Bali: I’m Coming Back

04.16.00

Sudah berapa tahun, ya, saya enggak berkunjung ke Bali? Mungkin beberapa tahun lewat. Seingat saya, terakhir kali saya mengunjungi Pulau Dewata ini mungkin sekitar tahun 2003 ketika teater jurusan saya diundang oleh kelompok teater Universitas Udayana untuk tampil di sana dalam rangkaian acara Performing Arts. Oh, God, lama banget dari tahun 2003 dan diberi kesempatan lagi tahun ini—2017. Kalau diibaratkan dengan punya anak (jika anak saya lahir tahun 2003), anak saya pasti udah SMP karena sudah 14 tahun. Hahaha.

Tebing di Uluwatu

Liburan ke Bali adalah liburan spontan untuk saya. Sebenarnya gak terlalu berniat karena masih banyak banget destinasi di Indonesia yang belum dieksplor. Tapi, ketika ada kesempatan untuk bernapas sejenak di antara rutinitas, Bali adalah salah satu pilihan yang tepat. Apa sebab? Penerbangan ke sana banyak, wisatanya oke, oleh-olehnya juga oke, dan banyak paket liburan ke pulau ini. Nah, saya ikut liburan paket ke pulau ini bersama kakak saya beserta keluarganya.

Ada yang bilang, ngapain ikutan paket, kan lebih mahal dibanding backpaker. Memang sih, minusnya ikutan paket itu cenderung lebih mahal dan gerak-gerik kita biasanya dibatasi. Tapi, plus yang gak ada duanya adalah jalan-jalan saya enggak pake mikir, cukup diikuti aja. Apalagi soal urusan perut. Kadang, kalau jalan sendiri, urusan perut bisa jadi ribet. Hahaha.

Paket tur yang saya ikuti adalah sistem paket wisata untuk enam orang. Sebenarnya, saya ikutan ini karena tawaran kakak saya yang kekurangan satu orang untuk menggenapi enam orang. Kakak dengan keluarga intinya (suami dan anak-anaknya) serta saya yang seorang diri. Paket yang diikuti judulnya tiga hari dua malam. Namun, kalau dipikir-pikir, yang aktifnya dua hari dua malam.

Perjalanan saya dimulai pada Sabtu sore. Dengan pesawat Air Asia, kami tiba di Bali sekitar isya. Tidak ada kegiatan apa-apa ketika kami tiba, kecuali perut lapar banget. Mampirlah di rumah makan padang yang enggak jauh dari bandara. Makanannya enak walau agak mahal dan suatu kebanggaan saya habis satu nasi. Di perjalanan kali ini, saya bertekad untuk menghabiskan jatah porsi saya, mengingat beberapa perjalanan akhir-akhir ini membuat saya tepar karena biasanya saya akan makan setengah porsi dari yang disajikan. Selesai makan, kami segera ke hotel. Walau cuma naik pesawat, rasa capeknya tetep ada.

Pantai Pandawa

Dua hari berikutnya, kami pun melakukan tur wisata di beberapa tempat di Bali. Sebenarnya, tempat wisata yang ada di itinerary itu adalah tempat wisata yang pernah saya kunjungi tahun 2000 dan 2003 yang lalu, kecuali Pantai Pandawa dan Uluwatu. Pantai Pandawa itu konon cenderung pantai baru dan dikelola oleh pemda setempat. Dulunya, pantai itu masih dikelola oleh warga setempat. Pantainya baguuuus banget. Kekurangannya satu, yaitu panas banget. Wajar sih, namanya pantai. Gara-gara di pantai ini, beberapa bagian tubuh saya yang terekspose memerah dan menghitam. Sebenarnya kalau lebih pagi, berenang di sana akan lebih nyaman, cuma sayangnya ada krucil-krucil yang bangunnya pada siang.  

Tangannya belang dan merah :D

Perjalanan selanjutnya adalah Uluwatu dan GWK. Kata teman, Uluwatu bagus untuk melihat tari kecak. Sayangnya, paket saya tidak menyertakan tari kecak. Jadi, hanya mengeksplor sekitara Pura Uluwatu yang ada di sisi tebing lautan. Di tempat ini, ternyata ada monyetnya. Dulu, tempat yang ada monyetnya yang pernah saya kunjungi adalah Sangeh, tapi kata tour guide, monyet di Sangeh galak dibanding di Uluwatu.

Wisnu

Garuda

Setelah mengeksplor Uluwatu, perjalanan berlanjut ke GWK alias Garuda Wisnu Kencana. Tahun 2003, saya juga berkunjung ke tempat ini karena merupakan salah satu ikon Bali. Sekarang pun masih menjadi ikon Bali. Namun, perubahannya tidak terlalu banyak. Dewa Wisnu masih dengan kepala dan torso yang sama, begitu juga dengan kepala garuda yang juga sama. Sisanya sedang dikerjakan dan mungkin akan diselesaikan karena dengar-dengar ini adalah proyek yang tertunda. Nah, malamnya, biar seperti orang-orang, kami makan di Jimbaran--di antara suasana pantai dengan anginnya yang semriwing. Sedaaap!

Makan malam di Jimbaran

Hari berikutnya, kami berkunjung ke Tanah Lot, Bedugul, dan Taman Ayun. Tanah Lot ini adalah ikon Bali banget dari zaman dulu sampai sekarang. Fotonya selalu masuk dalam postcard yang suka dijual di Gramedia saking bagusnya. Karena masih pagi, air laut masih agak surut. Jadi, kami bisa jalan-jalan ke dekat pura. Di sana, ada mata air tawar di antara air laut yang asin dan dipercaya sebagai air suci. Orang-orang yang mau foto di tangga dekat pintu masuk pura harus melakukan ritual dengan air suci dan diberkati oleh pendeta Hindu.

Tanah Lot

Pura di Atas Karang Bolong

Setelah panas-panasan, perjalanan pun berlanjut ke Bedugul yang adem dan sejuk. Setelah belasan tahun enggak ke Bali, rasanya ada yang berubah dengan Bedugul, terutama ketika berada di tempat wisatanya. Seingat saya, dulu, perlu naik perahu untuk melihat pura yang ada di atas air. Perjalanan kemarin, saya enggak perlu naik perahu, cukup jalan kaki aja. Dan, yang menarik, di depan tempat wisatanya ada masjid di atas bukit yang dikelola oleh yayasan muslim setempat.

Pura di Bedugul

Dari Bedugul, wisata terakhir adalah Taman Ayun, yaitu satu kompleks pura yang dikhususkan untuk para raja. Puranya terawat rapi dengan bangunan-bangunan unik yang memiliki makna tertentu. Pengunjung tidak memasuki pura, tetapi bisa mengelilingi dan melihat seperti apa dalamnya pura karena tembok yang mengelilinginya enggak tinggi. Jadi, kita bisa melongok ke dalamnya. Selesai di sana, saatnya go back home :D.

Pintu Masuk Pura di Taman Ayun

Perjalanan ini enggak lengkap tanpa beli oleh-oleh. Dulu, kalau beli oleh-oleh diarahkan ke Pasar Sukowati yang terkenal banget. Sekarang, oleh tour guide, kami diarahkan ke toko Krisna yang di dalamnya lengkap banget oleh-oleh khas Bali, mulai dari makanan hingga pakaian. Banyak yang kakak saya beli dan sedikit yang saya beli hingga beranak koper-koper kami hahaha.


Selesai dengan urusan oleh-oleh, kami segera menuju bandara. Pesawat kami adalah Air Asia dengan penerbangan paling malam. Jadi, sempat leyeh-leyeh dulu sambil makan pop mie. Karena kelelahan dengan muka dan mata merah, saya pun tidur sepanjang dua jam perjalanan. Ya, tidurnya sih enggak terlalu pulas, tetapi lumayan mengurangi beban kelelahan saya. Nah, ketika sampai di rumah, segeralah saya bersih-bersih dan langsung tidur. Rasanya nikmat banget bisa ketemu kasur yang nyaman walau sekilas kepikiran sama yang minta live report :D. 

You Might Also Like

0 komentar