three days off for road trip

18.40.00

Yiihaaa, libur tiga hari! Jarang-jarang lho pekerja teladan seperti saya dapat jatah berurutan seperti itu. Pernah sih kayak gitu, tetapi adanya saat saya mengalami fase peralihan antara swasta dan negara. Jadi, untuk tiga hari itu saya berdoa dan berjanji akan memanfaatkan liburan tiga hari saya sebaik mungkin dan tidak seperti liburan tiga hari sebelumnya yang hanya dihabiskan dengan bengong.

Entah kebetulan atau karena doa-doa terjawab, teman satu kantuur saya akan menikah di kampung halamannya. Saya sudah dengar kabar-kaburnya dari salah satu partner in crime saya ;). Gara-gara itu, saya merasa telah mengisi libur dengan baik *senyum lebar*.

Teman saya ini married di provinsinya sultan. Berangkat ke sana, ada dua mobil yang tersedia dan ada delapan orang yang ikut, termasuk saya. Di mobil saya ini, teman saya yang nyetir baru aja selesai kerja dari siang sampe malem dan belon sempet tidur. Ototnya masih pada tegang. Jadi, antara sadar dan enggak sadar doi nyetir dan menghajar lobang-lobang gede di sepanjang jalan yang emang rusak abis. Wajarlah ya kami terguncang-guncang di mobil kantor itu kayak makanan yang dikocok-kocok. Bahkan, ada mobil yang terperosok saking dalemnya entuh lobang.

Penderitaan belum selesai dong. Ada longsor parah yang bikin mobil parkir di jalan dan gak bisa lewat. Karena emang gak mau parkir di jalan, mobil kami nerobos-nerobos arus berlawanan dengan mepet-mepet. Nerobos yang maksa itu membawa kami ke jalur alternatif. Sepanjang jalur ini isinya adalah jalanan sempit, jelek, dan kumpulan orang yang meminta uang. Ada lebih dari 10 kelompok yang setia menadahkan ember bekas cat sambil minta-minta kepada mobil yang lewat. Kadang mintanya maksa dan mirip orang malakin. Iih, males. Yang bikin sedih, jalanan sempit dan jelek itu enggak terdeteksi di GPS blackberry hingga kami menyebutnya in the middle of nowhere.

Sampai di tempat tujuan pukul 10 pagi. Hampir 12 jam ada di jalan. Pant*t tepos dan kulit kayaknya penuh dengan daki karena belum mandi. Tujuan pertama adalah gedung perwakilan karena kami sudah ditunggu. Sambutannya sangat baik, bahkan saya masih dianggap bekerja di sana. Saya terharu melihat sikap teman-teman saya *pengen nangis*. Sampai di penginapan, kami semua tepar setepar-teparnya orang. Bahkan, saya tidak menggubris ajakan si nawalapatra untuk ke mal.


Sorenya baru deh saya dan teman-teman keluar. Itu pun tanpa tujuan. Mentok-mentok akhirnya kami memilih malioboro, jalanan wisata sejuta umat. Muter-muter sekalian foto-foto. Karena ada suatu hal, kelompok kami pun terpecah. Ada yang mau jemput teman dan ada yang mau menunggu sambil ngeliat-liat barang di Mirota, toko sejuta umat (ramee banget). Pilihan saya enggak jauh-jauh dari pembatas buku, sedangkan teman saya mencari perintilan. Dua teman yang lain pergi entah ke mana. Nah, di toko ini, mata saya terfokus oleh tulisan "bukak" alih-alih "buka" karena saya menemukan tulisannya dua kali. Saya sempet mikir, "Oh, di sini, tulisan "buka" itu "bukak". Tapi, teman saya yang asli sana malah menjawab enggak. Mungkin yang nulis plang itu lupa bahwa "buka" enggak ditambahin "k".


Sebenarnya, ada benda lucu yang membuat saya tertawa-tawa. Bukannya saya parno, tapi saya inget film Clockwork Orange dan patung SDD buat ulang tahunnya. Maka itu, saya langsung ngambil foto sambil mencolek teman saya yang agak shock walau dia juga cengengesan. Teman saya yang sibuk mencari dompet malah ngomong dengan vulgar, "Nih, ada banyak." Saya yang mendengar langsung ke TKP dan bersiap mengambil gambarnya. Eh, teman saya yang cengengesan malah mendorong-dorong saya dan bilang, "Ih, malu. Jangan." Hahaha. Padahal, lucu banget, sumpah! Bahkan, saya enggak tahu buat apaan benda begituan sampai diukir model begituan. Tadinya gambarnya mau disensor, tapi udah keburu burem gara-gara teman saya dorong-dorong. Mungkin, doi sensi.



Selesai di sana, kami ketemu dengan teman-teman yang lain dan nongkrong untuk beberapa lama. Di sini, tanpa sengaja kami ketemu ketua umum ormas besar. Karena pada akrab, saya juga sok-sok-an akrab sambil salaman. Yang terucap dalam hati saya saat salaman adalah "Sumpah, tangannya halus banget kayak bayi." Ngalor-ngidul akhirnya balik ke penginapan dan tidur. Saat itu, perut saya sedang bergejolak. Makanya, saya berdoa kepada Tuhan agar perut bergejolak ini segera dilancarkan jalan keluarnya. Bahaya kalo perut penuh dan isinya yang gak penting belum keluar. Bisa-bisa perut saya berisi gas dan akan menyemprot ke mana-mana *uups*.

D-Day is Sunday. Hari kondangan tiba dan semua berdandan rapi en cantik. Saya tidak menyiapkan apa-apa, seperti biasa hahaha. Masalahnya cuma satu, yaitu kepraktisan. Perjalanan jauh saya enggak pernah mikir untuk pakai ini-itu. Yang ada, saya cuma ambil kemeja saya plus cardigan. Aksesorinya adalah tas kecil Eiger dan sepatu Crocs Malindi. Kalau teman saya si Andhisme ngeliat apa yang saya pake, pasti dia akan pengsan dan mempreteli tas Eiger dan Crocs Malindi saya. Tapi, saya dandan lho *ehem*. Alat make up gak dibawa lengkap sih, tapi saya bawa yang inti dari alat make up. Hihihi *malus*. Di acara ini, kami tetep foto-foto dan menikmati makanan yang bertebaran di mana-mana.

Selesai kondangan, kami langsung meluncur ke Jekardah. Jalan yang dilewati tetap selatan, tapi lewat Nagreg-Bandung. Jalanannya lebih oke dibanding utara yang banyak lobang. Kalau lewat jalan ini beneran smooth, apalagi banyak gelombang jalan yang alus. Kalau ngebut, jantung rasanya mencelos ke bawah. Salah satu jalanan favorit saya, ya seperti itu. Rasanya mau berkali-kali balik buat ngerasain sensasinya :D.

Yang paling horor adalah ngelewatin tanjakan di jalan berkelok-kelok. Teman saya ini lupa masukin gigi. Dan tebak apa yang terjadi? Mobil berasap dan mobilnya mundur terus, padahal udah direm tangan. Saya pernah ngalamin kejadian kayak gitu, mobil mundur mulu dan gak bisa nanjak, pas turun muka pucat dan kaki gemeteran. Pas ngalamin kejadian kayak gitu, yang ada di otak saya adalah keluar mobil buat menyelamatkan diri. Tapi, untungnya gak jadi karena sopirnya lumayan tanggap. Loloslah buat sopir antarkota antarprovinsi :p.

Sampai Jekardah, hampir subuh banget. Untung gerbang rumah udah dibukain. Saya langsung ganti baju dan teedoor. Gak peduli udah mandi atau belum. Pukul 6, saya bangun lagi di antara kesusahan ngumpulin nyawa dan mata yang mau merem. Apa yang saya lakukan? Berangkat mencari sesuap nasi doooong. Ini semua demi tugas negara. Di depan komputer, bahkan saya enggak sadar kalau hari itu kerjaan saya banyak. Saya cuma juteks ngeliatin orang sambil ngomong dengan tatapan mata, "Nyenggol, gue bacok!"

So far, saya senang dengan road trip ini. Kerja beberapa tahun, tapi baru sekarang jalan bareng dengan teman-teman secara saya bukan pekerja di sana. Thanks yaa, guys, you are awesome. Kapan-kapan minjem mobil lagi dan jalan-jalan lagi, yaaa. Sopirnya kayaknya siap. Hahaha.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Tapi asyik kan liburan ke kota yang pernah jadi Pusat pemerintahan RI hehehhehe, km ga beli oleh2 itu rul...wkwkwkkw

    BalasHapus
  2. ohhh itu tohhh, untung nge-blurr fotonya huahuahau

    BalasHapus