Ziarah ke Makam Soekarno

17.39.00

Mobil diarahkan ke Blitar, Jawa Timur, tepatnya ke makam Presiden Pertama RI, Soekarno. Saya pernah ke makam ini sebelumnya. Namun, waktu itu, saya masih kecil. Jadi, lupa-lupa ingat bentuknya seperti apa.Kakak saya yang menyetir memang agak mengeluh karena ngantuk. Apalagi, hampir seharian muter-muter di kota Blitar untuk cari makam Soekarno. Petunjuk jalan dari luar Blitar, menurut saya, agak minim. Baru ada petunjuk ketika area makam sudah ada di depan mata.

Saat tiba di area pemakaman, sudah pukul 4 sore. Saya pikir, tempat tersebut akan tutup. Enggak tahunya, masih rame. Mobil pribadi boleh jalan lurus dan parkir di depan area pemakaman. Kalau bus, diarahkan ke kiri. Di sisi kiri jalan, banyak toko-toko suvenir khas Soekarno. Kaos bergambar Soekarno berserakan dengan berbagai posisi. Namun, yang paling top abis adalah posisi Soekarno yang sedang orasi.

Area makam Soekarno ada di seberang toko-toko suvenir ini. Areanya luas dan ada panggung terbuka yang mirip teater kolam Sastra UI yang sudah almarhum. Saat itu, ada pertunjukan mirip-mirip ketoprak karena pemainnya menggunakan kemben Jawa dengan bahasa Jawa (sesekali aja).

Masuk ke makam, saya dan keluarga saya melalui makam yang dijaga oleh orang bersafari hitam. Saya pikir, di dalam bakal sepi, enggak tahunya tetep rame. Saking banyaknya orang yang tahlilan di pendoponya, makamnya sampai enggak kelihatan. Seingat saya, dulu, makam itu dikacain. Sekarang, kacanya sudah tidak ada. Jadi, orang boleh sedekat mungkin ke makam presiden pertama RI.


Agak sulit mendekat karena di sekeliling rame banget. Akhirnya, saya cuma ngambil dari pinggir-pinggirnya aja. Di dekat makam, sepertinya ada keluarganya presiden karena diberi keistimewaan untuk mendekat.


Kelar di sana, saya dan keluarga keluar melalui gapura perkasa. Lalu, turun melihat relief Soekarno dari lahir hingga wafat. Reliefnya mungkin dibuat dari tembaga atau sejenisnya, bukan dari tembok. Di jalanan relief ini, saya merasa seperti berada di jalan menuju Taj Mahal (hehehe, sayang enggak difoto) karena ada kolam kecil di tengah jalan. Kalau malam, kolam-kolam itu mungkin akan diterangi lampu.


Di dalam gedung yang kami masuki, ada patung Soekarno yang besar sekali sedang duduk di kursi. Ternyata, gedung itu bagian dari Perpustakaan Nasional karena ada lambang-lambang Pernas di beberapa pintunya. Saya pun masuk ke dalam museum Soekarno. Sayang, dilarang foto-foto. Kamera jadinya cuma masuk tas.

Setelah melihat-lihat koleksi-koleksi Soekarno dari kaus hingga foto-foto, saya keluar dari gedung tersebut dan balik ke mobil. Kakak saya yang nyetir sudah bangun dari tidur. Ayo, perjalanan dilanjutkan.


Ada daerah horor yang kami lewati. Di tengah sawah yang becek karena hujan turun rintik-rintik, ada dua dam (sebutannya begitu). Di bawahnya entah apa menyembul-nyembul kayak lumpur meletup-letup keluar dari tanah. Yang lewat di sana harus hati-hati karena cuma ada satu jalur. Jadi, mobil harus ganti-gantian. Bayangin malem-malem lewat daerah horor yang minim penerangan. Aduh, enggak kebayang!

You Might Also Like

1 komentar

  1. Sebagai orang Kediri, tetangga Blitar, saya malah belum ke sana. Terima kasih gambar dan ulasannya. Menarik.

    BalasHapus