Munculnya Ya’Juj & Ma’juj di Asia (Mengungkap Misteri Perjalanan Zulkarnain ke Cina): Membaca kisah Zulkarnain dan Ya’juj & Ma’juj dari Sudut Pandang Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid

12.22.00

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan hingga apabila telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati segolongan umat di sana. Kami berkata,“Hai, Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” Zulkarnain  berkata, “Adapun orang yang aniaya maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”

 Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah timur), dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu. Demikianlah, sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.

Kemudian, dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Maka, dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi.”

Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain, “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Zulkarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku. Maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar.” Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya dan Kami nampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas, yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Ku dan adalah mereka tidak sanggup mendengar (QS. Al-Kahfi [18]: 83—101).


Al-Kahfi. Surah tersebut termasuk surah Makkiyah dengan 110 ayat yang memiliki keutamaan tertentu. Nabi SAW pernah bersabda dalam hadis-hadisnya mengenai keutamaan tersebut.

Pertama, manusia yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat akan terhindar dari fitnah Dajjal. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan memancarkan cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit yang akan meneranginya kelak pada hari kiamat dan diampuni dosanya antara dua Jumat’ (HR Abu Bakr bin Mardawaih dari Kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298).

Kedua, manusia yang membaca Al-Kahfi pada hari Jumat akan mendapat pengampunan dosa di antara dua Jumat. Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Barang siapa membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jumat” (HR Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249).

Ketiga, ganjaran yang disiapkan bagi orang yang membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Cahaya ini diberikan pada hari kiamat yang memanjang dari kedua telapak kakinya sampai ke langit. Hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka” (QS Al-Hadid: 12). Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu dan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa membaca surah Al-Kahfi pada malam Jumat, dia akan dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dan Baitul ‘Atiq” (Sunan Ad-Darimi, No. 3273 dan juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, No. 736).

Bagi umat Islam, surah Al-Kahfi merupakan salah satu surah utama, di samping surah Yaasin yang biasanya dibaca pada malam Jumat. Dulu, sebelum saya tahu hadis ini, setiap malam Jumat, saya selalu membaca surah Yaasin karena banyak faedahnya dan dari dulu juga seperti itu. Namun, setelah tahu hadis ini, saya tidak beralih hanya membaca Al-Kahfi saja, tetapi tetap membaca Yaasin. Sebenarnya, enggak harus dua surah itu aja, keseluruhan Al-Quran ya seharusnya dibaca karena pastinya banyak kebaikan di sana.

Selain faedahnya yang banyak, Al-Kahfi juga menarik untuk dikaji karena di sana ada kisah Zulkarnain. Siapa sih Zulkarnain? Dulu, dari omongan orang-orang, saya hanya tahu bahwa Zulkarnain bernama lengkap Iskandar Zulkarnain dan konon dia adalah Alexander the Great atau Alexander yang Agung—raja muda dari Kerajaan Macedonia yang kekuasaannya mulai dari Eropa hingga Asia. Dalam anggapan saya, dia adalah tokoh yang soleh, religius, dan percaya dengan satu Tuhan. Namun, ketika muncul film Alexander, pandangan saya terhadap Zulkarnain itu Alexander the Great pun terkikis karena, kok, beda banget antara apa yang ada di bayangan saya soal Zulkarnain dan apa yang digambarkan. Saya jadi ragu, benar gak sih Zulkarnain dan Alexander the Great itu sosok yang sama? Kok, beda ya dengan sosok Zulkarnain yang disebutkan dalam Al-Quran?

Pertanyaan saya itu tidak terjawab karena saya memang membiarkan menguap. Nah, beberapa tahun kemudian, tepatnya akhir-akhir ini, ketika saya sedang membaca terjemahan Al-Quran, pertanyaan itu muncul lagi. Kali ini, tidak hanya Zulkarnain, tetapi ada pula Ya’juj dan Ma’juj. Yup! Jika melihat kutipan Al-Kahfi di atas, kisah Zulkarnain ini tidak bisa dilepaskan dari kisah Ya’juj dan Ma’juj karena Zulkarnainlah sosok yang membebaskan sebuah bangsa dari kekejaman Ya’juj dan Ma’juj. Nah, saking keponya saya dengan ayat-ayat Zulkarnain beserta Ya’juj dan Ma’juj, saya bertanya-tanya, ada gak sih buku yang membahas itu?

Buku terjemahan karya Syaikh Hamdi, terbit tahun 2007

Bertemulah saya dengan buku Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid yang berjudul Munculnya Ya’juj & Ma’juj di Asia: Mengungkap Misteri Perjalanan Zulkarnain ke Cina. Judul yang menarik, amat sangat menarik, walau saya merasa judulnya sudah menjawab isi buku, apalagi didukung oleh sampul buku bergambar tembok Cina. Di buku ini, tentunya Syaikh Hamdi—seorang pejabat di pemerintahan Arab Saudi—berbicara mengenai penelusurannya dalam menjawab Ya’juj dan Ma’juj serta Zulkarnain yang ada dalam Al-Quran, khususnya dalam surah Al-Kahfi. Ayat yang disoroti Syaikh Hamdi dalam surah Al-Kahfi adalah perjalanan Zulkarnain ke matahari terbenam, matahari terbit, hingga ia bertemu dengan bangsa yang sedang menghadapi Ya’juj dan Ma’juj. Namun, sebelum dibahas perjalanan Zulkarnain itu, Syaikh Hamdi menuliskan siapakah Zulkarnain. Benarkah dia adalah Alexander yang Agung atau Alexander the Great?

Untuk menjawab hal ini, Syaikh Hamdi menuliskan beberapa tokoh yang berpotensi sebagai Zulkarnain. Pertama, sosok Zulkarnain atau yang dikenal dengan Iskandar sebagai sosok yang penuh mitos. Sosok ini muncul hampir di banyak kebudayaan, mulai dari kepulauan Britania Raya sampai dengan kepulauan Tanah Melayu. Sosok ini adalah tokoh dalam gambaran sejarah keagamaan dan keduniaan tanah Eropa pada masa Romantis dari abad pertengahan di benua Eropa. Bahkan, ia dianggap seorang laki-laki yang suci dalam gambaran Talmud.

Sosok kedua merujuk pada pendapat Ulrich Wilcken yang menyebutkan bahwa Zulkarnain adalah Alexander the Great, anak Raja Philip dari Macedonia. Sosok ini merupakan raja besar yang kekuasaannya meliputi Eropa hingga Asia. Sosok ini juga boleh dianggap sosok terkenal yang namanya banyak diceritakan dalam kisah-kisah kuno.

Sosok yang ketiga adalah Iskandar Al-Makduni. Konon, sosok ini adalah manusia biasa, bukan sosok manusia terkenal yang mengukir sejarah. Tidak banyak bukti mengenai kehadirannya, tetapi namanya juga disebut oleh beberapa peneliti sebagai sosok Zulkarnain.    

Mengenai siapa sosok Zulkarnain ini, Syaikh Hamdi memiliki pendapatnya sendiri. Ia menganggap bahwa Zulkarnain yang disebutkan dalam Al-Quran merupakan pangeran Mesir dan keturunan Firaun yang bernama Akhnaton. Dalam surah Ghafir ayat 23—46, tertulis adanya percakapan antara Nabi Musa dan Firaun. Di situ disebutkan bahwa ada laki-laki saleh yang terlibat dalam perbincangan tersebut. Menurut Syaikh Hamdi, Akhnaton hidup pada masa Nabi Musa dan ia merupakan anak dari Firaun. Setelah Firaun tewas ketika mengejar Nabi Musa, Akhnaton menggantikan posisi sang ayah untuk menjadi raja. Pada masa pemerintahan Akhnatonlah, dikenalkan konsep monoteisme, yaitu menyembah hanya satu Tuhan, mengganti konsep ketuhanan pada masa kepemimpinan ayahnya. Di sini, ia banyak membangun tempat ibadah untuk memuja satu Tuhan itu. Namun, konsepnya tersebut banyak mendapat pertentangan dari pemuka agama sebelumnya sehingga terjadi beberapa perlawanan. Selain itu, ia pun tak berdaya ketika terpaksa melepas daerah kekuasaan Mesir yang ada di Palestina dan Syria. Menurut ahli, ada dua kemungkinan mengapa wilayah kekuasaannya lepas. Pertama, Akhnaton terlalu fokus dalam kecintaannya dalam konsep monoteisme sehingga ia melupakan urusan-urusan lain. Kedua, ia kekurangan prajurit untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya karena sebagian besar prajurit Mesir saat itu turut serta bersama Firaun mengejar Nabi Musa. Sebelum Akhnanton wafat, ia telah menyiapkan menantunya Smenkhkare untuk menggantikannya, lalu dilanjutkan oleh menantunya yang lain Tut Anakh Amon. Mungkin, pemerintahan Akhnaton di Mesir dapat dikatakan singkat.


Ada informasi menarik yang ditemui Syaikh Hamdi dari sumber literaturnya bahwa mumi Akhnaton belum ditemukan. Di sinilah Syaikh Hamdi yakin bahwa Akhanaton meninggal dunia di luar Mesir, termasuk istrinya Nefartiti dan para pengikutnya. Syaikh Hamdi juga yakin bahwa Akhnaton adalah Zulkarnain yang memang tidak berada di Mesir, tetapi ia sedang melakukan perjalanan menuju terbenamnya matahari, terbitnya matahari, hingga menjumpai bangsa Ya’juj dan Ma’juj.

Dalam penelusuran jejak Zulkarnain ini, Syaikh Hamdi mengawalinya dari tempat terbitnya matahari. Awalnya, saya pikir Jepang karena negara tersebut dikenal sebagai negeri matahari terbit dengan bendera yang melambangkan matahari. Ternyata, yang dituju oleh Syaikh Hamdi adalah Republik Kiribati yang terdapat di tengah-tengah Lautan Pasifik. Secara eksplisit, Kiribati memang disebut sebagai tempat mulainya terbit matahari. Konon, jika ingin merasakan tahun baru lebih awal dibanding negara-negara lain, datanglah ke Kiribati karena di sana matahari mulai menyinari bumi. Di samping itu, negara tersebut berdekatan dengan international date line sebagai awal mula waktu terbitnya matahari.

Nah, mengenai tempat terbenamnya matahari, Syaikh Hamdi kembali melakukan penelusuran dengan mengambil jarak waktu antara Kepulauan Kiribati sebagai tempat terbit dan tempat terbenamnya matahari. Awalnya, Syaikh Hamdi berkesimpulan bahwa tempat terbenamnya matahari adalah Srilangka dengan menghitung jarak waktu dan menghitung kedekatan garis khatulistiwa antara Kiribati dan Srilangka, tetapi ciri-ciri yang ada dalam Al-Quran tidak sesuai dengan Srilangka. Setelah diteliti lebih jauh, ternyata Srilangka tidak lurus dengan garis khatulistiwa, melainkan Kepulauan Maladewa. Kedekatan dengan khatulistiwa ini ditambah lagi dengan penafisran Syaikh Hamdi terhadap ciri-ciri yang disebutkan oleh Al-Quran sepertinya cocok dengan kepulauan tersebut.

Sebenarnya, pembahasan saya di atas tidak berurutan seperti yang ada dalam Al-Quran dan di buku Syaikh Hamdi. Namun, saya mengacu pada penelitian awal yang dilakukan Syaikh Hamdi, yaitu ia meneliti tempat terbitnya matahari dulu, kemudian terbenamnya matahari. Nah, jika dilihat lagi perjalanan Zulkarnain atau Akhnaton, tentunya ia akan mulai dari Mesir, lalu ia singgah di Kepulauan Maladewa, lalu di Kiribati, terakhir ia pun menuju tempat Ya’juj dan Ma’juj.

Seperti yang sering disebutkan di buku ini, Zulkarnain atau Akhnaton melanjutkan perjalanannya ke Cina untuk menghadapi Ya’juj dan Ma’juj. Mengapa Syaikh Hamdi bisa berkesimpulan bahwa Ya’juj dan Ma’juj berada di Cina? Siapakah Ya’juj dan Ma’juj itu?


Di Mbah Google, Ya’juj dan Ma’juj dikenal juga sebagai Gog dan Magog. Istilah Gog dan Magog ini merupakan istilah dalam bahasa Inggris. Untuk Ibrani, istilah yang digunakan beda lagi.

Ya’juj dan Ma’juj ini adalah makhluk akhir zaman yang akan merusak dan menghancurkan bumi. Sifat mereka itu sangat keras, kasar, biadab, sombong, gigih, senang berperang, merampok, membunuh, merusak, dan memperkosa korbannya. Mereka tidak menyukai umat (bangsa) lain, selain mereka sendiri. Kesombongan mereka digambarkan dalam sebuah hadis Nabi SAW, yaitu ketika mereka telah berhasil membunuh seluruh penduduk bumi, mereka melemparkan anak panah dan tombak ke atas awan, kemudian mereka beranggapan bahwa mereka telah berhasil membunuh penduduk langit (para malaikat) karena anak panah dan tombak mereka kembali dengan berlumuran darah. Konon, dua bangsa penghancur ini sekarang sedang terkurung. Kurungan itu akan terbuka ketika kemunculan Dajjal yang berarti kiamat sudah tinggal di depan mata. Dua bangsa penghancur ini ternyata tidak hanya disebutkan dalam dunia Muslim, tetapi disebutkan juga di ajaran Yahudi dan Kristen. Mungkin tidak sama persis karena masing-masing ajaran tentunya memiliki interpretasi yang berbeda-beda.

Mungkin, boleh dibilang penelusuran Syaikh Hamdi terhadap Ya’juj dan Ma’juj—bukan kisah Zulkarnain—tebersit secara tak sengaja. Ceritanya begini, sekitar tahun 2000, Syaikh Hamdi yang mewakili Arab Saudi menghadiri pertemuan persatuan atlet sepeda se-Asia di Shanghai, Cina. Itu adalah kali pertama Syaikh Hamdi ke Cina dengan pikiran sebenarnya masih di seputar Zulkarnain serta misteri Ya’juj dan Ma’juj. Selama di Shanghai itu, Syaikh Hamdi didampingi oleh seorang dosen yang ingin mengasah bahasa Inggrisnya yang bernama Huxiao Tian. Sang dosen ini bercerita banyak tentang sejarah Cina sehingga Syaikh Hamdi pun bertanya mengenai Ya’juj dan Ma’juj. Pernah dengar kisah Ya’juj dan Ma’juj gak sih? Awalnya, sang dosen gak ngerti maksud Syaikh Hamdi, tetapi Syaikh Hamdi sepertinya pantang menyerah dengan mengulang-ulang pertanyaan dan dengan berbagai penekanan dalam dua kata itu. Akhirnya, sang dosen mengatakan, “Ya’jou dan Ma’jou.” Dua kata dalam bahasa Cina yang berarti benua Asia dan benua kuda. Nah, keterangan inilah yang membuat Syaikh Hamdi melakukan penelusuran lebih mendalam mengenai Cina dan hubungannya dengan Zulkarnain. Penelusuran yang dilakukan oleh Syaikh Hamdi tentunya penelusuran literatur sejarah, penelusuran linguistik, dan sepertinya geografi.

Dengan penelusuran itu, secara singkatnya (maafkan karena saya agak), Zulkarnain yang ternyata Akhnaton—putra Mesir—melakukan perjalanan meninggalkan Mesir setelah ia merasa bahwa kondisi Mesir sudah tidak kondusif bagi dirinya dan keluarganya. Dia singgah di negeri terbenam matahari (Maladewa), lalu menuju negeri terbitnya matahari (Kiribati). Dari sini, Zulkarnain beserta keluarga dan pengikutnya melanjutkan perjalanan ke Cina. Di negeri inilah, Zulkarnain diminta bantuannya untuk menghalau bangsa Ya’juj dan Ma’juj karena mereka adalah bangsa penghancur. Berdasarkan pengetahuan terhadap pembangunan di Mesir, Zulkarnain pun menerapkannya ketika ia membangun Great Wall (Tembok Besar) yang saat ini masih gagah berdiri. Setelah pembangunan tembok selesai, apa yang dilakukan Zulkarnain? Menurut Syaikh Hamdi, Zulkarnain beserta keluarga dan pengikutnya pun tinggal di sana dan membuat dinasti baru, yaitu Chou.

Jadi, siapakah Ya’juj dan Ma’juj berdasarkan penelusuran Syaikh Hamdi?

Jika dihubungkan dengan bahasa Cina, Ya’juj dan Ma’juj itu adalah Ya’jou dan Ma’jou yang berarti benua Asia dan benua kuda. Siapakah benua Asia? Syaikh Hamdi mengatakan bahwa benua Asia itu adalah Jepang, Korea, Manchuria, atau Tibet. Secara geografis, negara-negara tersebut memang berbatasan dengan Cina. Cina dan negara-negara tersebut memang memiliki gap walau wajah mereka cenderung sama. Berdasarkan penelusuran sejarah, dari dulu hingga sekarang, negara-negara tersebut saling mempertahankan diri dengan nasionalisme yang boleh dibilang sangat tinggi. Ya, mungkin sejak dulu negara-negara ini sudah saling menjajah.

Bagaimana dengan Ma’juj? Karena Ma’jou dalam bahasa Cina berarti benua kuda, Syaikh Hamdi pun merujuk pada bangsa Mongol—bangsa yang memang hidup di sebelah utara Cina. Bangsa ini memang dikenal dari dulu sebagai bangsa yang sangat mahir berkuda dan banyak menyerang negara-negara lain, terutama pada masa kepemimpinan Jengis Khan dan Kubilai Khan. Boleh dibilang mereka barbar dan sangat kejam. Konon, pembantaian yang dilakukan oleh Jengis Khan merupakan pembantaian terbesar sepanjang sejarah manusia sehingga bangsa Cina sangat takut menghadapi mereka.

Menurut Syaikh Hamdi, Jengis Khan terlahir dengan nama Temujin. Ketika ia berusia 9 tahun, orang tuanya dibantai dan diracun oleh beberapa orang dari kaum Tatar. Kejadian itu yang membuat ia bercita-cita membalaskan dendam kematian orang tuanya. Ketika dewasa, ia berhasil mempersatukan kabilah-kabilah Mongol yang terpecah menjadi satu kekuatan. Setelah itu, dia memimpin penyerangan terhadap kaum Tatar. Perang tersebut sangat sadis. Seluruh lelaki dewasa Tatar dibunuh, kecuali anak-anak dan kaum wanita yang dipaksa menjadi hamba sahaya. Ketika usianya mencapai 40 tahun, ia memiliki banyak julukan, termasuk Jengis Khan. Penyerangan diluncurkan ke berbagai kerajaan, termasuk kerajaan Islam dan Cina. Di bawah kepemimpinannya ia berhasil memorak-porandakan negeri dan menyembelih penduduknya tanpa perasaan dan pertimbangan apa pun, selain merampas harta kekayaan yang diserang. Kemudian, keturunannya pun melanjutkan kekejaman yang sama.

Seperti dikutip dari sejarawan muslim, Rasyid ad-Din, falsafah hidup Jengis Khan itu seperti ini, “Kekayaan yang paling berharga bagi seseorang adalah ketika ia dapat menaklukkan musuhnya, menyiksa musuhnya, menguasai harta kekayaan musuhnya, menjadikan istri musuhnya merana yang tidak memiliki apa pun, selain tangisan dan ratapan, menguasai kuda perang musuhnya, dan menguasai tubuh istri musuhnya atau dengan kata lain membinasakan musuh sejadi-jadinya.” Hiii, falsafah hidup yang mengerikan.

Lalu, akankah mereka muncul lagi?

Dalam surah Al-Kahfi, Zulkarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku, Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Rabbku adalah benar.” Kami biarkan mereka pada hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semua.

Silakan merujuk pada buku tafsir yang dipercaya karena saya tidak berkapasitas untuk menafsirkan kutipan ayat Al-Quran tersebut :D.

Buku Syaikh Hamdi  mengenai Ya’juj dan Ma’juj ini merupakan buku yang menarik karena ia mencoba menjawab ayat Al-Quran dalam ranah ilmu pengetahuan. Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1425 H atau 2004 di Riyadh, Arab Saudi, dan diterjemahkan tahun 2007 oleh Penerbit Almahira, Jakarta. Kajian yang dilakukan Syaikh Hamdi terhadap Zulkarnain serta Ya’juj dan Ma’juj adalah kajian literatur. Banyak buku yang dijadikan rujukan oleh Syaikh Hamdi, terutama ensiklopedia. Meskipun ia juga melakukan kajian lapangan—seperti langsung menuju tiga tempat yang dikunjungi Zulkarnain, yaitu Maladewa, Kiribati, dan Cina—hal tersebut menurut saya hanya untuk mendukung kajian literatur yang sudah dia lakukan. Kajian lapangan yang dilakukan oleh Syaikh Hamdi juga kebanyakan metode observasi. Wawancara tentunya dilakukan, tetapi sepertinya kurang begitu mendalam karena Syaikh Hamdi tidak menyebutkan bahwa ia mewawancarai sejarawan lokal, terutama di Maladewa dan Kiribati. Menurut saya, sih, karena berhubungan dengan sejarah, sepertinya perlu diwawancarai sejarawan lokal yang benar-benar tahu soal sejarah dan budaya masayarakat setempat, tetapi Syaikh Hamdi hanya mewawancarai penduduk lokal yang mungkin kurang begitu dalam pengetahuan sejarahnya.

Dokumentasi pribadi Syaikh Hamdi ketika berkunjung ke Tembok Cina (Great Wall). Foto-foto ini di lampiran buku.

Buku ini sepertinya berusaha disusun secara sistematis berdasarkan perjalanan yang ditempuh Zulkarnain. Namun, yang menurut saya agak mengganggu, yaitu pengulangan dari awal hingga akhir bahwa Zulkarnain itu adalah Akhnaton yang melakukan perjalanan ke Cina. Sebelum Zulkarnain sampai Cina, dari awal membaca, saya sudah tahu bahwa Zulkarnain adalah pangeran Mesir yang melakukan perjalanan ke Cina. Jadi, unsur kejutannya, menurut saya, agak kurang terasa.

Kesalahan dalam editing naskah tentunya ada dalam buku ini. Saya tidak merujuk buku Syaikh Hamdi yang asli yaa (buku yang berbahasa Arab), tapi saya merujuk pada buku terjemahannya yang saya baca ini. Kok, saya merasa editor bukunya agak terburu-buru menerbitkan buku ini karena ada kaidah kebahasaan yang menurut saya kurang sesuai, terutama bagian catatan kaki. Di teks ada nomor catatan kaki, tapi tidak ada keterangan catatan kakinya. Di lain sisi, halaman yang ada catatan kakinya selalu dimulai dari nomor 1, tidak melanjutkan nomor catatan kaki sebelumnya. Biasanya perpindahan catatan kaki ada di setiap bab, tetapi di buku ini perpindahan nomor catatan kaki ada di setiap halaman :D.

Ada pula kata yang menurut saya seharusnya “tebersit” ditulis dengan “terdetik” yang membuat saya harus membuka KBBI lagi, adakah kata tersebut? Kata terdetik sih tidak ada, yang ada itu detik, berdetik, mendetik, dan detikan. Detik itu merujuk pada waktu, sedangkan maksud tulisan di sini adalah tersembul tiba-tiba, jadi yang seharusnya ditulis tebersit, bukan terdetik. Ada lagi penyebutan nama Tagalog (Thailand) yang menurut sepengetahuan saya seharusnya tertulis Filipina. Untuk mengurangi hal-hal seperti ini, ada baiknya tim editor perlu cek dan ricek sebelum siap cetak. Mungkin, tim editornya kehabisan tenggat deadline sehingga sebelum cek dan ricek lagi, buku sudah harus siap cetak. Tapi, kesalahan editing naskah, terutama kesalahan ketik, biasanya bisa dimaklumi, sepanjang enggak banyak banget dan enggak fatal serta sepanjang maksud dari buku enggak berubah dan tersampaikan ke pembaca.

Secara keseluruhan, buku ini tetap menarik untuk dibaca, kok. Pertama, tentunya menambah pengetahuan, terutama sejarah. Kedua, bisa jadi ada kajian lanjutan untuk membahas tema ini dengan penelusuran yang lebih dalam lagi.

Membaca buku ini, saya ingat petuah Arab yang mengatakan bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina karena jauh sebelumnya Cina sudah bersinggungan dengan peradaban yang juga tinggi pada masa itu, yakni Mesir. Wallahu a’lam.



*FYI, sepanjang yang saya tahu bahwa tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina merupakan hadis Nabi SAW. Namun, hal tersebut sepertinya terbantahkan karena ada perawi yang dianggap sebagai pendusta dan tukang hadis palsu. Jadi, konon ungkapan tersebut sebenarnya bukan hadis, tetapi petuah Arab yang sudah ada sebelum Islam masuk.   

You Might Also Like

0 komentar