Love is ...: Ketika Puuung Bicara Cinta

18.02.00

Ilustrasi, sketsa, lukisan, komik, kartun, atau apa pun istilah dan bentuknya sering kali membuat saya jatuh hati. Banyak karya yang saya kagumi dari banyak seniman dan itu selalu memuat saya berdecak kagum. Tahu Agnes Cecile? Setiap kali dia membuat karya dan di-post di YouTube, saya pasti langsung meleleh. Ah, bagus banget. Dia bisa menginspirasi banyak orang dengan memperlihat betapa mudahnya melukis dengan cat air. Ya, walaupun ternyata enggak mudah juga menggunakan cat air.

Bagi saya, ilustrasi dkk itu sama dengan foto. Satu ilustrasi bisa mengungkapkan banyak makna. Bedanya, foto itu ya gambar benerannya yang dilihat oleh juru foto, sedangkan ilustrasi dkk itu gambar ulang dari sang seniman. Si seniman biasanya memaknai lagi peristiwa yang dilihat atau dirasa menjadi bentuk ilustrasi dkk. Menarik sekali karena ada kreativitas di sana. Pernah membaca tulisan saya mengenai buku Indonesian Damn Good! Cartoon? Di sini, ada empat kartunis Indonesia yang karya-karya sudah melanglang buana karena betapa cantiknya mereka merepresentasikan apa yang terjadi di masyarakat menjadi sebuah kartun yang menarik.

Namanya juga seni, sebuah karya pun enggak hanya memaknai apa yang terjadi di masyarakat, tetapi juga apa yang ada dalam perasaan atau pikiran seniman. Lihat aja karya-karya pelukis-pelukis besar yang banyak bicara tentang perasaannya, tentang dirinya, atau tentang cintanya.

Satu ilustrator yang karyanya menarik saat ini adalah Puuung. Siapakah Puuung? Nama aslinya adalah Da-mi Park. Dia merupakan warga Korea Selatan dan tentunya tinggal di sana. Puuung ini masih mahasiswa S1 jurusan animasi yang hobi banget menggambar. Dia mengakui bahwa dia tidak pandai bicara, tapi dia merasa bisa mengekspresikan dirinya melalui gambar. Namanya memang enggak familiar di telinga saya :D, tetapi di telinga banyak orang, namanya terkenal banget. Apa sebab? Puuung didapuk sebagai salah satu ilustrator yang populer di Grafolio, yaitu platform online untuk para ilustrator di seluruh dunia yang memamerkan karyanya. Kemudian, karya Puuung yang diunggah di Grafolio pun dibukukan menjadi Love is ... yang kemudian dialihbahasakan oleh Penerbit Bhuana Ilmu Populer pada tahun 2016.


Ilustrasi-ilustrasi yang ditampilkan Puuung sangatlah menarik. Gambar yang ditampilkan cukup sederhana dengan detail latar dan warna yang indah dan pas sekali. Saya sangat menikmati setiap guratan-guratan yang dihasilkan oleh Puuung. Bagus banget dan terlihat bersahaja. Apalagi tema yang diangkat dalam ilustrasi-ilustrasi itu adalah cinta. Klop banget—antara tema dan gambar.

Tema cinta yang diangkat Puuung juga bukan cinta yang termehek-mehek, tapi cinta sederhana yang sering ditemui sehari-hari. Misalnya, ngobrol sore di taman, sikat gigi bareng, mencicipi es krim pasangan, atau sengaja nonton film horor malam-malam. Tema cintanya cenderung interaksi sehari-hari pasangan yang kadang bikin baper saya sebagai pembaca :D. Maybe, I just want those kind of love. Mengenai ini, di akhir bukunya, Puuung memberikan catatan kecil, “Aku ingin mencintai seperti ini! Momen-momen kecil, manis, yang penuh cinta. Bukan cinta yang muluk yang ingin kugambarkan. Aku ingin menangkap cinta yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, secara perlahan dan selamanya.” Aaah


Untuk pencinta ilustrasi, lukisan, komik, kartun, atau apa pun namanya itu, buku ini boleh banget dijadikan koleksi—penambah referensi ilustrasi. Atau, untuk penyuka kisah cinta, buku ini juga oke untuk dibaca karena hampir setiap gambar diberikan story pic yang singkat, tetapi manis :).



Namun, di antara manisnya ilustrasi yang disajikan Puuung, sebenarnya ada yang mengganjal pikiran saya ketika buku ini dikategorikan sebagai novel grafis. Hm? Ketika buku ini disebut sebagai novel grafis, pikiran saya pasti tertuju pada komik yang setara novel. Bukan lagi komik strip. Maksudnya apa setara novel? Ya, ada alur yang membentuk komik-komik itu menjadi sebuah cerita. Pernah dengar Persepolis: The Story of A Childhood karya Marjane Satrapi atau Jakarta 2039 karya Seno Gumira Ajidarma? Nah, dua karya itu yang menurut saya novel grafis: ada alurnya—ada pembukaan, klimaks, dan penutup. Beda sekali dengan Love is ... karya Puuung ini.

Bagi saya, Love is ... merupakan kumpulan ilustrasi, seperti halnya buku Indonesian Damn Good! Cartoon. Antara satu ilustrasi dan ilustrasi lainnya dapat berdiri sendiri dan tidak membentuk rangkaian alur karena memang tidak ada klimaks atau konflik di sana. Istilahnya, setiap ilustrasi punya cerita. Dan, ya, setiap ilustrasi yang disajikan Puuung memang memiliki ceritanya sendiri yang begitu manis.


Selamat membaca dan semoga enggak baper karena betapa cute-nya ilustrasi-ilustrasi yang ditampilkan Puuung 😃.

You Might Also Like

0 komentar