagaimana orang membuat coretan enggak jelas di atapnya. Manjat lewat mana tuh orang.


Kemudian, saya berjalan masuk melewati sebuah jembatan. Saya menemukan diorama yang terdiri atas patung-patung. Mungkin, diorama itu menggambarkan kisah tertentu, tapi saya enggak ngeh sama kisah gua ini. Makanya saya jalan terus. Di tempat yang agak lebar, ada air menetes-netes. Karena saya penasaran, saya bertanya dengan petugas yang sedang bersih-bersih, "Pak, ini air apaan?"

"Ini air gunung, Mbak. Dari sananya begini."

"Oh, netes-netes terus, ya, Pak."
"Iya, Mbak.

"Terus, coret-coretan yang ada di dinding siapa yang buat, Pak?" (dalam hati, iseng banget yang buat).

"Oh, itu tulisan dari zaman Belanda. yang nulis orang-orang Belanda juga."

"Oh, kirain tulisan orang-orang sekarang."

"Bukan, Mbak. Udah lama tulisan itu."

Saya mengangguk. Lalu, pergi setelah mengucapkan terima kasih. Perjalanan saya menelusuri gua ini pun berlanjut. Kali ini, saya harus turun ke bawah lewat tangga. *Widiih...kayaknya ini gue enggak sependek Gua Maharani, deh. Kayaknya panjang dan lembab. Hiii...serem juga kalau jalan sendirian.

Makin lama, jalanan memang agak menurun. Suara percikan air juga terdengar karena ada beberapa sungai di daerah ini. Jalanan juga agak becek, jadi kudu ngangkat celana panjang tinggi-tinggi. Rombongan di depan saya yang dipandu oleh guide berhenti di sebuah sungai yang airnya deras. Katanya, enggak apa-apa turun di air itu. Tapi, rata-rata orang enggak mau karena ngeri takut keperosok.

Akhirnya, saya terus jalan, kemudian menemukan jalan bercabang. Jalan lurus menuju pintu keluar dan ke kanan entah ke mana (karena yang ada petunjuk adalah jalan keluar). Saya pun ke kanan untuk melihat ada apakah di sana. Jalanannya memang agak sempit dan di bawah agak becek. Namun, saya tetep maju dan melongo hingga ujung. Ternyata, ada sebuah sungai di dalam gua. Airnya terlihat jernih dan ada sebuah patung perempuan sedang bertapa di tengahnya. Kata pemandu rombongan sebelah, sungai itu adalah tempat Nawang Wulan bertapa. *Hebat banget Nawang Wulan sendirian bertapa di tempat gelap kayak gini. Sekarang ada pas dikasih masih serem juga. Gimana zaman dulu yang kagak ada lampu? Hiii...

Saya pun beranjak menuju jalan keluar. Di udara yang terbuka, saya menghirup udara segar sambil minum jus sirsak. Lumayan mengademkan badan yang keringetan. Kakak saya yang duduk di sebelah bilang begini, "Pantes ye, di bawah ditawarin topi-topi karena panas, orang keluar dari sana bener-bener keringetan. Tapi, bukan karena matahari. Tapi, karena di dalem lembab." Saya tertawa. Bener juga si penjual yang bilang di atas panas. Beneran panas karena, keluar dari gua, rata-rata orang keringetan.

Di sini, saya baru menyadari bahwa Gua Jatijajar dihubungkan dengan legenda Lutung Kasarung. Pantesan, dari tadi, banyak patung lutung bertebaran di sekitar sini.


Keluar dari Gua Jatijajar, kami segera melanjutkan perjalanan lagi. Yuk, mariiii....

You Might Also Like

0 komentar