Islamic Arts Museum Malaysia: Melihat Seni Islam dari Berbagai Budaya

16.12.00

Berkunjung ke negara tetangga itu seperti berada di negeri sendiri. Walau ada beberapa hal yang berbeda, tenyata masih terlihat titik-titik persinggungan antara Indonesia dan Malaysia. Ya, ini karena pengaruh masa lampau yang batas-batas negara terasa tak terlihat seperti sekarang. Sekeras apa pun kita menolak persamaan itu, tentunya kita tidak dapat memungkiri bahwa persinggungan antara Indonesia dan negeri tetangga pernah terjadi.

Lalu, di sanalah saya. Berdiri di tanah negeri tetangga.

Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke negeri tetangga. Sebenarnya, tujuannya bukan untuk jalan-jalan, tetapi silaturahim karena teman saya tinggal di sana. Saya memang membuat daftar yang harus saya kunjungi, tetapi tidak menjadi pakem. Dipandu teman, saya pun berkunjung ke beberapa tempat. Namanya jalan-jalan ke tempat wisata pastinya senang banget, tetapi lebih senang lagi ketika bertemu dengan teman yang sudah lama gak ketemu.

Kata orang, salah satu tempat yang patut dikunjungi jika melancong ke suatu negara adalah museum. Untuk beberapa orang, museum adalah tempat yang membosankan. Tapi, untuk beberapa orang lagi, museum itu tidak semembosankan anggapan orang-orang kok. Ini berlaku untuk saya yang jarang sekali ke museum. Tapi, ketika saya ke negeri tetangga, saya memasukkan Islamic Arts Museum ke dalam daftar tempat yang akan saya kunjungi.

Salah satu hiasan di langit-langit Islamic Arts Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia ini berada di Kuala Lumpur dan berseberangan dengan Masjid Nasional Malaysia. Menurut panduan, museum ini bisa dicapai melalui transportasi umum karena dekat dengan stasiun LRT. Karena perjalanan saya banyak dipandu oleh teman, jadi saya tidak menggunakan transportasi umum. So, saya akan bilang bahwa parkiran mobilnya sepi cenderung kosong. Hanya beberapa yang parkir di sana.

Bangunannya sangat terawat dan cenderung sepi. Ketika masuk, kami langsung disambut oleh bagian ticketing yang mirip resepsionis. Tiket masuknya agak mahal menurut ukuran saya yang terbiasa dengan museum di Indonesia. Tapi, wajar sih jika melihat pelayanan, perawatan, dan koleksi-koleksi yang ditampilkan di museum, apalagi harga segitu sudah termasuk izin foto-foto.

Apa saja yang ditampilkan oleh museum ini?

Banyak. Ada miniatur masjid dari seluruh dunia yang ditampilkan dengan apik. Begitu juga mimbar dan replika makam Rasulullah. Ada kiswah dari Ka’bah yang ketika saya melihatnya sudah membuat merinding.

Kiswah

Yang paling menarik adalah koleksi Al-Quran dari berbagai negara dan ukuran: ada yang besar banget dan ada yang kecil banget sehingga harus dibaca dengan kaca pembesar. Huruf dari Al-Quran berbagai varian, tergantung sang penyalin ingin ikut gaya yang mana.





Al-Quran dalam berbagai ukuran



Karena tema dari museum ini adalah Islamic arts, yang ditampilkan tentunya seputaran karya-karya yang terdapat pengaruh Islam, seperti naskah-naskah kuno yang di dalamnya memuat kisah-kisah Islam atau keramik bersimbolkan Islam. Naskah-naskah kuno kebanyakan berbahasa asing dengan tulisan Arab. Di dalamnya terdapat ilustrasi cantik yang mendukung kisah-kisah tersebut.

Buku doa









Yang menarik ditampilkan di museum adalah kayu ukiran yang mirip gebyok. Mirip ukiran-ukiran di Indonesia. Saking terpesonanya, saya enggak sempat membaca keterangan yang ditempel di tembok. Entah ini punya budaya mana, yang jelas mirip ukiran Jawa. 



Selain itu, ada juga koin-koin yang dijadikan sebagai alat transaksi pada masa lampau, alat-alat perang, alat-alat masak, dan ada baju zirah. Kalau penggemar kisah-kisah J.R.R. Tolkien, pasti enggak asing dengan baju zirah yang dipakai oleh aktornya saat berperang. Ketika melihat aslinya, saya terpikir, “Ini pakainya gimana? Berat dan ribet amat.” 

Pakaian-pakaian dari berbagai kebudayaan yang bersentuhan dengan Islam pun ditampilkan. Jujur, semua pakaiannya bagus dengan menampilkan ciri budaya masyarakat tertentu. Ditambah dengan perhiasan-perhiasan yang diukir dengan sangat teliti. Sangat etnik dan cantiiik banget.




Islam, dalam kacamata saya, merupakan keberkahan untuk semua dengan keanekaragaman seni dan budayanya. Seni yang ditampilkan memang tidak sama antara satu tempat dan tempat lainnya, tetapi Tuhan yang dituju tetap satu; begitu juga Rasulullah yang dijadikan panutan, tetaplah Nabi Muhammad SAW. Itulah yang membuat seni Islam indah dan kaya dengan keragaman, bukan seni yang berlindung dalam keseragaman. Bukankah Allah menyukai keindahan? 😊 

You Might Also Like

0 komentar