The Thirteenth Tale: Kisah Anak Kembar

19.48.00

Semua anak memitoskan kelahirannya sendiri. Itu karakteristik umum. Kau ingin mengenal seseorang? Hati, pikiran, dan jiwanya? Tanyakan padanya tentang saat dia lahir. Yang akan kau dapatkan bukanlah kebenaran: kau akan mendapatkan sebuah dongeng. Dan, tak ada hal yang lebih menggugah selain dongeng.
 —Dongeng-dongeng Perubahan dan Keputusasaan, Vida Winter.

The Thirteenth Tale (Dongeng Ketiga Belas) merupakan karya Diane Setterfield yang pertama kali saya baca dan masuk dalam proyek re-read saya untuk tahun ini. Buku ini diterbitkan dalam versi Inggrisnya tahun 2006, sedangkan versi Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2008. Beruntungnya saya adalah saya punya cetakan pertama dari versi Indonesia :D. Nah, saya pernah berpikir bahwa buku ini adalah karya satu-satunya Setterfield karena namanya jarang banget terdengar di antara nama-nama penulis fiksi Barat yang saya tahu. Nyatanya, Setterfield sudah memiliki beberapa novel yang sudah dipublikasikan, selain Dongeng Ketiga Belas.

The Thirteenth Tale: Dongeng Ketiga Belas (Edisi Terjemahan)

Kisah Dongeng Ketiga Belas berawal dari tokoh utama Margaret Lea yang mendapat sebuah surat dari pendongeng kenamaan, Vida Winter. Di surat itu, Miss Winter meminta Miss Lea untuk menulis buku biografinya karena ia merasa terganjal oleh pertanyaan seorang jurnalis bermantel cokelat. “Ceritakan padaku yang sesungguhnya.” Dengan berbagai pertimbangan, Miss Lea menyetujui penulisan biografi tersebut walau ia belum pernah membaca satu pun buku Miss Winter.

Sebagai penulis biografi dan karena kondisi kesehatan Miss Winter yang dapat dikatakan sekarat, Miss Lea akan tinggal di rumah Miss Winter dengan kebunnya yang luas. Di rumah tersebutlah, Miss Lea mendengarkan kisah-kisah yang dituturkan oleh Miss Winter mengenai kehidupannya. Kisahnya bermula dari Keluarga Angelfield. Di suatu hari yang dipenuhi badai yang mengamuk, Isabelle Angelfield lahir, tetapi sayangnya sang ibu meninggal dunia. Kematian sang ibu membuat George Angelfield mengalami keterpurukan dan mengabaikan kehadiran Isabelle dan kakaknya—Charlie. Namun, berkat Missus yang membawa bayi lucu Isabelle ke hadapan George, sang ayah kembali hidup dan bersemangat. Ia sangat sayang kepada anak perempuannya itu hingga sang kakak—Charlie—terabaikan walau kenakalannya semakin menjadi-jadi. Di satu sisi, korban kenakalan Charlie semakin berkurang di rumahnya, yaitu para pembantu yang semakin lama semakin sedikit jumlahnya. Charlie perlu korban baru dan ia segera tertuju kepada Isabelle. Ketika hendak mencelakai Isabelle dengan kawat yang dililitkan di lengan adiknya itu, Charlie bukan mendapatkan korban baru, tetapi malah mendapatkan partner in crime yang ganjil.   

Suatu hari, kepergian Isabelle membuat perubahan pada isi rumah. Sang ayah yang pernah mengalami keterpurukan kini kembali mengalami hal yang sama. Kali ini, lebih parah. Ia mengunci diri perpustakaan dan ditemukan mati tak lama berselang. Charlie yang begitu terobsesi dengan adiknya menjadi uring-uringan karena ia merindukan Isabelle. Ia tidak mati, tetapi hidupnya seperti itu. Beberapa bulan lewat, Isabelle kembali ke rumah dengan dua anak perempuan kembar. Mereka bernama Adeline dan Emmeline.

Cerita pun kembali bermula dari si kembar yang liar dan mungkin aneh. Mereka tidak seperti anak-anak pada umumnya. Adeline cenderung agresif tanpa belas kasih yang tega membuat saudarinya celaka dengan memukulnya atau menggosongkan rambutnya. Emmeline cenderung pendiam dan menerima apa yang dilakukan oleh Adeline kepada dirinya. Adeline bisa seharian tidak makan, sedangkan Emmeline selalu lapar. Namun, mereka bisa sangat kompak untuk hal-hal tertentu. Misalnya, mereka sering ke dapur-dapur di rumah sekitaran Angelfield siang hari hanya untuk mengambil makanan. Bahkan, mereka pernah membawa seorang bayi warga sekitar dalam keretanya. Hal yang membuat geger seluruh desa tersebut.

Gara-gara kejadian geger tersebut, Dokter Maudsley yang dianggap sebagai jubir di desa tersebut datang ke rumah Angelfield untuk bertemu Charlie dan berbicara mengenai si kembar. Tapi, kedatangan Dokter Maudsley malah membuat hal ganjil lainnya ditemukan. Atas saran sang dokter, Isabelle dikirim ke rumah sakit jiwa untuk perawatan insentif. Charlie tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menangisi kepergian Isabelle. Di satu sisi, Dokter Maudsley mencarikan guru privat untuk mendidik si kembar karena para walinya tidak dapat diandalkan.

Guru tersebut bernama Hester dan ia membawa energi positif ke dalam isi rumah. Ia membuat rumah yang terabaikan menjadi rumah yang kembali hidup. Bagian rumah yang kotor dibersihkan dan bagian rumah yang rusak dibetulkan. Di antara si kembar, hanya Emmeline yang bisa mengikuti arahan Hester, sedangkan sikap Adeline tetap sama: agresif dan menolak semua perintah. Hingga suatu hari, atas nama penelitian dan ilmu pengetahuan, Hester dan Dokter Maudsley memisahkan si kembar. Pemisahan yang tidak memberikan hasil dan tidak sesuai dengan harapan mereka. Hester pun terpaksa pergi secara tiba-tiba, bukan karena penelitian, tetapi karena affair-nya dengan sang dokter. Missus, di usianya yang renta, kembali terbebani karena si kembar malah semakin menjadi-jadi, terutama Adeline.

Ketika Missus memeriksa surat-surat yang berdebu karena ketidakpedulian, ia menemukan sebuah surat yang mengabarkan bahwa Isabelle meninggal dunia di rumah sakit jiwa. Lalu, Charlie pun menghilang dan tidak pernah ditemukan. Tak beberapa lama, ia dinyatakan meninggal dunia. Padahal, Charlie bunuh diri di sebuah gubuk, jauh di hutan. Kehilangan selanjutnya adalah Missus yang sudah begitu tua. Vida Winter yang mengaku sebagai Adeline mengambil alih semua tugas bersama John—tukang kebun Angelfield yang juga sudah tua. Hingga pada suatu saat John meninggal, terjatuh dari tangga. Urusan rumah tangga pun beralih kepada Vida Winter remaja. Selanjutnya, terjadilah insiden kebakaran di rumah keluarga Angelfield hingga melahirkan sosok Vida Winter.

Kisah Angelfield dan si kembar adalah satu bagian cerita yang dikisahkan oleh Vida Winter. Namun, ada kisah Margaret Lea—seorang kembar yang sendirian atau istilah lainnya amputee—yang mencari jawaban untuk semua hal yang terjadi pada dirinya, terutama mengenai hubungannya dengan ayah, ibu, dan kembarannya yang tiada. Pada akhir kisah, Margaret Lea bisa memahami apa yang terjadi dengan dirinya, begitu juga dengan yang tersisa dari keluarga Angelfield.

Ilustrasi Margaret Lea
(Saya membuatnya dengan pensil warna dan drawing pen)

Jujur, yang menarik dari buku ini adalah sampulnya yang unik. Dan, setelah saya lihat, ternyata ilustrator sampul depan adalah Emte. Wajarlah, ya, karena dia jago banget dalam dunia ilustrasi. Namun, bukan hanya itu aja yang membuat buku ini bagus. Kisah yang disampaikan Diane Setterfield juga unik, yaitu mengenai anak kembar, yang mungkin agak jarang diangkat dalam dunia fiksi.

Gaya bercerita Diane dalam kisah ini juga enak dibaca—terkesan lugas, tetapi indah—hingga saya bisa tenggelam dalam bab demi bab yang disajikan. Tidak bertele-tele dan cukup dengan kalimat-kalimat yang sederhana. Bahkan, kesan suram yang sepertinya agak sulit ditampilkan, kecuali kita menulis kata ‘suram’, malah amat terasa dalam kalimat-kalimat yang ditulis Setterfield. Di satu sisi, tokoh-tokoh yang ada dalam kisah ini menampilkan karakter yang kuat, seperti Vida Winter si pendongeng dengan banyak penghargaan yang tegas dan misterius, tetapi kadang begitu rapuh; Margaret Lea, si penulis biografi yang merasa kehilangan saudarinya yang kembar; sang ayah yang sangat mengasihi sang ibu yang begitu dingin kepada Margaret Lea, tetapi sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya; si kembar Adeline dan Emmeline yang liar; Missus dan John yang renta, tetapi memiliki tanggung jawab tinggi terhadap keluarga Angelfield; dan tokoh-tokoh lainnya yang menurut saya digambarkan cukup sempurna oleh Setterfield. Boleh dibilang, antara penokohan dan alur cerita yang ditampilkan kisah ini memiliki kekuatan yang sama. Karakter tokoh kuat, alur pun kuat.

Seperti yang diajarkan di kelas Pengkajian Prosa yang pernah saya ikuti, novel Dongeng Ketiga Belas ini merupakan cerita berbingkai, yaitu ada cerita dalam cerita. Maksudnya? Jadi, gini, kisah sebenarnya berpusat pada Margaret Lea yang memiliki masalah sendiri dengan kehidupannya serta tugasnya sebagai seorang biografer pendongeng kenamaan, Vida Winter. Namun, ketika Vida Winter bercerita mengenai Angelfield dan si kembar, hal itu merupakan satu cerita yang utuh, bukan kisah yang masih menjadi satu dengan kisah Margaret Lea.


Rekomendasi saya terhadap buku Dongeng Ketiga Belas ini bagus dan layak buat dibaca. Wajar sih kalau buku ini mendapat predikat sebagai salah satu buku fiksi terbaik tahun 2006 versi New York Times Best Seller karena ide dan gaya bertuturnya sangat enak dibaca dan dinikmati. Nah, apakah buku ini masih dikeluarkan cetakan terbarunya? Hm, saya enggak tahu karena saya sendiri pun sudah cukup lama belinya. Tapi, agak rugi aja kalau ada buku bagus seperti karya Diane Setterfield ini enggak masuk kategori dibaca. Kalau misalnya di toko buku enggak ada lagi karena tergeser oleh cerita-cerita baru yang lebih fresh, toko buku bekas bisa jadi alternatif :D. 

Selamat membaca!

You Might Also Like

0 komentar