Hamka Bicara Pribadi Hebat

Mei 16, 2016

Kepada pemuda:
Bebanmu akan berat. Jiwamu harus kuat. tetapi aku percaya langkahmu akan jaya. Kuatkan pribadimu!
-Hamka

Saya mendengar nama Hamka dari ayah saya ketika Hamka diceritakan sebagai salah seorang ulama hebat Indonesia. Kala itu, saya tidak terlalu peduli karena saya bukan bagian dari masa-masa Hamka, tetapi saya melihat berjejer buku Tafsir Al-Azhar karya Hamka di rak buku ayah saya. Kemudian, saya mendengar lagi nama Hamka di sekolah menengah dan sekolah tinggi. Saat itu, Hamka adalah pengarang buku sastra terkenal yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Buku yang menarik dan tidak disangka bahwa pengarangnya adalah seorang ulama.

Karya-karya Hamka ini sebenarnya banyak, tapi untuk saya yang jauh generasinya, buku-bukunya agak sulit didapat, kecuali di toko-toko buku bekas. Dulu, ada Penerbit Bulan Bintang yang masih memproduksi buku-buku Hamka, tetapi entah kenapa saya enggak tahu dengan keberlangsungan penerbit tersebut. Nah, sekitar dua tahun belakangan ini, di toko buku muncullah buku-buku Hamka dengan cetakan baru. Karena cetakan baru, ada beberapa buku yang agak mahal karena beberapa jilid dicetak menjadi satu. Tapi, ada buku-buku yang cukup pas untuk kantong saya.


Pribadi Hebat, salah satu buku karya Hamka, merupakan buku lama yang pertama kali terbit tahun 1950-an dan sudah mencapai cetakan kesembilan pada tahun 1974. Buku yang saya baca ini adalah buku cetakan terbaru dari Penerbit Gema Insani. Nah, buku ini ngomongin apa sih? Buku ini sebenarnya bercerita seperti apa sih pribadi hebat itu. Di sini, Hamka berbicara mengenai arti pribadi itu sendiri yang dirumuskan dari pendapat para ahli dan juga pendapatnya. Menurut Hamka, pribadi hebat itu pribadi yang besarlah yang menimbulkan kebangsaan dan keteguhan bangsalah yang memupuk pribadi. Ia juga menyinggung bahwa akan lebih canggung jika ada orang yang dengan sengaja menjadi "pak turut", menenggelamkan pribadi sendiri ke dalam kebesaran pribadi orang lain. Hamka juga bercerita mengenai sosok H. Agus Salim yang lebih saya tahu sebagai pahlawan nasional Indonesia. Gambar H. Agus Salim biasanya ada di poster foto-foto pejuang nasional atau di buku pelajaran sejarah. Saya ingat foto H. Agus Salim, yaitu kakek tua dengan jenggot putih. Ia memakai peci dengan gaya seperti kiai nusantara masa dulu: peci, serban, baju koko, dan sarung. Hamka bercerita bahwa H. Agus Salim terkenal karena kecepatannya berpikir. Pernah ia ditantang oleh orang Belanda tentang bahasa Indonesia, tetapi ditantang balik oleh H. Agus Salim hingga orang Belanda itu terdiam. Hamka juga bercerita bahwa pada masa penjajahan, ketika H. Agus Salim akan berpidato, pemuda-pemuda yang tidak suka pendirian politiknya mengembek seperti kambing karena ia berjanggut dan disamakan dengan kambing. Namun, H. Agus Salim berkata kepada ketua rapat, "Ini adalah rapat manusia, Tuan Ketua. Harap Tuan Ketua menghalaukan kambing-kambing itu ke luar." Seketika ruang tersebut menjadi diam.

Menurut Hamka, memunculkan pribadi seseorang menjadi pribadi hebat itu ada ciri-cirinya, yaitu daya tarik, cerdik, empati, berani, bijaksana, berpandangan baik, tahu diri, kesehatan tubuh, bijak dalam bicara, dan percaya kepada diri sendiri. Di buku ini, terlihat sekali bahwa Hamka ingin setiap individu bangsa Indonesia menjadi pribadi yang hebat, bukan pribadi yang lemah dan ditindas pribadi yang lain. Ia memberikan contoh-contoh dan kutipan-kutipan menarik dari para pembesar, selain juga bercerita dengan gayanya yang memang menarik.

Boleh dibilang buku ini masuk kategori buku motivasi atau mungkin self-help. Namun, Hamka tidak mengajarkan tahap-tahap untuk menjadi pribadi hebat layaknya buku-buku motivasi. Hamka di sini lebih cenderung berbicara begini lhoo pribadi hebat itu, ciri-cirinya, dan seperti siapa sih pribadi hebat itu, bukan bicara kalau mau menjadi pribadi hebat, ikuti tahap-tahap ini. Gaya bertutur yang digunakan Hamka juga mengalir walau gaya bertuturnya tipikal angkatan 45, bukan gaya buku motivasi kekinian yang cenderung persuasif. Malah saya merasa tulisannya cenderung sastrawi yang gampang dicerna.

Banyak hal positif ditulis Hamka di buku ini yang membuat saya tersadar tentang pribadi hebat itu. Satu hal yang menarik ketika ia menulis berikut ini.

Orang yang telah melemburkan dirinya kepada agamanya sendiri, apa pun agama yang dipeluknya, sekali-kali tidak ada kesempatan untuk membenci pemeluk agama lain. Bagaimana akan ada kebencian dalam hati orang yang mendekati Tuhan? Bukanlah semua makhluk sama-sama hamba Allah seperti dia? Orang lain telah mengorbankan waktunya untuk beribadah kepada Tuhan. Ibadah dengan arti yang luas, yang saya katakan sebelumnya, tidaklah sempat mendebat-debat menyalahkan cara ibadah pemeluk agama yang lain. Sebagaimana Al-Quran mengataka, "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendakim niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan (Al-Maidah: 48)."

Secara keseluruhan, buku ini menurut saya bagus untuk dibaca sebagai motivasi diri. Tidak menggurui dan menggunakan bahasa sastrawi. Cukup ringan dan komunikatif walau yang menulis adalah salah satu ulama kebanggaan Indonesia yang kalau dilihat dari luar kayaknya tulisannya berat hehehe. Layaklah buku ini dibaca karena buku ini ditulis oleh Hamka :D. 

You Might Also Like

2 komentar

  1. Minta izin Share ya, ukhti~ I hope you don't mind. *Tersenyum*

    BalasHapus