Mungkinkah Menjadi Zero Waste di Indonesia?

15.59.00


Judul di atas adalah pertanyaan untuk diri saya sendiri. Ketika saya membaca dan menonton channel mengenai zero waste, saya berpikir bahwa agak ribet ya kalau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena kita biasanya dimanja oleh kepraktisan plastik. Saat ini, siapa sih yang tidak bersentuhan dengan plastik? Pasti banyak di antara kita—termasuk saya—bersinggungan dengan yang namanya plastik. Plastik itu menjawab kerumitan hidup manusia dan pastinya murah.

Saya pernah mem-posting bahwa zero waste lifestyle menerapkan gaya hidup tanpa menghasilkan sampah. Nah, salah satu penghasil sampah terbesar adalah plastik. Mereka enggan untuk menggunakan plastik karena kita semua tahu bahwa proses mengurai suatu plastik yang dibuang itu bisa beratus-ratus tahun lamanya. Ada juga plastik yang susah terurai dan menghasilkan mikroplastik. Mikroplastik ini banyak banget di lautan luas sana dan konon sering dimakan oleh ikan atau burung karena dianggap makanannya. Karena itu, para pengusung zero waste ini berusaha hanya menghasilkan sampah yang bisa dijadikan kompos untuk bumi. Dua orang yang menurut saya sangat inspiratif membawa konsep ini adalah Bea Johnson dan Lauren Singer. Saya belajar banyak mengenai zero waste dari mereka.

Kemudian, secara tak sengaja, saya menemukan Beth Terry yang mengusung konsep plastic free alias bebas plastik. Menurut saya, yang diusung oleh Beth Terry lebih ekstrem dibanding zero waste. Terry benar-benar menghindari plastik; sedangkan zero waste menghindari plastik, tetapi sebagian masih menggunakan plastik yang reusable. Biasanya, zero waste masih mengumpulkan sampah yang tidak terurai dalam sebuah toples. Inti dari keduanya sih sama-sama menolak plastik karena efeknya tidak bagus untuk kesehatan manusia dan bumi.

Saya tahu bahwa sampah plastik itu memang sulit diurai dan memiliki dampak buruk terhadap kehidupan bumi. Namun, dulu-dulu, saya belum aware dengan masalah beginian hingga akhirnya saya bertemu dengan Lauren Singer, Bea Johnson, dan Beth Terry. Ada yang menyebutkan bahwa Indonesia darurat sampah (bisa dibaca artikel di Kompas atau National Geographic). Produksi sampah plastik di Indonesia termasuk peringkat kedua di dunia setelah Cina. Menurut Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah, yang dikutip oleh CNN Indonesia, lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menit dan 50% plastik tersebut hanya sekali pakai, langsung buang; hanya 5% yang benar-benar bisa didaur ulang. Ke manakah sisanya? Konon, hampir sebagian besar limbah/sampah plastik itu dibuang ke laut. Di salah satu dokumenter yang pernah diterbitkan Vice, sang reporter diajak ke tengah laut untuk meneliti kondisi air laut. Nyatanya, di tengah lautan antah-berantah sana, limbah plastik pun masih ditemukan, mengapung-apung di lautan luas. Kalau begitu, saya kepikiran dengan hewan-hewan di laut, apakah yang akan mereka makan jika laut pun tercemar oleh limbah plastik. Pernah lihat foto jasad burung yang di perutnya berisi banyak produk plastik, kan?

Gambar dari sini

Awal tahun 2016, Pemprov DKI Jakarta membuat peraturan baru mengenai pembatasan penggunaan kantong plastik di berbagai toko retail (supermarket). Pembatasan tersebut konon bisa menekan penggunaan kantong plastik sekitar 20—30%, tetapi peraturan tersebut dicabut karena dasar hukumnya belum jelas dan ke manakah uang Rp200 itu digunakan secara pembeli tentunya sudah dikenakan pajak dalam belanja. Ditambah lagi, peraturan tersebut tampaknya tidak merata di setiap lini karena plastik masih secara bebas digunakan di pasar-pasar tradisional. Bahkan, kalau dipikir-pikir, penggunaan kantong plastik di pasar tradisional itu cenderung lebih royal dibanding di supermarket.


Pembatasan penggunaan kantong plastik mungkin bisa dijadikan langkah awal untuk menerapkan gaya hidup bebas sampah. Memang tidak harus langsung banting setir berubah menerapkan gaya hidup ini karena pastinya butuh proses dan pembelajaran. Tapi, apakah benar-benar bisa?

Seharusnya, pertanyaannya bukan “benar-benar bisa”, tapi “mau enggak”. Mungkin itu balik lagi ke diri masing-masing. Dari apa yang saya pelajari, zero waste lifestyle itu gampang-gampang susah. Apalagi jika barang yang kita mau itu dikemas oleh plastik dan rasanya enggak mungkin menemukan barang itu tidak dikemas dengan plastik. Ditambah lagi, di sini enggak ada supermarket yang mengusung sistem bulk seperti di Amerika Serikat. Tapi, seharusnya ini bukan kekhawatiran karena Indonesia masih punya banyak pasar tradisional yang penjualnya cukup mengerti bahwa kita membawa kantong belanjaan sendiri walaupun mereka cukup royal dalam memberikan kantong plastik. Menurut saya, pasar tradisional menjadi salah satu solusi untuk menerapkan zero waste.

Bagaimana dengan yang enggan ke pasar tradisional karena pasar tradisional itu kesannya jorok dan bau? Untuk beberapa daerah, pasar tradisional sudah diubah menjadi pasar tradisional yang cukup nyaman bagi pembeli, istilahnya pasar modern. Di pasar jenis ini, biasanya pedagangnya dibuat lebih rapi, tempatnya pun lebih nyaman, enggak bau dan enggak jorok. Kalau enggak mau juga ke pasar jenis ini, bisa datang ke tukang sayur. Mungkin ini alternatif lain untuk belanja kebutuhan sehari-hari, tanpa harus ke pasar. Biasanya tukang sayur mirip-mirip penjual di pasar, barang jualannya beragam, tetapi muat untuk gerobaknya.

Jika enggak mau banget ke pasar atau ke tukang sayur, ya harus ke supermarket. Tentunya di supermarket ini lebih nyaman dibanding pasar. Variasinya juga banyak banget, mulai dari yang berkemasan hingga yang curah. Kalau mau menerapkan zero waste, tentunya pilih yang curah yang kita kemas dengan kantong yang kita bawa dari rumah. Di Hypermart, model curah begini lumayan bervariasi, mulai dari sayuran, buahan, hingga bumbu dapur. Dan, sepertinya hal yang sama juga berlaku untuk supermarket besar lainnya.      

Untuk menuju zero waste, saya sudah mengganti kantong plastik dengan reusable bag yang terbuat dari bahan. Mungkin ini adalah hal mendasar untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Memang kantong plastik bisa digunakan beberapa kali, tapi tetap saja tidak tahan lama seperti tas kanvas. Saya juga mengurangi penggunaan styrofoam yang memang tidak bagus untuk kesehatan tubuh karena zat kimia yang terkandung di dalamnya, selain ia sangat mencemari lingkungan. Styrofoam itu saya ganti dengan tempat makan yang bisa digunakan berkali-kali. Begitu juga dengan air minum kemasan yang saya ganti dengan wadah minum yang juga bisa digunakan berkali-kali. Ini juga mencakup sendok, garpu, dan sedotan. Semuanya termasuk kategori reusable walau ada yang masih terbuat dari plastik. Saya sering beli kue yang 2000-an dengan wadah ini sehingga enggak perlu kantong plastik. Saya juga pernah beli nasi goreng dengan wadah makanan, tapi saya lupa kalau kerupuknya dibungkus plastik. Untuk wadah minum, saya pernah beli es medan di pinggir jalan dengan wadah ini. Bahkan, McDonald menerima wadah minum saya ketika saya membeli McFlurry rasa oreo. Jadi, hal penting yang selalu saya bawa ketika saya pergi adalah wadah makan dan minum lengkap dengan sendok dan sedotan. Enggak perlu diisi dari rumah, cukup dibawa aja, siapa tahu saya akan mampir di warung untuk beli makanan atau minuman.

Nah, kalau dipikir-pikir, menjadi zero waste di Indonesia tidak perlu takut kelaparan karena sepertinya sih penjual makanan cenderung mau menerima wadah yang kita bawa dari rumah. Kalau ada yang enggak nerima, lebih baik sih enggak usah dibeli. Idealnya begitu :D.

Yang masih menjadi ganjalan di pikiran saya mengenai zero waste ini adalah perlengkapan mandi. Bagaimana cara mengurangi limbah plastik pada perlengkapan mandi? Browsing di google, saya menemukan tips yang kebanyakan dibuat oleh orang bule. Mengikuti tips orang-orang bule ini gampang-gampang susah karena bahan-bahan yang biasanya ada di negeri mereka, belum tentu ada di negeri ini. Misalnya, vinegar yang saya terjemahkan sebagai cuka. Vinegar di sana dikemas dalam botol kaca, sedangkan di sini hampir semua cuka dikemas dalam wadah plastik sehingga saya perlu mikir untuk membelinya. Mau enggak mau, berburulah ke supermarket besar atau supermarket yang banyak menjual barang impor, seperti Ranch Market. Di Hypermart, vinegar seperti yang digunakan oleh Bea Johnson dijual di sana dalam botol kaca kecil. Soal sabun dan sampo, solusi untuk saat ini adalah membeli produk mandi yang botol plastik bekasnya bisa dikembalikan ke toko, seperti Body Shop. Tapi, yaa, kita sama-sama tahu bahwa belanja di Body Shop untuk orang Indonesia seperti saya yaa lama-lama bisa tekor juga. Untuk beberapa hal, memang saya tetap menggunakan Body Shop, terutama face wash karena sifatnya cocok-cocokan, apalagi untuk kulit wajah saya yang sensitif. Tapi, hanya untuk beberapa produk, enggak semua produk :D.

Alternatif lain yang sudah saya lakukan adalah membeli sabun mandi dengan bungkus kertas, tanpa plastik, dengan merek Bee & Flower. Sabunnya bukan cair, tapi batangan dan konon impor dari Cina. Sabun ini sepertinya termasuk jarang yang jual :D. Dulu, Hypermart pernah menjual sabun ini, tetapi akhir-akhir ini sudah tidak lagi. Untuk sampo, karena sampo itu sifatnya cocok-cocokan dan saya enggak tahu bagaimana memproduksi sampo sendiri, saya pun mencoba the no poo method—keramas tanpa sampo. Metode ini merupakan alternatif bagi yang ingin mengurangi sampah plastik. Nah, kalau mau tahu jelasnya metode ini, sila baca di sini.

Menjadi zero waste itu enggak hanya memikirkan daur ulang sampah seperti yang sering dipahami banyak orang. Mungkin sama seperti konsep go green yang juga sering dipahami orang sebagai serbahijau. Padahal, enggak harus seperti itu juga. Beberapa bulan yang lalu, saya mendengar konsep zero waste Indonesia (Indonesia tanpa sampah) sudah mulai digaungkan. Di Sidoarjo, gaungnya sudah mulai terdengar melalui zero waste Sidoarjo. Indonesia juga sudah memiliki penggerak yang mengusung konsep zero waste ini yang dapat ditelusuri melalui akun instagram (at)zerowasteid. Melalui akun tersebut, saya ketemu dengan akun (at)bebassampahid dan (at)zerowastenusantara. Menarik banget, bahkan ada forum diskusi di facebook yang bicara mengenai gaya hidup ini. At least, melalui forum seperti ini, yang ingin belajar untuk menjadi zero waste bisa saling diskusi dan bertanya.   

Ya, harus saya akui, menjadi seseorang yang memegang prinsip zero waste itu enggak semudah membalikkan telapak tangan (tsaelaaah). Sepertinya sih butuh belajar mengenai produk-produk yang ramah lingkungan. Namun, saya berpikir, bagaimana saya akan belajar kalau saya tidak memulai aksi untuk lebih aware dengan masalah sampah/lingkungan. Jadi, kembali lagi ke judul artikel ini, mungkinkah menjadi zero waste di Indonesia? Mungkin iya dan mungkin tidak.

Ribet? Tergantung dari cara pandang kita. Jujur, hal ini malah menjadi tantangan buat kita, terutama saya :D. Kalau untuk orang-orang yang praktis, gaya hidup kayak gini ribet dan nambah-nambah kerjaan. Tapi, kalau untuk orang yang mau belajar hal baru dan peduli lingkungan, mungkin gaya hidup ini bisa dikatakan tantangan. Saya adalah orang yang sangat praktis dan ketika menemukan gaya hidup seperti ini, saya malah tertarik untuk belajar. Memang, sih, saya belum 100% zero waste, tapi saya sudah bisa mengurangi konsumsi plastik dan styrofoam saya selama ini. Enggak perlu mengganti semua kemasan plastik yang ada di rumah dengan toples kaca atau sesuatu yang berbau stainless. Sepanjang kemasan plastik merupakan produk reusable, seperti wadah makan dan minum saya, kita sudah memberikan kontribusi untuk mengurangi pemakaian barang sekali pakai (disposal). Nah, ke depannya, secara pelan-pelan, kita akan tertantang untuk belajar menjadi lebih bijak dalam penggunaan plastik.

Enggak mau, kan, ngeliat tempat pembuangan sampah akhir menjadi luber ke depannya gara-gara kita tidak bijak menggunakan plastik? Memang, soal tempat pembuangan sampah akhir ini bukan urusan kita, tapi dampaknya akan kena ke generasi penerus kita. Enggak mau, kan, dianggap sebagai pewaris sampah?

Yuks, menjadi lebih “hijau” dan lebih bijak untuk bumi kita 😊.

You Might Also Like

0 komentar